Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XI/20 - 26 Juni 1981
   
Musik

Tampang orang bingung

Sejumlah pemusik rock kumpul & unjuk diri lagi. hampir tak ada yang baru. publik mungkin sudah jenuh oleh acara yang selalu mengecewakan. padahal karcisnya mahal. (ms)

BEBERAPA kali para pemusik rock -- yang 10 tahun lalu pernah
disambut riuh, dan kemudian ditinggalkan -- berusaha hadir
kembali. Lewat panggung. Tapi ternyata hampir sia-sia. Kecuali
tak terdengar gemanya, juga agaknya belum juga lahir "generasi
penerus" -- yang bersedia menyambut setiap pekikan "yeah " dari
pentas dengan cara yang sama edannya.

Bisa dimaklumi, ketika pemain drum Giant Step, Jelly Tobing,
mencoba berkomunikasi dengan publiknya lewat teriakan itu, tak
terdengar sahutan seru. Penonton acara 'Tampang Musik '81' di
Balai Sidang, 13 Juni itu -- yang hanya sedikit, sekitar 500
orang -- hanya diam-diam saja. Tak merasa terpanggil,
katakanlah, oleh "jiwa yang meronta" di depan sana.

Tontonan yang karcisnya dijual Rp 12, 8 dan 5 ribu itu dirancang
oleh Benny Soebardja, pentolan Giant Step dan Jockie
Soeryoprayogo, pemain keyboard ex,God Bless yang malam itu
tampil atas nama Badai Band/Gipsy. Menyertai Jockie, antara lain
Chrisye, Keenan Nasution, Achmad Albar dan Idris Sardi -- yang
memimpin kelompok orkestra. Kecuali mereka ada kelompok pemusik
country dari Bandung, Jack Daniels. Dan pemimpin Grup Pecinta
Lagu (GPL) Iwan Abdurachman.

Kerepotan itu dibikin sambil memperingati 10 tahun usia Giant
Step, ditambah dasar pemikiran iniitu dan tujuan macam-macam.
Antara lain "mengekspresikan aksen corak dan warna musik
Indonesia 1981."

Kegagahannya ternyata habis hanya dalam buku acara -- yang
memang gampang diisi gambaran apa saja, termasuk susunan panitia
yang keren. Nasibnya rontok tatkala orang tak berhasil dibujuk
membeli karcis.

Agaknya juga, publik musik di Jakarta sudah letih oleh berbagai
acara sejenis itu -- yang rata-rata tak memberi kepuasan, juga
walaupun hanya sebagai hiburan. Sampai saat ini, ternyata hanya
pertunjukan Guruh Sukarnoputra yang mampu menyedot banyak
penonton ke gedung mirip jamur di Senayan itu. Dari kelas yang
lain, tentu saja seorang Rhoma Irama.

Group country Jack Daniels yang muncul pertama kali, nampak
bagai tamu yang salah masuk. Sedang Iwan Abdurachman, jadi
sentimental -- jauh berbeda dengan kalau ia menderap bersama GPL
Unpad-nya. Misalnya, sesudah menyanyikan lagu Tentara -- tentang
kewajiban tentara melindungi rakyat -- ia bilang: "Mudah-mudahan
tidak ditangkap . . . "

Jockie, yang memainkan musiknya beramai-ramai dengan orkestra
yang dipimpin Idris Sardi, asyik sendiri. Sehingga entah
diketahuinya entah tidak sebagian penonton meninggalkan gedung.
Juga karena sudah lewat tengah malam.

Tapi Jockie terus saja. Memamerkan sesuatu yang baru pada
musiknya. Belum begitu jelas.

Kelihatannya mereka sedang kebingungan mencari tempat berpijak,
atau pasar, bagi musik yang selama ini mereka mainkan. Dibuang
sayang, diteruskan akan banyak menuntut kesabaran.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data