Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XI/26 Desember - 01 Januari 1982
   
Ilustrasi

Parutan Mentimun Daeng Napu

Ramuan buah mentimun daeng napu, mujarab untuk keluarga berencana, bisa juga untuk mendapatkan anak. Ramuan itu khusus untuk wanita, diminum setelah bersenggama.

TIAP malam Jumat, tamu yang bertandang ke pondok Daeng Napu agak
lain dari biasa. Mereka datang berpasangan--suami istri--untuk
meminta obat KB berupa ramuan buah mentimun yang diberi
jampi-jampi doa.

Setelah menunggu sebentar, pasangan itu kemudian meninggalkan
pondok Daeng Napu yang beratap rumbia berdinding papan di
Kampung Bumisagu, Palu. Tangan si istri menggenggam sebuah botol
berisi obat, sembari tersenyum malu-malu.

Rumah Daeng Napu, 48 tahun tak begitu sulit dicari. Lokasinya
terietak dekat kompleks perumahan pejabat di utara Kota Palu,
Sulawesi Tengah. Tamunya yang datang tiap malam Jumat tak
banyak, 3 atau 4 pasang suami istri.

Keahlian Napu membuat ramuan untuk KB (keluarga berencana)
memang masih jarang yang tahu. Sehari-harinya, lelaki kelahiran
Ujungpandang itu lebih dikenal sebagai tukang cat. Di bidang
pengecatan ini, Napu memang ahli, hingga ia dipercayai oleh
empat perusahaan yang selalu pengontraknya.

Karena itu kalau hari mulai malam saja ia berada di rumah.
Penghasilannya sebagai tukang cat pun lumayan. Tak lama lagi ia
akan pindah ke pondoknya yang lebih besar, yang dibangun di atas
tanah miliknya sendiri.

Ramuan untuk KB buatan Napu sederhana saja. Bahannya: tiga buah
mentimun, lada dan sedikit garam. Mula-mula mentimun -- mesti
dibawa sendiri oleh.tamunya -- diparut. Diperas, lalu dicampur
lada halus plus sedikit garam. Pekerjaan ini sering diwakilkan
kepada istrinya, walaupun untuk membacakan doa dan ayat-ayat Al
Quran, selanjutnya, harus dilakukan si Daeng sendiri.

Di Luar Nikah

Ramuan KB itu khusus untuk wanita. Diminum tak lama setelah
bersanggama. Cukup sebulan sekali, pada malam Jumat--tak ia
jelaskan mengapa tak boleh pada hari-hari lain. Syaratnya, mesti
sepengetahuan suami. Bila tidak, Daeng Napu tak menjamin usaha
menjalankan KB itu akan berhasil. Sebab itu ia menyarankan,
istri yang hendak minta ramuan obat KB sebaiknya ditemani
suaminya. Paling tidak, "ia disertai seorang saksi yang saya
kenal, yang tahu persis bahwa wanita itu direstui suaminya."
Ramuan ini juga dapat untuk menggugurkan kandungan yang belum
lewat waktu sebulan. Tapi Napu akan selalu menolak pengguguran
kandungan di luar nikah.

Obat Daeng Napu dianggap lebih praktis dibanding sistem pil,
yang harus diminum setiap hari. Atau memakai kondom yang oleh
sementara pasangan dinilai bisa mengurangi cita rasa. Langganan
Napu tak hanya rakyat kecil, tapi juga istri pejabat yang
sebenarnya bisa ikut KB dengan cara modern.

Sekali datang, tiap pasangan cukup menyediakan Rp 500, sebungkus
rokok dan sekotak korek api bagi Daeng Napu. Bila ada yang
memberi lebih, tentu tak ditolak.

Bagi yang ingin punya anak, Napu sanggup pula menolong.
Ramuannya tidak memakai mentimun, tapi cukup air putih yang
telah dibacai doa. Hanya, Napu enggan memberitahu, doa apa dan
ayat Al Quran mana yang dibacanya itu. Ilmu itu nampaknya khusus
baginya.

Ramuan obat KB Daeng Napu, bermula dari mimpi. Ketika berusia 18
tahun dan masih tinggal di Ujungpandang, katanya, dalam mimpi ia
melihat buah mentimun dan kitab suci Al Quran. Lalu katanya,
terdengar suara: mentimun dan ayat Al Quran (entah yang mana),
bisa mencegah kehamilan.

Pada mulanya Napu tak begitu menghiraukan mimpi itu. Sebab waktu
itu "kawin pun saya belum." Ia menikah dengan Sitti beberapa
tahun kemudian. Dan cepat saja istrinya hamil. Tiga tahun
berumah tangga, Sitti sudah melahirkan dua anak. Setelah itu,
hampir setiap tahun wanita itu hamil. Sayangnya, tak ada anak
mereka yang berumur panjang. Tujuh kali melahirkan, anaknya
yang paling lama bertahan hanya sampai usia 3 tahun. Yang lain
cuma berusia beberapa bulan, malahan ada yang cuma mencapai umur
2 minggu.

Napu dan Sitti kecewa. Maka, setelah menimbang-nimbang, mereka
memutuskan tak akan punya anak lagi. Nah, di sini Napu ingat
pada mimpinya waktu masih perjaka dulu. Tanpa menunggu lama, ia
mencari mentimun. Setelah diramu, Sitti disuruhnya meminum
begitu mereka selesai bersanggama.

Ternyata manjur. Istrinya tak pernah hamil lagi. Tapi sementara
itu berita Sitti tentang ramuan buah mentimun itu pun menjalar
dari mulut ke mulut, dan banyak yang ingin mencoba.

Beberapa pasangan yang pernah meminum ramuan itu, mengaku obat
itu cukup mujarab. Rusmini, 25 tahun, misalnya, ibu dari tiga
anak. Sejak melahirkan anak pertama ia meminum ramuan mentimun.
Kini anak sulungnya berusia 5 tahun. Anak kedua, jalan 3 tahun.
Keduanya laki-laki. Karena ingin punya anak wanita, untuk
sementara ia tak meminum ramuan Napu. Betul juga, tak lama
kemudian ia hamil. Anaknya yang ketiga adalah wanita, sesuai
yang ia harapkan. Selanjutnya, sebulan sekali ia meminum
mentimun Napu.

Masih Meragukan

Suatu ketika Napu didatangi seorang tetangganya dan meminta
ramuan mentimun. Suami tetangga itu ternyata tak setuju istrinya
ikut KB. Tapi karena sudah kenal, Napu merasa sungkan menolak
permintaan istri tetangga itu. Ramuan dibuat dan ternyata tidak
manjur. Beberapa bulan lalu, wanita itu melahirkan. 'Itu karena
tak direstui suaminya," kata Napu.

Cerita Roa, lain lagi. Wanita yang sudah 7 tahun menikah itu
belum juga dikaruniai anak. Ia minta tolong Daeng Napu dan
kemudian harapannya terkabul. Wanita itu melahirkan anak.

Bagaimanapun, kemanjuran ramuan mentimun itu masih bisa
dipertanyakan. Ramuan Daeng Napu memang mirip dengan kapsul
Contra Sperm (TEMPO, 21 November 1981) yang dibuat dari
saripati mentimun semprot. Hanya saja pemakaiannya agak lain.
Kapsul ini untuk ditelan suami sekitar setengah jam sebelum
bersanggama.

Penemuan dokter Michael F. Nassar dari Lebanon itu pun, masih
ada yang meragukan. Dr. Koentjoro Soehadi dari Seksi Andrologi,
Bagian Biologi FK Unair, Surabaya, misalnya, menyatakan, memang
banyak bahan tradisional yang berpotensi untuk obat KB. Tapi
keefektifannya "belum sampai tahap untuk manusia," kata
Koentjoro.

Keyakinan para pasien, nampaknya syarat mutlak kemanjuran ramuan
buatan Napu. Karena itu, selagi pihak BKKBN melakukan penelitian
terhadap Contra Sperm, tiap malam Jumat Napu tetap dikunjungi
penggemarnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data