Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 53/X/28 Februari - 06 Maret 1981
   
Kolom

Diskusi sate kambing

Hipotesa rektor unpad hindersyah, tentang hubungan sate kambing & pertumbuhan penduduk didiskusikan. exposure kesuburan ibu menjadi tinggi. ditargetkan tingkat kelahiran untuk th 1990 turun 50%.

DI Universitas Pajajaran baru-baru ini ada diskusi sate kambing.
Forum diskusi panel, yang diatur menyerupai gulat Inoki-Ali
antar tokoh kependudukan itu, mesti diteruskan dengan makan sate
dan gule kambing di Gubernuran. Dalam pada itu juga telah
dibahas di luar sidang hubungan sate kambing dan pertumbuhan
penduduk. Hipotesa cemerlang ini datangnya dari Rektor
Universitas Pajajaran, Profesor Hindersyah.

"Bapak-bapak, sate kambing mempunyai hubungan positif dengan
tingginya tingkat kelahiran," ujarnya dengan amat sopan dan
lirih. Artinya, makin banyak bapak makan sate, makin tinggi
exposure kesuburan ibu untuk bereproduksi. Karena di Jawa Barat
orang suka sekali sate kambing, maka apa boleh buat kapan pun
waktunya indung telur lepas, selalu akan bersambut gegap
gempita.

Dokter Soemarno Kepala BKKBN Jawa Barat, segera tanggap akan
isyarat itu: "Bukan hanya sate kambing Bapak Rektor, tetapi
daging apa, mentah atau mateng, mempunyai potensi untuk
meningkatkan produksi." Karena gizi mesti ditingkatkan, tetapi
produksi anak mesti diturunkan, maka kontrasepsi menjadi usaha
nasional.

Bapak Gubernur, dengan bijak menanggapi teori itu melalui
pendekatan industrialisasi: "Beginiyah. Pabrik mah mesti terus
jalan. Siapa tahan disuruh puasa terus seperti saran Bapak
Masri. Tetapi soalnya bagaimana yah agar pabrik yang giling
terus itu tidak usah berproduksi."

Teori ini hanya boleh berlaku di bidang industri anak. Sedang
industri lain. wajib meningkat terus produksinya, biar pun mesin
pabrik suka berhenti umpamanya. Itulah sebabnya penting sekali
seluruh lapisan masyarakat dipempatkan.

Teori industrialisasi Gubernur itu dikeluarkan sebagai
tanggapan metoda tradisional yang didongengkan Masri dari hasil
penelitiannya. Katanya di Jawa, konsep tirakat dalam bentuk
suami istri tidak kumpul amat lazim dipraktekkan. Kalau perlu
dua tahun juga mesti ditahan. Waduh waduh sambut hadirin tak
percaya. Bapak Masri, amit, amit, lalu kalau malam kepingin
mesti makan apa? Di Yogya, terapi yang lazim konon dengan
merendam dalam air dingin. Ah, tentu saja suhu yang sudah naik
sampai di umbun-umbun kontan bakal beku, bila direndam air
dingin berjam-jam seperti itu.

Momok

Profesor Herman Suwardi, dengan gagah berani berteori tentang
hubungan sosial budaya dan kesuburan ibu.

"Begini, di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogya, orang yang
tampak jantan itu pada takut momok. Karena itu kopulasi banyak
hanya dilakukan karena kewajiban. Di Jawa Barat, baik menak
maupun jelata, kejantanan itu dibuktikan dengan sikap amat gagah
berani menghadapi momok. Kopulasi bukan hanya panggilan hidup,
tetapi perkara nomor hiji. Itulah sebabnya sejak dulu kala
sampai sekarang tingkat kesuburan ibu di Sunda tetap
tinggi-tinggi acan."

Saya baru tanggap kemudian, rupanya Profesor Herman bicara
dengan peristilahan Sunda.

Moderator, Akang Hidayat, menuding migrasi sebagai biang keladi
angka pertumbuhan Jawa Barat yang tinggi. Dari dulu Jawa Barat
dan Jakarta katanya selalu menjadi daerah penerima netto
migrasi seperti halnya Sumatera.

"Karena itu, macan Tiumang Sijunjung menyukai otak migran.
Bukan hanya sebagai natural check-nya Malthus, tetapi juga
karena rata-rata pendidikan migran lebih tinggi dibanding mereka
yang ditinggalkan. Walhasil otaknya lebih encer, lebih yahud
buat santapan."

Panelis yang tak mengira forum jadi panggung komedi itu,
nampaknya berketetapan untuk meningkatkan sekalian menjadi
seperti gelanggang tukang obat. Haryono dengan gayanya yang
khas berkobar-kobar hampir membakar ruang Serba Guna Unpad.
Permainan kata, silat lidah, diksi dan irama himbauannya,
memaksa hadirin mengangguk-angguk. Sebagai sopan santun.
Garis-garis penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian
ditarik dengan free hand sampai tahun 2000 dengan ketrampilan
yang menakjubhan, tanpa data-data pendukungnya. Ia meraba ke
sana meraba ke mari, membikin gelisah mereka yang terkena. Teori
kepadatan dan kelahiran, teori transisi demografi, teori
pembudayaan NKKBS dengan resep mrica, pala, garam dan kecap
seperlunya dibikin gamblang di seantero arena.

50% Tahun 1990

Manakala adu pandangan antar panelis sudah usai, hadirin yang
terengah-engah itu pun dipersilakan bertanya. Tiga empat babak
dilewatkan dengan aman. Pertanyaan-pertanyaan begitu sipil. Yang
untung Dr. Haryono, karena tak satu pun hadirin ingat menagih
gambaran, tentang target turunnya tingkat kelahiran dengan 50%
pada tahun 1990. Jangan risau. Jawabnya sudah dapat
diperkirakan. Target itu Insya Allah akan tercapai bila seluruh
rakyat berholobis kontul baris . . .


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data