Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/XI/20 - 26 Juni 1981
   
Catatan Pinggir

Kecaman Untuk Inggris Dan AS

Barbara ward penulis the rich nations and the poor nations, meninggal mei 1981. menurutnya, kita tak boleh mengabaikan kapasitas kebaikan orang. kecaman kepada inggris & as yang tak perduli akan dunia ke-3.

IA pernah berkata, "Kita harus terus berusaha. Kita tak boleh
mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen
kebaikan." la adalah Barbara Ward, lahir Mei 1914, meninggal Mei
1981.

Ia bukan seorang santa. Memang, ia seorang yang religius,
meskipun ia pernah meninggalkan iman Katoliknya waktu bersekolah
di Oxford dan menemukannya kembali lama kemudian (dengan
kesalihan baru, tentu). Toh ia tahu ia lebih "mendunia"
dibanding Bunda Teresa. Salah sebuah leluconnya ialah bahwa
Bunda Teresa lebih bagus berpidato, karena "Tuhan kita
membungkuk ke dekat bahunya membisiki apa yang harus diucapkan."

Barbara Ward memang bukan tipe biarawati yang hidup bersama dan
untuk mereka yang jembel. Barbara seorang baroness. Tentu saja
harus dicatat: aristokrasinya tak cuma sekedar dalam gelar, tapi
juga dalam sikap dan pikiran. Dia istri diplomat, teman Presiden
Kennedy dan sahabat Presiden Johnson. Tapi harus pula dicatat:
bukan cuma itu kelebihannya. Ia juga sarjana tamu di Harvard dan
guru besar di Columbia.

Dengan kata lain, ia berada di tingkat inggi. Tapi di sana ia
bukan hanya sekedar orang yang berkata, "Kita minoritas yang
beruntung, kita tak berani melupakan mereka yang benar-benar
miskin." Bukunya, tentang negeri-negeri kaya dan melarat,
mengilhami banyak cendekiawan di dunia sejak hampir seperempat
abad yang silam.

Tak boleh dilupakan ialah pengaruhnya kepada tokoh-tokoh Bank
Dunia. Ketika realisasi "dasawarsa pembangunan" seret, Barbara
Ward memulai desakan baru untuk menarik bantuan dari
negeri-negeri kaya. Komisi Pearson lahir. Lalu, beberapa tahun
yang lalu, muncul pula Komisi Brandt.

Robert McNamara, bekas Presiden Bank Dunia yang konon sering
menunjukkan lebih dulu rancangan pidatonya kepada Barbara Ward,
(dengan agak malu-malu), agaknya tak akan sering berbicara
tentang kemiskinan, seandainya wanita penulis The Rich Nations
and The Poor Nations itu tak begitu kuat sebagai inspirator.

Setidaknya sebagai perumus yang gemilang. Bekas asisten editor
The Economist ini memang pandai menyusun kata, -- meskipun
semasa baru jadi penulis, ia kadang harus mengulang komposisinya
10 kali. Wanita yang di masa gadis pernah berlatih jadi penyanyi
opera ini (dan kemudian jadi orang BBC) memang enak didengarkan
pidatonya -- meskipun karena itu orang melihatnya "hanya"
sebagai seorang komunikator.

Tapi apa salahnya? The Economist menulis tentang bekas
wartawannya ini 6 Juni yang lalu dalam sebuah obituari panjang
yang membentang 5 halaman. Di sana dikutip satu komentar tentang
Barbara Ward: ia adalah "a great simplifier," seorang yang
sangat pandai merumuskan soal-soal pelik menjadi sesuatu yang
sederhana.

Memang, di situ pula kelemahannya. Sebab argumen yang
dikemukakannya, yang diulanginya berkali-kali, dengan cara
elegan, gamblang dan memikat, tak memberikan peluang untuk
didebat. Khususnya dari segi: bagaimana cita-cita membantu si
miskin dapat dihubungkan dengan realitas dunia yang berantakan?

Itu pertanyaan yang sangat berat, memang. Barbara Ward meninggal
(karena kanker) akhir Mei. Komisi Brandt yang mencoba merumuskan
jalan kerjasama "Utara-Selatan" bersidang di Berlin sekitar hari
itu. Dan 15 Juni yang lalu, Anthony Sampson dalam Newsweek
menulis tentang "jingoisme ekonomi yang baru".

Dengan kata lain: suatu kecaman terhadap kecenderungan Inggris
(di bawah Thatcher) dan Amerika (di bawah Reagan) yang tak
hendak peduli akan Dunia Ketiga. Pemerintahan-pemerintahan di
Barat, tulis Sampson, "menekankan bahwa mereka memecahkan
kesulitan dalam negeri mereka lebih dulu sebelum mereka dapat
memalingkan perhatian ke bagian dunia lain."

Apa yang akan dikatakan Barbaa Ward tentang ini? Dalam Hany
Satu Bzmi (yang telah diterjemahkan dengan bagus ke dalam
bahasa kita), ia berbicara tentang "kesetiaan yang tertinggi
pada planet Bumi kita yang satu, yang indah, tapi yang mudah
cidera". Ia tak berbicara tentang cara menumbuhkan kesetiaan
itu. Tapi mungkin seperti katanya pula: "Kita tak boleh
mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen
kebaikan."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data