Bukan lagi bahasa kedua? Berlangsung kongres ikatan pengajar bahasa belanda di
jakarta. bukan lagi merupakan bahasa asing utama di indonesia,
tapi beberapa cabang ilmu pengetahuan masih
membutuhkannya.(pdk) |
DI Indonesia bahasa Belanda tak mati, meski si empunya bahasa
tak lagi menjadi tuan. Sesekali bahasa itu terdengar dalam satu
perjamuan-ketika dua orang tua bekas siswa HBS (sekolah lanjutan
di zaman Belanda), misalnya, bertemu.
Toh ada yang disebut Ikatan Pengajar Bahasa Belanda (IPBB).
Berarti bahasa Belanda tak hanya untuk si tua. IPBB ini
menyelenggarakan kongresnya yang pertama -- pekan lalu. Diikuti
sekitar 180 guru dari seluruh Indonesia di Gedung Erasmus Huis,
Jakarta. Resminya, organisasi yang didirikan tahun 1975 itu,
kini beranggotakan 230 orang. Mereka para pengasuh kursus (yang
ternyata hidup di beberapa kota di Indonesia) dan juga dosen
bahasa tersebut. Boleh dicatat, di Fakultas Sastra UI ada
jurusan bahasa Belanda sejak 1970 dan ini satu-satunya di antara
seluruh perguruan tinggi negeri kita.
Di pihak generasi lama, bahasa itu kini mungkin sesekali
menimbulkan nostalgia. Di zaman Belanda berkuasa, bahasa yang
dijadikan pengantar di sekolah itu sekaligus menjadi simbol
keterpelajaran seseorang. Tapi di pihak generasi muda mungkin
menjadi pertanyaan untuk apa belajar bahasa yang "sedikit
pengikutnya" itu.
Kenyataannya, memang dunia ilmu kita sebenarnya masih banyak
berhubungan dengan bahasa ini. "Karena keterikatan historis di
masa lalu, " kata Gondomono, Dekan FSUI, "sebagian disiplin ilmu
seperti sejarah hukum, antropologi dan beberapa lagi masih
menggunakan buku bahasa Belanda sebagai buku sumber."
Toh mahasiswa jurusan bahasa Belanda termasuk sedikit -- bila
dibanding jurusan-jurusan Inggris, Prancis, Jerman, Jepang dan
Arab. sahasa Arab bahkan jauh lebih kuat kedudukannya dari yang
sering diduga -- di luar lembaga resmi. Jurusan bahasa Belanda
sendiri kini punya hanya 68 mahasiswa. Toh jumlah itu ternyata
lumayan dibanding jurusan bahasa-bahasa Cina, Rusia dan . . .
Jawa, di FSUI.
Bisa dipahami bila kursus bahasa Belanda pun kurang peminat.
Tentang itu tahun 1978 Kedubes Belanda mengadakan riset.
Hasilnya: di seluruh Indonesia ternyata hanya (atau masih) ada
26 ribu peserta kursus bahasa tersebut. Bandingkan misalnya
dengan peserta kursus bahasa Inggris di satu tempat saja di
Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (dahulu LIA), yang di
tahun 1977 mempunyai sekitar 6 ribu siswa.
Gita Kirtti, lembaga kursus bahasa Belanda di Surabaya sejak
1974, masih untung tak ditutup. Tahun lalu tercatat siswanya 80
orang, terbagi menjadi dua angkatan. Tahun ini, untuk pelajaran
yang akan dimulai Juli nanti, sampai awal Juni baru tercatat 6
pendaftar. "Padahal target minimalnya 30 orang," kata B.J.
Rumagit, 70 tahun, yang mengurusi pendaftaran.
Bahkan anggota Perpustakaan Elk Wat Wils -- perpustakaan khusus
buku berbahasa Belanda di sana -- menurun. Didirikan dengan
kerjasama Kedubes selanda 1972, waktu iru beranggotakan 200.
Kini kurang dari 60.
Di Medan, Kanwil Dep. P&K tak mencatat adanya kursus bahasa
Belanda di kawasan Sum-Ut. Kursus privat memang ada, dan
biasanya pesertanya mahasiswa fakultas hukum.
Yang agaknya boleh sedikit berbanga adalah Bandung. Yayasan
Budaya Mukti sejak 1967 telah meluluskan 1.497 orang. Kini punya
sekitar 200 peserta. "Dulu, kami mengira yang akan mengikuti
kursus hanya orang tua. Ternyau banyak juga anak mudanya," tutur
Prof. Drg. Soeria Soemantri, Ketua Yayasan sudaya Mukti.
Tapi di kota mahasiswa Yogya peminat tak begitu besar. Yayasan
Karta Pustaka, yang membuka kursusnya sejak 1968, belum banyak
meluluskan peserta. "Rata-rata pengikut kursus kurang tabah,"
tutur Ny. Simadibrata, direktrisnya. "Biasanya pada awal kursus
peserta memang banyak. Tapi kemudian keluar di tengah jalan."
Kini yayasan ini menampung 130 orang dari dua angkatan.
Dibanding kursus-kursus bahasa lain menurut Stokkermans, Atase
Kebudayaan Kedubes Belanda di Indonesia dan Pengurus Lembaga
Kebudayaan Eras mus Huis, kursus bahasa Belanda sebenarnya punya
problem pokok. Dan IPBB ternyata belum bisa memecahkannya. Yakni
guru-gurunya kebanyakan orang tua yang mendapat kemahiran
berbahasa Belanda lewat metode pendidikan "Bahasa selanda
sebagai bahasa kedua, sesudah bahasa daerah," tutur Stokkermans
pula. "Kini bahasa Belanda sederajat dengan bahasa asing lain.
Jadi metode pengajarannya pun harus berubah."
Itulah yang terutama dibicarakan kongres -- di samping ada juga
misalnya pembicaraan tentang masalah terjemahan, oleh pastor
budayawan Dick Hartoko. Kongres mengharap, agar Erasmus Huis
bisa mendatangkan buku-buku pendidikan bahasa Belanda mutakhir
untuk berbagai kursus di Indonesia. "Kecuali masalah metode,
sebenarnya buku yang baik dan praktis untuk siswa Indonesia
belum ada," keluh Ny. Simadibrata dari Yogya itu.
Maka terutama untuk mencari metode yang cocok, Erasmus Huis
sendiri sejak Maret lalu membuka kursus pula. Lumayan angkatan
pertama 200 siswa. Disediakan 4 guru, seorang di antaranya dari
Negeri Belanda.
Mengingat peserta kursus kebanyakan mahasiswa fakultas hukum,
Erasmus Huis pun mengkhususkan satu kelas untuk para calon hamba
Wet itu. Peserta yang lain: mereka yang hendak pergi ke negeri
Ratu Beatrix itu. Atau yang punya famili di sana. Atau pacar,
'kali.
|