Perusahaan, Tanpa Keuntungan? Kesulitan air bersih di beberapa kota di luar jakarta (Banda Aceh, Palembang, Pontianak). Para pelanggan mengeluh. Sementara PAM menderita kerugian, pdam bandung mendapat
untung. (eb) |
PULUHAN becak bermuatan jeriken antre di depan bak air Jl. Taman
Sari, Banda Aceh. Sambil menunggu giliran, pengemudinya duduk
bergerombol di bawah pohon akasia, berbincang-bincang. Mereka
antre air.
Seyogyanya antre air tidak terjadi lagi, setidaknya sejak proyek
air bersih Lambaro diresmikan Presiden Soeharto Juni silam.
Tapi, di sinilah letak masalahnya, Lambaro tidak otomatis jadi
juru selamat.
Proyek yang bisa mengalirkan air 250 liter per detik
itu--kapasitas yang sebenarnya cukup untuk 80.000 penduduk di
ibukota Provinsi DI Aceh--sampai sekarang hanya dapat
dimanfaatkan 6 jam saja sehari. ltu pun hanya melayani 3.700
rumah. Apa yang terjadi?
"Pipa air bersih belum lagi masuk ke kampung kami," ucap Bahrul,
penduduk Kampung Keudah yang membayar Rp 75 untuk tiap jeriken
air yang terpaksa dibelinya. Pilihan lain memang tidak ada. Air
sumur di kampungnya keruh dan asin.
Buyung Amri, seorang pedagang kecil di Kampung Lampaseh, tiap
hari bahkan membayar Rp 500 untuk air minum. Berarti satu bulan
ia menghabiskan Rp 15.000. Padahal Drs. Hasballah, Direktur PDAM
Banda Aceh, merencanakan tarif terendah rata-rata untuk
pelanggan cuma Rp 2.000 per bulan. "Saya kira itu sudah wajar,"
ujar Hasballah yang sampai kini masih bingung bagaimana jaringan
pipa PDAM bisa diperluas, agarjumlah pelanggan segera bertambah.
Ini penting, karena hanya dengan 8.000 lebih pelanggan, PDAM
baru bisa memetik keuntungan. Sedangkan kondisi PDAM kini cukup
kering kerontang: tiap bulan rugi Rp 14 juta. Kerugian terus
berlanjut, meskipun Lambaro dapat mensuplai seluruh kota.
Keruwetan bukan lagi pada debit air, tapi justru pada jaringan
pipa yang sangat terbatas itulah. Untuk memperluas jaringan,
PDAM terang tidak mampu. Maka diharapkan agar Direktorat
Penyehatan Dirjen Cipta Karya yang mengelola Lambaro,
memperjuangkan anggaran ke Pusat, khusus untuk memperluas
jaringan. Kalau berhasil, "akan beres semuanya nanti," kata
Hasbullah. Ia mengharapkan kelak, mulai tahun 1984, tidak akan
ada lagi defisit.
Tapi sebegitu jauh harapan masih seret. Sementara itu Ir.
Alizar, pimpinan proyek Lambaro, mulai tidak sabar. Soalnya PDAM
belum juga akan mengelola Lambaro, padahal Alizar sudah nyaris
kering dana. Sekarang, terpaksa ia menyisihkan Rp 8 juta tiap
bulan untuk mengalirkan air Lambaro ke rumah pelanggan--padahal
tagihan air yang masuk cuma Rp 4 juta. "Proyek tidak punya dana
lagi," keluh Alizar, yang mesti menunggu saat penyerahan Lambaro
kepada PDAM.
Pihak Pemda Kodya Banda Aceh nampaknya masih ingin menunda.
Mengapa? Walikota Drs. Jakfar Ahmad cenderung agar PDAM lebih
dulu melancarkan penertiban langganan.
Pelanggan memang di mana juga punya tendensi sama: tidak mau
cepat membayar. Ini misalnya terjadi di Padang. Dengan tarif
terendah Rp 30 per m3, para pelanggan toh banyak menunggak.
Beban defisit mulai terasa berat bagi PAM Padang, hingga
diputuskan untuk menaikkan tarif Rp 50 per m3 meskipun tarif
ideal menurut Dirut PDAM Padang Eka Sembiring adalah Rp 80 per
m3. Mendengar ini warga kota mengeluh. Padahal mereka, menurut
catatan PAM, sudah menunggak Rp 4 juta per bulan. Mereka tidak
sendiri. Instansi pemerintah juga menunggak Rp 2 juta sebulan.
Apakah kerawanan yang sama juga menimpa perusahaan air minum di
kotakota lain?
Ternyata tidak. PDAM Bandung yang resmi berdiri tahun 1974,
telah membuktikan diri sehat. Dari Rp 600 juta, pendapatannya
melonjak jadi Rp 2 milyar dengan keuntungan Rp 100 juta setahun.
"Ekor Tikus"
Adapun tarif air di Bandung dibagi atas lima golongan: termurah
Rp 30 per m3, termahal Rp 175. Tarif pemasangan minimal Rp
43.000, maksimal Rp 283. 000. Masyarakat yang tak mampu dilayani
lewat 200 keran umum dan 232 MCK. Untuk melancarkan roda
perusahaan, PDAM Bandung mempekerjakan 600 karyawan dengan gaji
minimal Rp 45.000,maksimal (untuk tingkat Kepala Bagian) Rp
200.000.
Tapi keluhan pelanggan bukan tidak ada. Tercatat sampai 60 tiap
hari ratarata keluhan masuk. Pada umumnya mereka memprotes
karena tarif tiba-tiba melonjak, air menetes terlalu kecil, atau
pipa pecah.
"Saya menduga administrasi PDAM masih semrawut," ucap
Djlemprong, 20 tahun, mahasiswa ITs yang sedang mangkal di
loket, mengadukan tarif yang tiba-tiba melonjak. Didi Djunaidi,
81 tahun, juga meragukan tarif yang pernah Rp 15.000, dan pernah
juga Rp 5.000. Nyonya Hasanah, 40 tahun, mengeluh karena pipa
ledengnya yang baru terpasang hanya mengeluarkan air sebesar
"ekor tikus", itu pun di malam hari. Dirut PDAM Bandung Eddy
Kurniadi menampung semua keluhan itu. Dia katanya, akan
mengganti pipa-pipa yang rusak.
Adapun di Palembang, pelanggan tidak lagi mengeluh. Mereka
hampir putus asa. Sebanyak 24.000 pelanggan PAM Tirta Musi di
kota ini, tiap kali mengalami penggiliran air, sehari ada,
sehari tidak. Di banyak tempat, air bahkan tidak menetes sama
sekali.
Terpaksa pelanggan seperti A Hien, 39 tahun, memanfaatkan pompa
Sanyo, sedangkan Subandi, 42 tahun di Sekip Tengah, menggali
sumur. Ketidaklancaran ini bersumber pada debit air yang
berkurang dan peralatan yang sudah terlalu tua. Akibatnya,
kawasan seberang Ulu, sejak lima tahun terakhir tidak kebagian
air.
Namun, akhir bulan ini direncanakan uji coba proyek pengadaan
air baru di Jl. Rambutan Ujung dengan kapasitas 1. 550 liter per
detik. Biaya proyek seluruhnya diperhitungkan hampir Rp 16 juta,
plus 30 juta gulden.
Sekarang ini, tarif terendah Rp 64, tertinggi Rp 200. Pendapatan
PAM Tirta Musi setahun Rp 800 juta, pas-pasan untuk menutup
biaya operasional. Perusahaan ini sebenarnya bukan tidak ingin
mengecap untung, tapi untuk menaikkan tarif rupanya ingin
menunggu tahun 1983, saat air sudah pasti mengucur terus dalam
24 jam.
Ini agaknya tidak mustahil. Jaringan pipa besar kecil sudah
terentang dan terjulur ke seantero kota. Mungkin karena itu
Dirut Tirta Musi, Ir. Bainon Bustam, optimistis, perusahaannya
dapat memblayai dirl sendiri.
Tidak Basah
PDAM Pontianak, menurut Direktur Tekniknya, Hasanusi BE, juga
sanggup membiayai diri sendiri. "Cuma untuk berkembang memang
terasa sulit. Tarifnya juga sudah maksimal," ujarnya
menambahkan.
Tapi hari baik untuk perusahaan ini segera tiba karena adanya
proyek air bersih baru berkapasitas 220 liter per detik yang
segera siap pakai. Menelan biaya Rp 3 milyar lebih, plus bantuan
Prancis Rp 4 milyar, jaringan pipanya tersambung ke 2.800 rumah,
65 keran umum dan 25 keran kebakaran. Itu semua pelanggan baru,
di samping 6.000 pelanggan lama. Sedangkan kapasitas airnya bisa
melayani 12.000 pelanggan dan menjamin kebutuhan Pontianak
selama 10 tahun.
Tidak seperti Banda Aceh yang ingin mencobakan tarif rata-rata,
PDAM Pontianak menetapkan empat jenis tarif yang bergerak dari
Rp 50 sampai Rp 300 per m3. Dengan 100 karyawan, PDAM Pontianak
bisa diharapkan sehat -- meskipun Hasanusi merisaukan pipa
tertier, yang sejak tahun 1962 belum pernah diganti.
Sesuai dengan fungsinya yang mengemban kepentingan rakyat
banyak, PDAM -- berbeda dengan Perum Telkom misalnya--tidaklah
mungkin mereguk keuntungan terlalu basah. Tapi haruskah merugi
dan dikelola setengah hati?
|