Risalah-risalah seorang bukan... Pengarang: abdurrahman wahid, jakarta, leppenas, 1981,
resensi: goenawan mohamad. (bk) |
MUSLIM DI TENGAH PERGUMULAN
Oleh: Abdurrahman Wahid,
Leppenas, 111 halaman, Jakarta, 1981.
KEGAWATAN menyiapkan pemikir. Jika kita melihat sepintas pohon
pemikiran sosial di Indonesia dewasa ini, akan nampak bahwa
dalam beberapa tahun terakhir cetusan pikiran yang menarik
kebanyakan dari kalangan Islam.
Mungkin karena tak banyak kalangan di Indonesia ini yang
mengalami apa yang dialami kalangan Islam: begitu intens
diliputi perasaan terdera. Ada rasa terdera oleh ketinggalan,
setelah sekian puluh tahun disepelekan penjajahan Barat dan
elite kebudayaan yang melanjutkannya. Ada rasa terdera oleh
kecemasan, melihat membanjirnya pengaruh luar dan mengecilnya
pengaruh sendiri.
Dalam situasi seperti itu, cendekiawan Islam di Indonesia pun
dituntut untuk menguras, dari dalam diri mereka, sumber
intelektual dan keimanan buat menjawab sejumlah pertanyaan
dasar.
Tentu saja ada jalan yang laim dilakukan sebagian orang: dengan
menegaskan lagi bahwa ajaran agama sudah lengkap, dan segala
jawab sudah tinggal memungut dari sana Tapi khususnya di
Indonesia, jalan itu sebenarnya tak teramat gampang.
Di sini pengaruh pemikiran Marxisme pernah begitu kuat, dan
Islam tak bisa mengelakkannya. Riwayat Sarikat Islam sebelum
kemerdekaan menunjukkan itu. Perlunya pengajaran Marxisme di
kalangan Himpunan Mahasiswa Islam di zaman Demokrasi Terpimpin
juga membuktikan itu. Mau tak mau, para cendekiawan Muslim pun
dituntut untuk dua hal: mempertahankan identitas Islam mereka,
dan sekaligus menawarkan pemikiran alternatif.
Bungkam
Demikian juga halnya setelah Marxisme kena bungkam, dan ideologi
dipandang dengan mata setengah terpicing, dan
kenyataan-kenyataan menuntut orang berbicara tentang sikap
pEagmatis. Ketika kemudian dari semboyan "pragmatis" itu timbul
soal yang menyangkut nilai-nilai seperti keadilan dan
keserakahan, Islam pun seakan ditantang untuk ikut menjawab:
sesuatuyang konsepsional, bukan cuma slogan, juga sesuatu yang
lain dari yang sudah ada.
Yang menarik ialah bahwa dalam beberapa tahun mutakhir, yang
lahir dari para cendekiawan Islam di Indonesia bukan cuma
ulangan pendekatan lama Secara mengejutkan beberapa kali
tercetus peninjauan kembali yang sebelumnya tak pernah
dilakukan, dan bahkan dalam tahun-tahun terakhir ini tak nampak
dilakukan di negeri Islam lain. Abdurrahman Wahid, 42 tahun,
dengan latarbelakang pendidikan pesantren yang kuat ditambah
pendidikan tinggi di Mesir dan Irak, termasuk salah satu
eksponennya.
Buku ini--yang menyandang judul yang sangat plastis--adalah
buktinya. Abdurrahman misalnya menyesalkan sikap yang
menggambarkan ciri, watak dan gaya hidup masyarakat Islam yang
"terlepas hampir seluruhnya dari konreks . . . kesejarahan."
Misalnya penggambaran masa emas di masyarakat di zaman para
sahabat Nabi: "Seolah-olah masyarakat waktu itu demikian
sempurna, menjadi "civitas dei" (kota Tuhan) yang hanya dihuni
para malaikat," demikian Abdurrahman.
Dari sini saja kelihatan bahwa Abdurrahman menampilkan suatu
sikap historis yang jarang kita dapatkan dalam pemikiran. Islam
di Indonesia sejak awai abad ini. Sikap ini memandang masa silam
dengan kesediaan melakukan kritil sejarah, seperti halnya.
memandang masa kini dengan tinjauan sosiologis. Kecamannya
kepada sejumlah mahasiswa Malaysia yang memperketat pandangan
agamanya justru setelah berbentrokan dengan dunia modern di
Barat, cukup ilustratif.
Barangkali karena--seperti terbukti dalam beberapa bab terakhir
kumpulan ini -- Abdurrahman tak asing dengan pendekatan empiris.
Penafsiran Kembali Ajaran Agama di Pedesaan Jawa misalnya,
membahas kasus yang terjadi di kalangan murid Thariqah
Qadiriyah-Naqsyabandiyah di desa-desa sekitar Jombang, Kediri,
Nganjuk, Maiang, Gresik. Islam dan Militerisme Dalam Lintasan
Sejarah misalnya mengungkapkan data sejarah yang menarik tentang
pertumbuhan konsep "tentara profesional" dalam sejarah Islam.
Di Mana Warna Islam?
Tentu saja kelebihan Abdurrahman bukan dalam ketrampilannya
sebagai seorang, peneliti. Ia pada mula dan akhirnya seorang
intelektual: seorang yang memandang masalah dengan tak merunduk.
Ia bukan seorang ideolog.
Namun jika demikian hainya, pertanyaan yang timbul ialah: lalu
di mana warna -- atau bendera - Islam daiam pikiran-pikirannya?
Apa bedanya dia dengan yang oleh sementara kalangan Islam
disebut sebagai "sekularis"?
Bagi Abdurrahman Wahid agaknya kata "sekularis" itu sendiri
suatu hasil kekaburan pengertian, yang hanya dimanfaatkan untuk
menggertak dan mematikan semangat intelektual yang jujur. Dan
tentang warna atau bendera? Mungkin itu lak diperlukannya benar.
Pandangannya tentang kesenian Islam bisa dtarik sebagai
contoh--khususnya tentang ludruk: "Tidak akan pernah ada pesan
agama yang langsung dapat ditemui dalam mementaskan ludruk.
Tetapi, bukankah demokrasi adalah esensi kehidupan menurut
konsep kenegaraan Islam? "
- Dari sikap seperti itu Abdurrahman nampak yakin betul bahwa ia
sebenarnya toh berbicara sebagai seorang muslim ketika membahas
soal hak asasi dan kemiskinan. Ia mempercayai akal sehat manusia
dan kemerdekaan berpikirnya.
Dalam hal itulah buku ini mempunyai nilai tinggi, meskipun kita
bisa tak bersetuju kepada isinya. Yang mungkin perlu kemakluman
pembaca ialah tentang bahasa Abdurrahman yang di sana-sini
cenderung abstrak. Risalah-risalah dalam buku ini nampaknya
ditulis dengan batas ruang dan waktu, dan karena itu kurang
diperkaya dengan contoh.
Goenawan Mohamad
|