Blak-ting-pong. mau goyang? Kaset jaipongan dalam waktu singkat menyerbu pasar mutu
rekaman rata-rata kurang baik, tapi semuanya "asli". baik
musik maupun tarinya memikat. (ms) |
JAIPONGAN bukan lagi kepompong. Ia sudah jadi kupu dengan warna
seenak yang bikin. Rekamannya bertumpuk-tumpuk di toko kaset.
Diproduksi oleh macam-macam perusahaan, menampilkan penyanyi,
juru kendang dan grup yang entah dari mana asalnya. Ada Si
Mawat, ada Si Bontot, ada Si Betok. "Blak-ting-pong,
blak-ting-pong," begitu bunyinya.
Membanjirnya kaset musik Sunda itu tak jelas benar sebabnya
permintaan pasar yang tinggi atau hanya kelatahan para produser.
Yang jelas, hampir pada setiap sampul kaset tercantum slogan
"Jaipongan Asli". Entah yang mana pula yang palsu. Tapi memang,
di samping yang "asli", mupcul corak sajian baru. Antra lain
"Reog Jaipong" dan "Mandarin Jaipong". Lhah . . .
Selintas keriuhan itu mengingatkan pada bisnis musik pop
beberapa tahun lalu. Cuma pada yang satu ini belum muncul
keroncong jaipong atau jaipong melayu atau jaipong Jawa atau
Batak ataupun Padang. Apalagi kasidah Jaipong. Mungkin akan
segera dibikin? Tapi, ya, untuk apa?
Jaipong yang asli--yang beken sesudah bentuk tarinya direka-reka
oleh Gugum Gumbira dari Bandung--barangkali betul kini populer.
Setidak-tidaknya kalangan bukan Sunda telah mengenalnya lewat
berbagai pemberitaan. Tohmusik rakyat Jawa Barat yang lain
semacam Cianjuran atau Degung--yang malah dibawakan oleh penari
jaipongan, yang kini populer, Tati Saleh --tidak tergeser.
Tapi harus dikatakan, jaipongan -baik musik maupun
tarinya--memang memikat. Pada musiknya, tak pelak lagi, pukulan
kendangnya yang dominan punya daya rangsang tinggi bagi seluruh
saraf, membetot tubuh untuk bergerak. Sedang lirik lagunya
rata-rata dibikin untuk memancing asosiasi erotik. Apalagi
karena hal itu merupakan bagian spontan dari seni populer
kalangan kebanyakan. Sementara tariannya, dengan ciri 3G yang
terkenal itu (gitek, geyol, goyang), syuuur benar. Asssik Iho?
Para penabuh kendang, karena itu, selalu dijadikan "jago". Di
samping nama pesindennya, nama mereka mendapat kehormatan untuk
dipajang. Kemampuan mereka jelas berbeda-beda. Tapi kelompok
yang nampak menonjol dalam segi jumlah kaset rekamannya agaknya
Suwanda Group dan Karawang Group.
Sayang, sebagaimana disain sampulnya, teknis rekaman kaset-kaset
itu rata-rata kurang bagus. Terkesan asal-asalan dan
terburu-buru. Seperti takut tak digoyangkan orang. Duit, duit!
Siapa mau goyang -- eh, duit?
|