Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XI/20 - 26 Juni 1981
   
Hiburan

Pesan-pesan ria jenaka

Penampilan grup lawak ria jenaka di tvri, bermain sebagai punakawan. menyampaikan misi pembangunan, muncul di tv setelah penghapusan iklan dimainkan ateng, iskak, suroto, sampan h.(hb)

PANGGUNG dengan dekor gaya Ketoprak Mataram tampak di layar tv.
Diantar gending Jawa, muncul Bagong dan Gareng. Gamelan telah
berhenti, tapi si Bagong masih terus menari -- gerakan tari Jawa
bercampur gaya disko. Kemudian muncul adegan lain,
lelucon-lelucon yang tak begitu segar. "Petruk kini berekor,"
kata sagong kepada Gareng. Sebelum itu, Bagong membohongi Petruk
dengan mengatakan Gareng kini menderita penyakit aneh. Yaitu
suka menggigit pantat orang. "Jadi hati-hati Truk, kalau
berjumpa dengan Gareng," ujar Bagong.

Adegan berikutnya adalah pertemuan Petruk dan Gareng. Keduanya
dengan sikap was-was. Petruk menjaga bagian belakang tubuhnya,
sedangkan Gareng mencoba mengincar bagian belakang Petruk.
Walhasil keduanya saling uber-uberan. sahkan hampir berkelahi.

Muncul Semar. Melerai. Setelah diusut, ketahuanlah biang keladi
keonaran adalah Bagong. Dan Semar pun berkata 'oo, alah ngger,
membuat isu atau sassus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang
dan bikin kisruh keadaan. Ora apik, ngger." Maka muncullah
nasihat Semar: betapa pentingnya persatuan.

Adegan lawakan di atas, dengan menampilkan grup Punakawan (Semar
Gareng-Petruk-Bagong) dimainkan Ria Jenaka yang muncul di tv
setelah penghapusan iklan sejak 1 April 1981. Acara ini bisa
dianggap salah satu acara menyampaikan misi pembangunan. Di
samping juga untuk mengisi waktu setelah acara iklan dihapuskan.
Muncul seminggu dua kali, sekitar 10 - 15 menit tiap Senin dan
Jum'at malam, acara ini terutama digemari anak-anak.

"Ide memunculkan cerita punakawan," kata Ateng yang main sebagai
Bagong, "berasal dari pihak TVRI." Beberapa bulan yang lalu,
Ateng bersama Iskak (yang jadi Petruk mendapat tawaran dari
Direktur TVRI, Drs. Subrata, untuk mengisi acara "penyampaian
pesan lewat lawakan." Tokoh-tokoh yang diambil adalah tokoh
punakawan, dengan pertimbangan tokoh ini cukup populer -- paling
tidak di kalangan orang yang paham wayang.

Pihak TVRI tidak mengajukan syarat-syarat rumit. Jalan cerita
boleh dikarang sendiri, asal pesan-pesan bisa diselipkan. Tak
perlu dengan kadar yang berlebihan, sebab bisa merusak citra
lawakan. Ateng dan Iskak setuju. "Sebab kalau kami hanya sekedar
dijadikan alat penerangan tv, pasti saya tolak," kata Ateng di
rumahnya.

Soal "titipan pesan" ini memang bukan hal baru bagi Ateng dan
Iskak. Sebab selama ini mereka bisa menerima titipan dari pihak
pengundang. Asal tidak mengikat, kalau bisa cuma sekedar
disenggol saja, biasanya Ateng dan Iskak bisa mengerti.
Mereka kemudian minta Suroto. Jebolan grup Srimulat ini kemudian
jadi Gareng. Dan siapa yang berani memerankan tokoh Semar? Sebab
dewa yang turun ke mayapada dan menjelma jadi Semar ini, harus
berperan sesuai dengan karakternya: berkewajiban meluruskan
apa-apa yang tidak benar. Pilihan kemudian jatuh pada Sampan
Hismanto, tokoh tari dan Ketua Himpunan Seniman Muda Indonesia.

Semar di Ria Jenaka bergaya tidak banyak meleset dari
sifat-sifat Semar di pewayangan. Dia - tidak ikut melawak,
tampil dengan gaya agak resmi dan tetap dihormati oleh Gareng,
Petruk dan Bagong. Kerjanya menjadi penengah atau melerai benang
kusut yang dibuat oleh anak-anaknya.

Keseleo

Rekaman Ria Jenaka berlangsung di studio TVRI dan sekaligus
merekam tiga atau empat nomor. Biasanya, Ateng yang membuat
kerangka cerita. Sisipan pesan didapatnya dari koran atau
teman-temannya yang biasanya memberikan input.

Menurut Ateng, ia rada kikuk juga memerankan Bagong. Untung saja
ketika Bing Slamet masih hidup, dalam Kwartet Jaya ia pernah
memerankan tokoh punakawan. Tetapi dalam Ria Jenaka dia harus
bisa menari (sedikit) dan juga mengerti bahasa Jawa. "Bahasa
Jawa saya cemplang," kata Ateng, "tapi akibat banyak pergaulan
dengan orang Jawa, lama-lama saya mengerti."

Tetapi justru untuk mengucapkan bahasa Jawa yang serba tanggung
itulah, lidahnya sering keseleo dan memancing kelucuan .

Kadar bahasa Jawanya terlalu banyak memancing protes penonton.
Karena acara ini disiarkan studio Jakarta, bukan tv Yogya. "Itu
memang kami akui," kata Sampan, "soalnya punakawan memang asli
Jawa." Tapi menurut Sampan pemakaian bahasa Jawa adalah untuk
menjaga perasaan orang tua-tua. "Karena itu, bahasa Jawanya agak
ditonjolkan," tambah Sampan. Meski begitu mereka berjanji akan
berusaha mengurangi sebanyak mungkin kata-kata Jawa.

Selama ini, Ria Jenaka telah melontarkan pesan KB, lingkungan
menjaga kebersihan, kejujuran, dan hai-hal lainnya lagi. Kontrak
antara TVRI dan grup Ria Jenaka juga tidak ada. "Tetapi kayaknya
saya capek sekali," kata Ateng, yang juga sering main di luaran,
"kalau dianggap sukses, kami juga bersedia meneruskan. Tapi
kalau bisa gantian dengan grup lain, lebih baik."

Tidak seorang pun dari kwartet ini yang mau mengaku berapa besar
honornya. Tapi, menurut Sampan, "penampilan Ria Jenaka masih
coba-coba, kalau nanti ada tokoh lain yang lebih bersifat
nasional, bentuk punakawan ini bisa diganti."

Baik Sampan maupun Ateng berpendapat mencari tokoh lain --
apalagi yang bersifat nasional -- memang tidak mudah. Atau
memang tidak ada.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data