Pelukis kursi goyang Pameran karya henry matisse di kyoto, jepang. karya-karyanya
dikumpulkan dari berbagai museum di dunia. ia dianggap pelopor
fauvisme. (sr) |
MEREKA, oleh kritikus Louis Vauxcelles, disebut kelompok
binatang jalang (les fauves). Tapi nama olok-olok itu akhirnya
justru dipakai untuk menamai gaya lukisan mereka: fauvlsme.
Tepat, agaknya. Fauvisme memuja warna habis-habisan. Bentuk,
kemudian seperti luluh jadinya. Ini bisa disaksikan di Museum
Senirupa Modern Kyoto, Jepang, akhir Mei kemarin sampai
pertengahan Juli nanti. Karya-karya Henry Matisse (1869-1954),
disebut sebagai pelopor fauvisme, dikumpulkan dari berbagai
museum di dunia, dipamerkan di situ -- setelah sebelumnya, Maret
sampai Mei, dipamerkan di Museum Senirupa Modern Tokyo.
Inilah pameran Matisse terlengkap yang mewakili seluruh fase
perkembangannya. Sekitar 200 buah -- terdiri dari 94 lukisan cat
minyak, sekitar 50 karya hitam putih (tinta, potlot atau etsa),
sejumlah patung dan beberapa kolase kertas berwarna, ditambah
beberapa karya permadani.
Dua lantai ruang pameran museum di Kyoto itu berubah menjadi
ruang pesta warna. Di sebuah sudut, Nymph dan Satyr (koleksi
Museum Hermitage, Rusia, karya Matisse 1909), mengubah suasana
di sekitarnya menjadi teduh.
Lukisan berukuran 120 x 90 cm itu didominasi warna hijau muda.
Gilanya, Matisse memberi warna dua figur di situ merah jambu dan
coklat muda -- sebuah kontras yang menurut teori seni zaman itu
boleh dikatakan tabu. Yang muncul kemudian bukan lukisan yang
bercerita tentang percintaan dua tokoh mitologi Yunani. Tapi
memang cerita tentang perpaduan warna merah jambu coklat muda
dan biru kehijauan yang dilatarbelakangi hijau muda.
Ruang, bagi kaum fauvis, pun bisa dibentuk dengan warna. Satu
karya Matisse yang terkenal, Jalan Masuk ke Kasbah, 1912,
koleksi Museum Pushkin, Moskow, membuktikannya. Dengan struktur
vertikal berukuran 80 x 120 cm lukisan bernada biru ini
menyuguhkan ruang dengan enak -- meski ruang yang jauh dan dekat
diwarnai sama.
Tapi sebetulnya penamaan seperti yang pernah dilekatkan secara
tak resmi kepada penyair Khairil Anwar itu, 'binatang jalang',
tak sepenuhnya tepat. 'Keliaran' komposisi warna Matisse,
misalnya, tak jalang benar. Lebih tepat disebut kemeriahan yang
cenderung mewah. Dari segi ini bisa dimaklumi kalau kemudian
beberapa kritikus di Eropa, terutama yang berpandangan radikal,
melihat Matisse sebagai pelukis 'hedonis' -- pemuja kemewahan
duniawi.
Matisse memang tak pernah menggarap 'ide besar' -- yang
menyangkut masalah sosial. Sepenuhnya ia bergerak dalam masalah
kesenirupaan sendiri. Obyek yang banyak dilukisnya pun wanita
cantik, atau benda-benda antik - misalnya kursi dari abad ke-17.
"Yang saya impikan dalam sebuah karya seni adalah keseimbangan,
kejernihan, ketenangan dan kemurnian," katanya. Katanya lagi,
keseniannya menolak "sesuatu yang bernada ribut". Kesenian, kata
Matisse, "bagaikan sebuah kursi goyang tempat orang istirahat
menghilangkan kelelahan."
Memang begitulah yang terkesan dari pameran di Kyoto ini.
Sejarah hidup Matisse sendiri agaknya pun tak bergelora. Dengan
tenang pada usia 20 tahun ia meninggalkan pekerjaan sebagai juru
tulis di sebuah biro hukum. Lalu belajar melukis di sebuah
akademi di Paris. Tak begitu jelas latar belakang
keterpikatannya pada dunia senilukis. Tapi kecenderungannya
menggunakan warna dengan bebas waktu itu telah nampak. Dan
untung, guru pembimbingnya ternyata toleran. Dibiarkannya
muridnya berkembang sendiri.
Selanjutnya, hidupnya sendiri tak sensasional: mengalir dengan
wajar sebagaimana kebanyakan orang. Juga ismenya, tak begitu
keras mendapat tentangan dari kaum impresionisme yang telah
mapan. Barangkali suasana awal abad ke-20 memang telah berubah
dibanding masa sebelumnya.
Tapi dari segi lain, memang terasa satu hal tak ditemukan dalam
karya Matisse -- paling tidak kalau dibanding karya Picasso,
Van Gogh atau Gauguin. Tak ada sesuatu yang menyeruak, menembus
warna dan bidang, mengetuk ke sini -- ke dada. Missi, kalau
boleh disebut begitu, memang bukan urusan Matisse. Tapi juga
keharuan.
Hanya, pandangan dunia seninlpa terhadap warna sebagai warna,
dan bukan pelengkap bentuk, Matisselah peletak batu pertamanya.
Contohnya yang di gedung museum ini.
Bambang Bujono
|