Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XI/20 - 26 Juni 1981
   
Suka Duka

Ia hanya pamit ke bukit

Suka duka para artis dunia panggung. jauh dari negeri asalnya, ia hidup di atas panggung. penari telanjang maupun penyanyi. mereka para artis dari luar negeri. (sd)

DI tengah-tengah sorak-sorai penonton, wanita itu merasa
kesepian. "Setiap saat, hati saya ada di Thai," katanya dengan
pandangan seakan mencoba membayangkan negeri kelahirannya, jauh
di sana. Apa boleh buat. Nasib telah melemparkannya ke atas
panggung, menggerak-gerakkan tubuhnya yang sital, sambil
melepaskan pakaian satu-satu -- sehingga lengkaplah ia dengan
julukan penari striptease.

Tapi Sayan Jaratawa yang sehari-hari dipanggil Wanvisa agaknya
tidak begitu menyesal. Wajahnya yang cukup manis, ditambah
potongan tubuh yang memadai, memang memungkinkan dia terjun
sebagai penari telanjang -- dan sejak beberapa bulan terakhir
ini tercampak di panggung-panggung hiburan di Medan, Surabaya
dan Jakarta serta Ujungpandang.

Meski demikian, Wanvisa, 27 tahun, masih memendam penyesalan.
Semula, ia adalah seorang penyanyi yang cukup ternama di
negaranya, Thailand. Hampir setiap malam ia tarik suara di
panggung-panggung hiburan di Bukit, sebuah tempat tamasya
terkenal di negara gajah putih itu. Namun, persaingan dengan
penyanyi-penyanyi baru, agaknya menyisihkan suara wanita itu.

Bekerja, Bukan Kawin

Sejak tiga tahun lalu ia mencoba mengembara di berbagai negara
ASEAN. Di tempat-tempat itu pun suaranya tak mampu bertanding
dengan penyanyi-penyanyi pribumi. Satu-satunya yang masih
mungkin, hanya tinggal menampilkan kebugilan tubuhnya di
panggung. Sejak itu, tubuhnya pun menjadi modal utama.

Karena itu wanita kelahiran Nakonsowan (hampir 300 km di utara
Bangkok) itu selalu berusaha menjaga dirinya Setiap malam mulai
pukul 23.00 sampai 02.00 ia hanya bersedia tampil dua kali,
masing-masing 15 menit, khusus untuk tari-tarian bugil. Habis
itu dia tidur hingga pukul 15.00. "Saya tak dapat menari lebih
lama dari itu, sehinga harus puas dengan penghasilan US$ 450
sebulan," tuturnya.

Ia memang bekerja dengan sistem kontrak, rata-rata untuk tiap
tiga bulan, dengan seorang boss-nya di Bangkok. Setiap habis
satu masa kontrak, biasanya anak nomor dua dari tujuh bersaudara
itu, pulang menjenguk orang tuanya di Nakonsowan. Orang-orang
sekampungnya sendiri tak ada yang tahu kerja Wanvisa sebenarnya
-- lebih-lebih orang tuanya. Begitu pula, penari itu tak pernah
memberitahu keluarganya ke mana ia pergi. "Saya selalu pamit
untuk menyanyi di Bukit," ungkap anak pekerja bengkel itu.

Dari hasil manggung selama ini, Wanvisa telah memiliki rumah
sendiri, berdampingan dengan rumah orang tuanya. Tampaknya ia
mulai mempersiapkan hari depannya. "Tapi empat bulan lalu, saya
putus cinta dengan pacar saya," ucapnya dalam bahasa Inggris
terputus-putus. Pacarnya itu, seorang mahasiswa yang sedang
belajar di Jerman Barat, selalu menganjurkan agar Wanvisa
berhenti bekerja. Wanita itu tak setuju. "Dia hanya bisa
melarang, tak mau memberi nafkah -- saya mau makan apa?" katanya
setengah menggerutu.

Ia sendiri mengaku akan terus berada di atas panggung hingga
tiba saatnya seorang laki-laki mau bertanggungjawab terhadap
dirinya. Sekarang nafkah yang dikumpulkannya lebih banyak ia
berikan kepada ibunya, sebagai tambahan penunjang hidup untuk
menyekolahkan adik -adiknya.

Penampilannya di atas panggung dengan tubuh yang hanya bercawet,
banyak memancing air liur laki-laki. Misalnya, suatu ketika
seusai tampil di sebuah klub malam di Ujungpandang, seorang
laki-laki datang ke kamar hotelnya. "Ia muntahkan semua
kata-kata rayuan," ungkap Wanvisa, "dan setelah gagal semua
bujukan itu, dia menyatakan ingin mengawini saya." Wanita itu,
katanya, tertawa saja di dalam hati, sebelum akhirnya dengan
tegas berkata: "Saya di sini bekerja, bukan untuk kawin."
Laki-laki itu mundur teratur.

Godaan tak kurang membayangi Itojo Kumano, penyanyi Jepang
kelahiran Manchuria yang pekan lalu mentas di Nirwana Room,
Hotel Indonesia, Jakarta. Selama beberapa minggu di Jakarta ia
pernah diikuti seorang laki-laki kulit putih di hotelnya.
Sehingga waktu ia duduk untuk makan siang di restoran, laki-laki
yang dari tadi mengikutinya itu telah duduk pula di hadapannya.
Karena merasa curiga, cepat-cepat Itojo menampik. "Kalau hanya
untuk makan, silakan duduk di depan saya, tapi kalau ingin lebih
dari itu, silakan mencari tempat duduk lain," kata Itojo.
Laki-laki bule itupun angkat kaki.

Diludahi

Di negara sakura, Itojo memang sudah terkenal sebagai penyanyi
di klub-klub malam terkenal di Tokyo. Pada 1969, ia tergabung
dalam rombongan Tokyo by Nigh, yang mengadakan pertunjukan
berbagai kesenian Jepang di Jakarta. Setelah itu, selama 21
tahun ia tarik suara di beberapa negara Eropa, Amerika, sampai
Rhodesia di Afrika Selatan. Malahan di sebuah klub malam di
London, ia pernah diludahi seorang wanita tua yang suaminya mati
dalam tahanan Jepang di Singapura waktu perang dunia II.

Sejak kecil ia memang bercita-cita ingin jadi penyanyi, meskipun
sempat menggondol ijazah sarjana muda ekonomi dari Meiji
University. Ayahnya, seorang guru besar musik klasik di Kagawa
University, rupanya banyak membimbingnya. Dan hasilnya cukup
memadai. Dengan panghasilan rata-rata US$ 50 ribu (sekitar Rp 31
juta) setahun, Itojo mengaku kini memiliki sebuah bungalow di
Singapura. Di sinilah ia beristirahat pada saat-saat tak ada
kontrak meyanyi, bersama Jeffrey yang menjadi pacar, sekaligus
manajernya.

Ia tak mau menyebut berapa besar kontraknya selama nyanyi di
Indonesia. Tapi, katanya, berhadapan dengan penonton Indonesia
cukup menyenangkan. "Di sini penonton terbuka dan spontan, tidak
seperti di Singapura dan Hongkong yang tak mau memberi reaksi,"
tambahnya.

Di negaranya sendiri, Itojo kini sudah jarang tampil. Sebab,
katanya, "orangorang bisnis hiburan di Jepang lebih senang pada
artis yang baru muncul, mungkin karena murah." Namun, tanpa mau
bercerita lebih banyak, rupanya di negerinya sana ia punya
kenangan buruk, setidak-tidaknya sejak beberapa tahun terakhir
ini. "Beberapa tahun lalu saya putus cinta di sana," ungkapnya.

Barbara Hart dan Stephen Rucker mempunyai penilaian yang sama
tentang penonton di Indonesia. Kedua penyanyi dari AS yang
mengadakan pertunjukan di Melati Bar, Hotel Sari Pacific malam
Minggu lalu, malahan mencela kebiasaan penonton di negara mereka
yang suka memaksa penyanyi yang tak disenangi turun dari
panggung sebelum pertunjukan usai.

Kedua artis bule itu membuka pertunjukan dua minggu mereka di
Indonesia dengan menampilkan suasana Texas. Seluruh pelayan
Melati Bar malam itu mengenakan celana panjang jean biru dengan
kemeja lengan panjang yang dilipat sampai siku. Kedua penyanyi
dan sekaligus pemusik itu pun menggantungkan topi lebar di leher
masing-masing. Musik yang mereka perdengarkan juga tak lain
adalah country music, berisi balada para penggembala sapi di
padang-padang Texas.

Sebagai penyanyi dan pemetik gitar, Barbara Hart telah
menciptakan sekitar 50 buah lagu jenis itu. Ia mula-mula muncul
bersama gitarnya di klub-klub malam maupun restoran terkenal di
Ohio. Setelah namanya mulai menanjak, ia pun manggung dan
kemudian menetap di Los Angeles, pusat musisi Amerika. Di
sinilah ia mulai bekerjasama dengan Stephen Rucker, pianis
tamatan Universitas California. "Kami berdua mengadakan
pertunjukan di Jakarta, sekaligus sambil berlibur," kata Stephen
yang mengaku mempunyai penghasilan sekitar Rp 28 juta setahun.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data