Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XI/09 - 15 Januari 1982
   
Ilustrasi

Kiai melihat gerhana

Perhitungan terjadinya gerhana bulan, matahari, penanggalan, cuaca di kalangan umat islam. ilmu hisab ini hanya dikuasai oleh kiai-kiai tua, santri-santri muda ternyata kurang berminat. (ils)

TANGGAL 11 Juni 1983 nanti akan terjadi gerhana matahari total
di Indonesia. Artinya, di waktu siang hari beberapa daerah di
Indonesia akan gelap gulita--antaranya Semarang, Yogyakarta dan
Bali. "Malam" di siang hari itu akan dimulai pada pukul 10 lebih
35 menit, 53 detik sampai pukul 12 lebih 39 menit 3 detik Waktu
Indonesia Bagian Barat (WIB). Itu perhitungan seorang astronom
Jerman. Tapi kejadian itu juga telah diperkirakan K.H. Zubair.

Bekas Rektor IAIN Walisongo Semarang itu sekarang memimpin
Pondok Pesantren "Karya Pembangunan" di Desa Tingkir Lor,
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. "Saya dengar orang Amerika,
Australia dan Jepang akan datang menonton gerhana itu di
Indonesia, karena itu saya hitung tahun, tanggal dan jam
datangnya gerhana itu secara tepat," ujar K.H. Zubair, 73 tahun.

Kiai yang pernah menjadi Ketua Mahkamah Tinggi Islam di Sala
ini, sejak muda memang senang membuat perhitungan datangnya
gerhana matahari dan bulan. Ia juga ahli menentukan kiblat dan
waktu sholat dan tentunya perhitungan kalender.

Perhitungan cuaca, saat gerhana, hari dan bulan, dilakukan
berdasarkan ilmu falaq. Ilmu ini sudah dikenal umat Islam sejak
abad-abad pertama kelahiran agama Islam. Segi matematis ilmu ini
disebut ilmu hisab, untuk penghitungan penanggalan tahun Hijrah
yang dihitung dari peredaran bulan dan matahari.

Barat ilmu ini disebut astronomi. Hanya dalam menghitung
penanggalan itu, astronomi melihat peredaran matahari dengan
bumi.

Untuk menyusun berbagai penanggalan berdasar ilmu falaq itu,
Zubair menggunakan rumus dan dalil. Ia juga dibantu berbagai
peralatan, antara lain berupa alat menyerupai timbangan yang
menggambarkan peredar matahari, dunia dan bulan. Bundaran
bulan berwarna putih, sedang bundaran dunia lengkap dengan
petanya Yang paling besar adalah matahari, diberi lampu merah.
Ketiga planet itu ditegakkan di atas kotak 40 x 40 cm. Bila
kenop kotak berbaterai itu ditekan, keiga bundaran itu akan
berputar seperti perputaran planet--dan matahari
pun-menyorotkan sinarnya.

Dengan alat-alat itu sang kiai mudah memperhitungkan dengan
tepat saat terjadinya gerhana. "Bila bulan tertutup bumi, tidak
akan ada sinar matahari, artinya terjadilah gerhana matahari,"
ujar K.H. Zubair. Menurut kiai ini kalau dilanjutkan, ilmu falaq
juga bisa meramal cuaca seperti ramalan Pusat eteorologi dan
Geofisika yang sering diumumkan di TVRI. "Tetapi saya
tidakmendalami ilmu cuaca dan mega," katanya.

Bahkan, ilmu itu bisa juga digunakan untuk meramalkan nasib
manusia. Dengan memperhitungkan keadaan bintang-bintang pada
saat seseorang lahir, bisa diramalkan saat mati dan saat
tibanya rezeki orang itu. "Tetapi agama melarang saya bekerja
seperti ahli nujum itu dan saya tidak mau," kata Zubair yang
pernah menulis buku berjudul "Alkhulasoh Alwafyab Filfalak
Biloga timyah".

Petani

Seperti juga K.H. Zubair, K.H. Turaechan di Kudus, setiap hari
sibuk mengotak-atik alat-alat membuat penanggalan Islam,
nasional, lawa dan mangsa jawa (perhitungan cuaca).

Semenjak tahun 1940, K.H. Turaechan bergelut dengan alat-alat
yang serba sederhana. "Walaupun saya tidak bisa menjelaskan cara
kerja alat-alat itu --karena sangat rumit," kata Turaechan.

Menghitung penanggalan Islam (tahun Hijrah) dan mangsa jawa,
menurut Turaechan, lebih rumit dari menyusun penanggalan Jawa
dan nasional. Kedua penanggalan yang terakhir ini bisa
diselusuri dari penanggalan tahun-tahun sebelumnya. "Tetapi
penanggalan Islam dan penanggalan mangsa jawa diperhitungkan
berdasarkan peredaran matahari dan bulan," ujar Turaechan.
Karena itu pula setiap menjelang Ramadhan, dibuat perhitungan
baru untuk menentukan kapan mulai puasa--tidak dapat hanya
dengan menyesuaikan tanggal/hari puasa pada tahun sebelumnya.

Penanggalan mangsa jawa, rumitnya, karena setiap bulan hanya
berumur 24 hari, tapi bisa pula 43 hari. Mangsa jawa biasanya
menentukan curah hujan Intuk patokan bagi petani. "Itu tidak
bisa diterangkan seperti ramalan cuaca di TVRI," kata Turaechan
lagi.

Kalender bikinan Turaechan yang memuat penanggalan nasional
sampai ke penanggalan mangsa jawa, lengkap dengan jadwal dan
waktu sembahyang serta gerhana (kalau ada dicetak dan beredar
setiap tahun. "Selama ini hasil penyusunan saya selalu tepat,
belum pernah meleset," ujar Turaechan yang mulai belajar iknu
itu di Madrasah Taswikutullah Salawid Kudus tahun 193.

Suatu kali, pada tahun 1975, perhitungannya pernah berbeda
dengan ramalan Pusat (Dinas) Meteorologi dan Geofisika tentang
gerhana matahari. Ia memperhitungkan gerhana akan terjadi pukul
12.00 sementara Dinas Meteorologi menyebutkan pukul 09.00 pagi.
Perbedaan itu --menurut cerita Turaechan -- sempat dipertaruhkan
orang-orang di Surabaya. "Ternvata yang m nang yang memilih
perhitungan saya," kata Turaechan, 66 tahun.

Menara Kudus

Kiai yang dikenal sederhana ini, merasa cemas juga karena belum
ada calon-calon penggantinya. Tetapi ia masih mengharapkan,
"mudah-mudahan ada, Allah yang menentukan nanti."

Kurangnya minat mempelajari ilmu falaq. dan ilmu hisab di
kalangan santri zaman sekarang, juga tercermin dari omset
penjualan rubu'.

Rubu' memuat rumus-rumus untuk menghitung perjalanan bulan dan
matahari. Bentuknya seperempat lingkaran dari kertas dan salah
satu sisinya berukuran 25 cm diikat dengan benang. Ujungnya
diproyeksikan pada garis-garis skala untuk menghitung tanggal
yang diinginkan.

Toko Kitab "Menara Kudus" di Surabaya, satu-satunya pedagang
rubu' mengeluh: "Dalam setahun laku 10 lembar saja sudah bagus,"
katanya. Pada waktu dulu sekitar tahun 1925, "omsetnya bisa 300
buah sehari," ujar pemilik toko itu.

Harganya pun murah --sejak pertama diterbitkan (1925) sampai
sekarang tidak lebih dari Rp 50. Agar bentuknya lebih menarik,
sekarang kertas itu ditempelkan pada kayu jati yang diperlitur
rapi dengan harga Rp 1.700.

Pembeli yang diharapkan terdiri dari santri-santri pondok
pesantren Jampes, Kediri (Jawa Timur), ternyata tidak tertarik
juga. K.H. Ichsan pemimpin pesantren Jampes yang terkenal dengan
ilmu falaqnya itu membenarkan, kurangnya minat santri sekarang
untuk belajar falaq dan malas memakai rubu'. "Sekarang kan
banyak yang ikut pengumuman pemerintah saja, padahal belum tentu
benar," kata K.H. Ichsan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data