Gali-gali yang kembali Para bekas narapidana berhimpun membentuk jasa keamanan.
menjadi pembantu polisi atau petugas keamanan dipertokoan,
tempat parkir, dll. (ils) |
TERMINAL bis Mohammad Toha, Bandung, yang dulu terkenal angker
dan menjadi sarang pencopet, sekarang aman. "Bila ada yang
kecopetan, datang saja ke markas Prems," ujar Aceng Eno, Ketua
Prems & Associate Ja-Bar.
Para bekas narapidana di Ja-Bar yang kini tergabung dalam
organisasi Prems & Associate, berkantor di ruangan 3 x 4 m, di
pintu gerbang Taman Ria Bandung. Kesibukan di kantor ini hampir
sama dengan kantor polisi. Beberapa orang anggota Prems setiap
saat lalu-lalang, keluar masuk kantor. Bila ada laporan masuk
tentang pemerasan, pencopetan, penodongan maupun penjambretan,
segera Prems mengirimkan bebepa anggota untuk menangkap
pelakunya.
Bila si pelaku ternyata anggota Prems sendiri, ia dipukuli
sebelum diserahkan kepada polisi. Tapi bila pelakunya penjahat
baru, ia langsung dibawa kepada yang berwajib.
Prems yang berarti Proyek Rehabilitasi Eks Narapidana Menuju
Sejahtera, berkantor pusat di Proyek Senen Jakarta Pusat.
Organisasi ini didirikan 10 November 1979 oleh beberapa bekas
narapidana terkenal: TGW Agus (Ketua Prems Pusat), Andreas Th W
dan Leobardo. Pengurus Pusat membawahkan Ja-Bar (dan Banten)
serta Jakarta.
Prems Ja-Bar sendiri baru berdiri 20 Januari 1981 dengan anggota
sekitar 50 ribu orang, dari 90.000 formulir yang disebarkan.
Para anggota bukan saja terdiri dari bekas narapidana, tapi juga
anak-anak muda putus sekolah. Karena itu titik berat kegiatan
memberikan lapangan pekerjaan kepada anggota-anggotanya.
Pemuda yang tidak punya keahlian dididik dulu oleh LKK (Latihan
Ketrampilan Keliling), sebuah proyek Pemda Ja-Bar. Anggota yang
bisa main musik disalurkan ke Orkes Melayu Destika, milik Prems.
Selain itu ada yang bekerja menjadi kenek bis. Yang terbanyak
menjadi anggota keamanan pabrik, terminal atau bioskop.
Tidak jarang pula Prems dimintai bantuan pihak berwajib untuk
mencari penjahat. Misalnya, penangkapan Budi Anggoro, penembak
Serma Marinir Suyono, dibekuk anggota-anggota Prems di Jalan M.
Toha Bandung 6 bulan lalu.
Aceng Eno, 40 tahun, Ketua Prems Ja-Bar, pernah dihukum 15 tahun
penjara karena beberapa kali melakukan perampokan di Jawa Barat
maupun Jakarta. "Hidup dengan uang hasil rampokan, walau besar,
tidak tenang, " katanya memberikan alasan ia tobat. Karena itu
untuk anggota Prems yang ketahuan berbuat jahat lagi, risikonya
tak tanggung-tanggung." Selain diserahkan ke polisi, di sini
digebukin dulu," kata laki-laki berperawakan kekar dan berwajah
angker itu.
Namun tidak urung Prems sering kena sasaran kecurigaan juga
kalau ada kejahatan. Meskipun dibina Laksus dan Kepolisian
Ja-Bar, bersama Golkar, Prems ikut diusut ketika peristiwa
penyerbuan kantor polisi Cicendo (Bandung) baru-baru ini.
Sehingga Aceng Eno atas nama Prems Ja-Bar kemudian membuat
pernyataan mengutuk teror tersebut. Ternyata memang yang berbuat
kelompok Imron.
Kecurigaan aparat juga sering dialamatkan kepada Akars (Awal
Kesadaran Arek-arek Suroboyo) Surabaya, walau pelindungnya Kol.
Pol. Harsono Prayitno, Danwil Tabes Surabaya. "Kalau ada
penodongan atau perampokan kami selalu dimintai bantuan dan
ditanya ini itu," ujar Phitong R, anggota Akars Surabaya.
Malahan kecurigaan juga datang dari masyarakat. Hampir semua
perusahaan di Surabaya enggan menerima anggota Akars, walaupun
sudah dibekali rekomendasi dari berbagai instansi pemerintah.
"Sebuah perusahaan malah memilih memberi sumbangan Rp 50.000
daripada harus menerima tenaga Akars," keluh Mamack, bekas
narapidana yang menjadi Ketua Akars.
Tak lama lagi, seluruh organisasi maupun perseorangan eks Gali
di Ja-Teng dan Daerah Istimewa Yogyakarta, akan bergabung dalam
Himpunan Massa Kesadaran Indonesia (HMKI) "Fajar Menyingsing."
Kegiatan organisasi ini hampir sama dengan daerah daerah lain,
yaitu mengusahakan pekerjaan bagi anggota-anggotanya. Taman
Parkir Pasar Johar, Semarang, sejak Februari lalu, tidak lagi
mengalami kehilangan yang berarti setelah diserahkan kepada
HMKI, Fajar Menyingsing. "Dulu hampir setiap hari satu sepeda
motor amblas, kini paling-paling kaca spion," kata Mudjiono,
komandan Taman Parkir Pasar Johar. Malahan, salah seorang Ketua
HMKI, Wahyu menjamin: "Soal keamanan serahkan kepada kami, kalau
perlu setiap toko di Jalan Pemuda Semarang ini, saya beri
seorang petugas keamanan." Wahyu tidak berlebihan. Sebab di
seluruh Ja-Teng dan D.I. Yogyakarta, hampir 20 ribu orang sudah
terdaftar jadi anggota HMKI.
HMKI berdiri bermula dari dijaringnya Gali dan bekas Gali,
setelah huru hara anti-Cina di Ja-Teng, November tahun lalu.
Sekitar 700 orang anggota dan bekas anggota Gali ditangkap. Di
antaranya ada 300 orang dimasukkan ke penjara Ambarawa untuk
dididik ketrampilan. Namun pendidikan selama di sana, dinilai
mereka tidak tepat -- "hanya menghabiskan ongkos saja, sementara
anak dan istri mereka yang dididik itu tidak makan," ujar Wahyu.
Karena itu, timbul ide mereka mendirikan suatu organisasi, agar
bisa kembali ke jalan yang benar, tanpa harus dikejar-kejar
polisi lagi.
Ide itu mereka matangkan setelah masa pendidikan di Ambarawa.
Seorang pemuka masyarakat keturunan Cina di Semarang, Sutikno
Wijaya yang juga menjadi Ketua Umum Paguyuban Masyarakat
Indonesia (organisasi pembauran) mau mengulurkan tangan. "Karena
mereka menyatakan mau tobat, dan datang terus menerus, saya
menjadi iba," tutur Sutikno.
Suatu upacara ikrar dari sekitar 150 orang tokoh Gali se Ja-Teng
dilangsungkan di Gedung Pemuda Semarang, 26 April 1981. Di
hadapan para pejabat daerah mereka berjanji akan meninggalkan
dunia mereka yang hitam.
Namun, sampai saat ini langkah mereka masih terhalang. Soalnya
secara resmi Panglima/Laksusda Kodam VII Ja-Teng belum merestui
organisasi itu. Sementara para anggota yang sudah masuk
organisasi memang sudah benar-benar ingin tobat dan karena itu
sampai sekarang masih nganggur. "Saya khawatir lama-lama mereka
tidak tahan nganggur, dan bisa kembali ke satu-satunya dunia
mereka selama ini yaitu maling dan merampok," tutur Wahyu, yang
mengaku sudah mulai melego barang-barang rumahtangga untuk hidup
anak istrinya.
Satu-satunya usaha mereka yang sudah lancar adalah mengelola
parkir di dua rayon parkir Kodya Semarang, hasil menang tender
Rp 46 juta. Tetapi hasilnya masih mereka anggap minim, karena
uang sebanyak itu didapat dari Sutikno dan harus dikembalikan.
Izin resmi untuk organisasi mereka sebenarnya sedang diproses di
Direktorat Sosial Politik Ja-Teng. Umumnya anggota Muspida
Ja-Teng tidak keberatan adanya organisasi itu. "Yang penting,
dunia lama mereka harus lenyap. Jangan sampai perkumpulan itu
digunakan untuk memperkuat diri bagi tujuan-tujuan lain," ujar
seorang anggota Muspida yang tak mau disebutkan namanya. Tapi
pejabat ini tak menjelaskan, apa alasan Pangdam/Laksusda
VlI/Diponegoro, belum juga merestui HMKI.
Komando Inti Keamanan (Kotikam) adalah organisasi bekas Gali
yang pernah ikut memenangkan Golkar di Daerah Istimewa
Yogyakarta ketika Pemilu 71. Dengan 1500 orang anggota yang
tersebar di Yogya, Klaten, Magelang, Kotikam sekarang melebur
diri ke dalam AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia).
Ketika huru-hara rasial meledak di Solo dan Semarang, Kotikam
Yogya berhasil mengamankan daerahnya. "Coba kalau tidak ada
Kotikam, pengrusakan liar pasti terjadi seperti di Solo," kata
Suryono, sekretaris Kotikam.
|