Sebuah dokumen orde baru... Pengarang: pk. ojong jakarta: gramedia, 1981 resensi oleh:
gunawan mohamad. (bk) |
KOMPASIANA
Kumpulan esei jurnalistik
P.K. Ojong
813 halaman
P.T. Gramedia, 1981
ADA sebuah teka-teki. Tebaklah di tahun berapa kalimat di bawah
ini ditulis -- tahun 1978 atau tahun 1966:
"Pembreidelan pers bertentangan dengan keadilan (karena orang
yang tak bersalab pun turut dihukum), dan ini justru dilakukan
pemerintab yang katanya mau mencapai masyarakat yang adil."
"Bilamana kekuasaan kebakiman terikat pada kekuasaan eksekutif,
maka hakim dapat menjadi kekuasaan penindas."
Jawabnya? Tahun 1966. Yakni ketika pemerintahan "demokrasi
terpimpin" sedang dikerutuk para penentangnya. Ketika para
mahasiswa, cendekiawan, seniman dan lapisan rakyat terutama di
kota-kota dengan hebat mengguncang-guncang sebuah rezim otoriter
yang sedang goyah serta ditinggalkan orang.
Di hari-hari seperti itu, dalam harian Kompas muncul sebuah
rubrik pendek, tiga kolom dan seperempat halaman, berjudul
Kompasiana. Isinya bukan saja jernih, tapi juga cocok dengan
aspirasi yang kuat di masa itu.
Dalam waktu yang tak berapa lama, Kompasiana merebut hati atau
perhatian pembaca. Barangkali bisa dikatakan, bahwa salah satu
awal sukses harian Kompas yang kini beroplah sekitar 300.000 itu
adalah berkat rubrik tersebut: setelah kemerdekaan pers dicekik
"demokrasi terpimpin", Kompasiana tampil sebagai salah satu dari
sedikit tulisan yang menyegarkan. Ia membawa ide-ide alternatif
di tengah keruntuhan ide-ide yang waktu itu berkuasa.
Di belakang Kompasiana adalah P.K. Ojong. Kurus (waktu itu),
tinggi, dan tak pandai bicara, wartawan yang pernah memimpin
Star Weekly sebelum dibreidel pemerintah Bung Karno itu lebih
mengesankan sebagai seorang ilmuwan ketimbang seorang reporter.
Ojong memang sarjana hukum lulusan Universitas Indonesia, dan
dia peminat sejarah yang serius. Tapi dia bukan sarjana di
belakang meja. Kompasiana membuktikan hasil kombinasi yang kini
jarang terdapat: antara ketekunan akan detail yang biasa
terdapat pada seorang reporter ulung, dan wawasan seorang yang
terbiasa berkenalan dengan ide-ide besar.
Ide-ide besar yang dikenal Ojong tak dia sembunyikan asalnya:
pemikiran demokratik dari Barat. Di hari-hari "demokrasi
terpimpin" (juga di hari-hari seperti sekarang), ketika
pemikiran Barat cenderung dicurigai, Ojong akan nampak aneh atau
berani. Tapi Ojong sebenarnya tak sendiri. Ia dalam garis
tradisi cendekiawan Indonesia, seperti Bung Hatta, S. Takdir
Alisjahbana, T.B. Simatupang, dan lain-lain.
Kecenderungan pemikiran seperti mereka suka dicap sebagai-"PSI"
(Partai Sosialis Indonesia), baik untuk dikecam ataupun untuk
menyederhanakan soal.
Rendah Hati
Tapi aspirasi cendekiawan itulah yang sebenarnya berkumandang
dalam kegelisahan yang melahirkan Orde Baru. Baca saja
hasil-hasil seminar "Tracee Baru" di Universitas Indonesia 1966.
Menolak campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Menghendaki
kepastian hukum dan kekuasaan kehakiman yang bebas.
Memperjuangkan kemerdekaan pers, akademi serta penciptaan.
Menghargai manusia sebagai individu yang berhak asasi. Hidup
sederhana. Punya etos kerja keras. Menuntut kesadaran pegawai
negeri bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pelayan masyarakat.
Di hari ini, pemikiran seperti itu terdengar separuh
"konservatif", dalam terminologi Amerika: seperti pemikiran ahli
ekonomi Milton Friedman, atau Direktur Anggaran David Stockman,
pemikir Irving Kristol, bahkan Presiden Reagan sendiri.
Tapi kemiripan itu tentu tak selamanya tepat. Birokrasi besar
yang ditentang oleh kaum konservatif Amerika berbeda dengan
etatisme yang menguasai Indonesia atas nama sosialisme. Yang
terakhir ini, dalam versi Ojong, tumbuh dengan jiwa
feodal."Untuk melayani publik itulah maka pegawai negeri itu
diadakan dan dibayar dengan uang rakyat," tulis Kompasiana 25
Mei 1966."Tapi pegawai negeri itu kebanyakan menganggap tugasnya
itu sebagai kekuasaan. Ia menganggap dirinya sebagai penguasa .
. . ia masih berpikir feodal."
Memang, tak ada yang terasa teramat orisinal dalam pemikiran
Ojong. Tapi karena ia melihat perannya sendiri bukan sebagai
pemikir, melainkan sebagai penyampai ide. Jangan lupa, ia
seorang guru dan seorang wartawan. Dan jangan lupa pula bahwa
peran itu peran yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan
rata-rata manusia lain.
Dalam diri Ojong, kemampuan itu tumbuh dengan bagusnya. Seperti
tercermin dari tulisannya, ia seorang rendah hati, yang tergetar
oleh kemuliaan budi para nabi, keberanian para pahlawan,
kecendekiaan para pemikir, sikap luhur para negarawan dan kerja
keras kelas menengah. Ia ingin mengisahkan itu semua. Ia
menjadikan dirinya seorang "agen".
Penyampai Cita-cita
Karena itu, ia tak punya rasa cemburu untuk mengutip tajuk
rencana atau isi harian lain. Ia tak segan berusaha
memperkenalkan misalnya nama-nama seniman Indonesia yang selama
ini dikenal terbatas, seraya berbicara tentang politik, hukum
atau ekonomi. Ia menyampaikan keluhan seorang rekan yang layak
didengar tentang pajak atau usaha. Ia membawakan ide seorang
tamu tentang pohon. Ia menyebut orang-orang yang berani,
tulisan-tulisan yang bagus. Semuanya dengan nada kuat: penuh
apresiasi, penuh dorongan.
Terus terang, saya terharu membaca kumpulan tebal ini. Bukan
karena kalimatnya yang menyentuh: gaya tulisan Ojong justru agak
tawar. Saya juga terharu bukan karena ia seorang yang kebetulan
saya kenal dan kini tak ada lagi. Tapi karena kumpulan ini suatu
bukti: pernah, pada suatu masa, ada seorang yang merekam dan
menyampaikan cita-cita Orde Baru -- yang kini mungkin justru
terasa asing.
Ya, pernah, pada suatu ketika, ada seorang yang begitu penuh
harapan. Harapannya bisa salah, tapi tak seorang patriot pun
bisa dicap bersalah hanya karena ia punya harapan baik untuk
negerinya.
Dan Ojong adalah seorang patriot, meskipun predikat itu mungkin
dianggap terlalu berlebihan untuk dia: bukankah dia seorang
keturunan Tionghoa? Bukankah dia tak suka Bung Karno? Bukankah
dia suka demokrasi Barat? Tapi saya sadar akan yang saya
katakan. Kalau tak percaya, bacalah Kompasiana -- seraya
mengingat bahwa mereka yang selalu prihatin dan berharap untuk
Indonesia bisa datang dari pendirian-pendirian yang
bertentangan.
Goenawan Mohamad
|