Model Jepang Atau Biaya Kematian akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia
mengkhawatirkan. berbagai seminar & penelitian tentang
kecelakaan lalu lintas telah dilakukan. sistem jepang dalam
menurunkan jumlah kecelakaan baik. |
SIMPOSIUM, seminar dan penelitian tentang kecelakaan lalu lintas
tak habis-habisnya--seperti halnya kecelakaan itu sendiri. Tapi
pernyataan Direktur LLAJR, Herfien M.S. bahwa di Indonesia
setiap hari rata-rata 32 orang tewas akibat kecelakaan di jalan
raya cukup mengkhawatirkan.
Ketika mengumumkan hasil penelitian LLAJR tentang kecelakaan di
berbagai tempat Indonesia awal bulan ini di Semarang, Herfien
juga mengungkapkan, pembunuhan di jalan raya itu 70% disebabkan
kecerobohan pengemudi. Tanpa menyebut latar belakang kecerobohan
itu, Direktur LLAJR meminta agar para pengusaha angkutan turut
mencegah pembunuhan itu.
Caranya? Antara lain dengan memperbaiki kesejahteraan para
pengemudi sehingga di setiap tikungan jalan mereka tidak merasa
dikejar pendapatan--seperti kebanyakan selama ini. Dan tak kalah
penting dari itu, hendaknya juga para pengusaha lebih
berhati-hati menyerahkan kemudi kendaraan kepada seorang sopir.
Artinya ketika menerima pengemudi, seorang pengusaha angkutan
hendaklah melakukan seleksi yang lebih ketat.
Sepuluh tahun yang lalu di Jepang tercatat 16.800 orang tewas
karena kecelakaan. Ini berarti tiap hari rata-rata jatuh korban
46 orang. Baru kemudian Jepang melancarkan kampanye 10 tahun
khusus untuk mengurangi kecelakaa lalu-lintas.
Menurut Kepala Bagian Operasi Distantas Mabak, Letkol Pol. Drs.
Sarrnan Agus, sepuluh tahun kemudian (1980) jumlah korban di
Jepang merosot 50%, cuma 8.200 orang per tahun. Padahal jumlah
kendaraan di sana meningkat luar biasa. Sekarang di Jepang untuk
tiap tiga orang tersedia satu kendaraan. Total ada Ik. 31 juta
kendaraan di Jepang.
Di Indonesia kini tercatat 4 juta lebih kendaraan bermotor. Tapi
untuk 126 juta penduduk Jepang siap sedia 24.000 polisi dan
147.000 kendaraan patroli.
Tapi 147 juta penduduk Indonesia hanya ditunggui 9.000 polisi
lalu-lintas, dengan 1.954 kendaraan patroli. "Target kami 3.854
kendaraan lagi," ujar Sarman sedikit prihatin.
Pejabat ini menilai sistem Jepang paling baik dalam usaha
menurunkan jumlah kecelakaan. Di sana misalnya, ujian SIM
diperketat, perlengkapan keselamatan jalan raya ditingkatkan
400%, penegakan hukum ditingkatkan 25% dengan mengikutsertakan
seluruh anggota masyarakat. Dan jumlah kendaraan dibatasi.
Caranya mudah, kendaraan usia 6 tahun ke atas dihancurkan.
Sementara itu keluargakerajaan tidak berpangku tangan. Putra
mahkota Pangeran Akihito menjadi Ketua Asosiasi Kecelakaan Lalu
Lintas dan menggalakkan kampanye agar masyarakat mengutamakan
keselamatan di Jalan raya.
Dua negara berkembang, Filipina dan Mexico mencatat angka
kecelakaan yang sedang-sedang saja. Tahun 1979 di Filipina
terjadi 61.104 kecelakaan dan 1.252 orang tewas di tempat. Tahun
1980 di Mexico terjadi 40.000 kecelakaan dengan korban tewas
6.000 orang. Di AS, negara paling maju di dunia, korban
kecelakaan tahun 1970 tercatat 1,3 juta (!) jiwa--dibanding
korban semua perang yang pernah ada hanya 1,1 juta.
Untuk Indonesia, di samping berbagai simposium dan penelitian,
apa yang dapat dilakukan agar kecelakaan menurun? Menhankam
menginstruksikan agal peraturan pemberian SIM ditingkatkan.
Sementara itu Polri, sejak tahun 1980 melancarkan kampanye dan
penegakar hukum lalu-lintas. Dalam jangka panjan direncanakan
program kejasama dengan pelbagai departemen, khusus untuk
menanggulangi kecelakaan secara terpadu.
Sangat Terbatas
ambatan untuk suksesnya rencana itu menurut Sarman, bukan
sedikit dan umumnya berada di luar jangkauan Polri. Tidak lupa
ia menyebutkan sanksi yang terlalu ringan, misalnya.
Keterangannya ini mengingatkan pada Maryan, sopir bis Flores
yang hanya divonis 4 tahun padahal akibat kelalaiannya 32 orang
tewas dan 18 menderita luka-luka.
Letkol. Pol. Drs. Moelyanto, Wadansatlantas Kodak Metro Jaya
lebih menyesalkan para pengendara sepeda motor yang enggan
memakai helm. "Ini penting sekali. Kematian umumnya disebabkan
oleh cedera di kepala," katanya geram. Dia juga jengkel pada
pejalan kaki (korban kecelakaan terbesar di Jakarta adalah
pejalan kaki) karena sering tidak mematuhi peraturan
lalu-lintas.
Beberapa hal lain juga membuat Hoeryanto tidak berbahagia.
Misalnya: jumlah personil polisi lalu-lintas sangat terbatas (di
Jakarta hanya sekitar 800 orang, Tokyo 700 orang), peralatan
sangat kurang (di Tokyo ada speed dan devised control) dan tidak
adanya sopan-santun di kalangan pemakai jalan. Tapi penertiban
tetap akan dilancatkan.
Tahun depan di Jakarta akan dilaksanakan pengontrolan SIM, juga
pengketatan ujian SIM. untuk menghindari SIM palsu, orang yang
bersangkutan harus datang sendiri dan langsung dipotret dengan
alat pboto license. Juga akan diperkenalkan point system,
semacam sistem menilai kemahiran pengemudi. Dengan membuat
lubang-lubang pada kartu SIM kesalahan pengemudi segera dapat
diketahui.
|