Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 01/XI/07 - 13 Maret 1981
   
Kolom

Perihal ilmu kabe

Keberhasilan program keluarga berencana belum kelihatan berhasil. walau keberhasilan kb di indonesia bukan nomor satu di asia ataupun asia tenggara, tapi perlu dipuji. fertilitas di negeri ini menurun.

BERBAGAI sumber sudah bilang berulang-ulang: alhamdulillah
program KB Indonesia nomor satu di dunia. Akibatnya, masyarakat
berharap pertumbuhan penduduk menurun. Ketika ternyata meningkat
menjadi Ji Sam Su, mereka lantas berpaling dan menuding:
gagalkah program yang tersohor itu? Kalau terdesak dari nomor
satu, lalu nomor berapa program KB kita?

Sekarang sudah jelas masyarakat terlalu banyak diberi harapan.
Lalu, seperti iklan obat, mereka mengharapkan cespleng -- tapi
kaget bertemu Ji Sam Su. Apalagi mereka pernah dengar: tunggu
saja hasil sensus yang jadi termometer program KB. Dan angka
termometer rupanya menunjuk kepada suhu yang cukup tinggi.
Gerah!

Khalayak telanjur tidak mendapat penjelasan sebelumnya, bahwa
hasil sensus penduduk tidak serta merta menunjukkan kesuksesan
program atau kekurang-suksesan program. Tidak mendapat
keterangan bahwa kalaupun tingkat pertumbuhan menaik bukan
pertanda angka kelahiran tidak menurun.

Kemudian, masyarakat disuruh jangan kaget karena angka itu sudah
diperkirakan sebelumnya. Bukankah angka 147,4 juta itu mendekati
proyeksi Prof. N. Iskandar dan Prof. Alden Speare? Penjelasan
demikian memang bisa dimakan oleh orang awam. Sebaliknya, mereka
yang maklum seluk beluk proyeksi, menjadi kaget. Proyeksi adalah
proyeksi, bukan prediksi. Karena itu proyeksi membikin beberapa
kemungkinan, beberapa asumsi, beberapa variant.

Bertitik tolak dari jumlah penduduk Indonesia sebesar 120,1 juta
pada 1971 (bukan 119,2 atau 118,5 juta jiwa karena sudah
dirapikan), Iskandar membikin 4 variant. Variant I: fertilitas
tidak turun (KB tidak mempan), mortalitas turun harapan hidup
sebesar 45 tahun 1971 menaik secara linier dan mencapai 60 tahun
pada 2001. Variant II: fertilitas turun sampai 25% pada tahun
2001 terhitung dari 1971 mortalitas turun. Variant III:
fertilitas turun sampai 50% pada tahun 2001 dan mortalitas juga
turun. Variant IV: fertilitas turun sehingga tercapai net
production rate = 1.00 tahun 2001: satu perempuan digantikan
oleh satu perempuan.

Berbagai ahli membikin proyeksi, masing-masing dengan
serangkaian asumsi. Maka, tanpa mengurangi hormat pada para ahli
proyeksi, logis kalau hasil sensus terpaksa mendekati salah satu
atau beberapa hasil proyeksi penduduk itu. Dengan sendirinya
pula hasil berbagai proyeksi cukup jauh dari hasil sensus itu.

Tetapi kita memang perlu angkat topi pada ahli proyeksi karena
perhitungannya yang begitu njelimet. Mereka memperkirakan sex
ratio, struktur umur, perubahan harapan hidup yang mewakili
perubahan tingkat mortalitas, perubahan tingkat fertilitas, dan
ada pula yang memperkirakan urbanisasi dan transmigrasi.

Dan kalau dikaji proyeksi Iskandar, gamblang sekali bahwa bangsa
Indonesia yang 147,4 juta (lebih) amat perlu bersabar. Jangan
cepat-cepat mengharapkan penurunan pertumbuhan penduduk secara
drastis. Jangan merindukan cespleng.

Apa sebab? Kalaupun program KB amat sukses (Variant IV),
pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 2,32% antara 1971 dan
1981 karena penurunan mortalitas dan struktur umur. Ini
mendekati Ji Sam Su, apalagi setelah dimasukkan penduduk Timor
Timur. Perlu dicatat bahwa pertumbuhan antara 1981 dan 1991
masih 2,05%, jadi jangan diharap kurang dari 2% pada dekade
ini. Pertumbuhan penduduk di bawah 2 baru dialami pada dekade
1991-2001, yakni sebesar 1,63% (lihat tabel).

Seram sekali kalau KB tetap melempem dan tidak berdaya menekan
fertilitas (Variant I). Pertumbuhan penduduk antara 1991 dan
2001 menjadi rata-rata 3,05 setahun dan Indonesia dihuni 277
jiwa 20 tahun lagi. Dan lihatlah perbedaan jumlah penduduk pada
tahun 2001. Perbedaan antara KB tidak mempan Variant I) dan KB
sukses Variant III atau IV). Selisihnya puluhan juta manusia.
(Sumber: N. Iskandar, When Z.P.G. in Indonesia ?).

TABEL PENDUDUK INDONESIA (Jutaan)

VARIANT 1971 1981 1991 2001

I 1201 (2,49%) 1541 (283%) 2045 (3,05%) 277.3
III 1201 (2,35%) 1519 (2,17%) 1888 (1,87%) 227,7
IV 120,1 (2,32%) 151,5 (2,05%) 186,0 (1,63%) 218,9

Kembali kepada soal nomor itu, bukankah sesungguhnya program
kita nomor satu di dunia? Apakah sudah merosot jadi nomor dua
setelah menginjak periode Pasca Ji Sam Su? Atau setidak-tidaknya
nomor tiga?

Pembaca yang budiman, maaf seribu maaf, kita bukan nomor satu,
bukan nomor dua dan juga bukan nomor tiga dalam perkabean. Kalau
dipakai kriteria cepatnya menurun tingkat fertilitas, kita jelas
kalah cepat bila dibandingkan dengan RRC, Hong Kong, Taiwan,
Singapura, Korea Selatan, Sri Langka dan juga Thailand. Hasil
World Fertility Survey juga menguatkan hal tersebut, dilukiskan
dengan baik oleh tokoh demografi Dr. J.R. Rele (ahli ESCAP)
dalam Asian Pacific Population Programme News No. 4, tahun 1979.
Kita bukan nomor satu di Asia, juga bukan nomor satu di Asia
Tenggara atau di lingkungan ASEAN. Nomor dua tidak, Nomor tiga
juga tidak.

Pembaca yang budiman mungkin bilang, pendapatan per kapita
Singapura, Malaysia dan Thailand lebih tinggi dan karena itu
bukan untuk dibandingkan dengan Indonesia. Nah kalau begitu
program Indonesia juga bukan untuk dibandingkan dengan India dan
Pakistan yang pendapatan per kapitanya cuma separuh Indonesia.
Apalagi Bangladesh yang cuma sepertiga Indonesia dari segi
pendapatan.

Namun betapa pun juga, terlepas dari segala seluk beluk nomor
urut, program KB di Indonesia patut dipuji. Walau angka-angka
lengkap belum keluar, kita berani berspekulasi tingkat
fertilitas di negeri ini sudah menurun. "Di dalam ilmu silat
tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara
nomor satu," begitu ujar Rendra. Kiranya seperti ilmu surat,
dalam ilmu kabe pun juara satu tidak ada.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data