Mandar Waktu Di Bengkulu Percetakan mandar, milik H. Ismail di Bengkulu banyak
dikenang. Di tahun 1940-an mesin cetak itu mencetak uang
Republik Indonesia, terdiri dari satu rupiah hingga lima puluh
rupiah dan uang ori. |
BENGKULU, 20 Agustus, 1945. Kota tepi pantai ini (waktu itu
masih disebut Bengkoelen), baru saja mendengar proklamasi
dikumandangkan di Jakarta, 3 hari yang lalu. Suasana hari itu
cukup meriah. Di kantor PTT (Pos, Telegram & Telepon) -- tempat
Barisan Keamanan Rakyat (BKR) bermarkas -- telah berkibar
bendera merah putih terbesar di kota itu. Sementara bendera
kertas menghias pagar-pagar dan halaman rumah.
Seusai asar, tentara Jepang menurunkan bendera yang berkibar
megah di tiang PTT. Akibatnya keesokan harinya, terjadi
pemogokan total. Tidak ada seorang Indonesia pun yang sudi
bekerjasama dengan Jepang. Tapi persetujuan akhirnya tercapai.
Pegawai Indonesia -- terutama yang di PTT -- mau bekerja
kembali, asal bendera merah putih tetap berkibar.
Pembuat bendera-bendera merah putih dari kertas adalah Ismail,
yang waktu itu berusia 41 tahun. Lewat mesin cetaknya yang
bermerk Tiong Soon dan pemotong kertas merk Karel Krause,
bendera-bendera tersebut telah turut menghangatkan suasana
menyambut kemerdekaan yang baru diproklamasikan.
A.K. Gani & Mr. Hazairin
Percetakan Mandar demikian nama perusahaan Ismail, banyak
dikenang. Surat kabar Merdeka keluaran Bengkulu, pernah pula
dicetak di Mandar. Mengapa dinamakan Mandar, karena Ismail
kelahiran Majene, Sulawesi Selatan. Di Bengkulu, selain sebagai
pemilik percetakan, Ismail waktu itu adalah juga anggota BKR dan
Ketua Komisi Keuangan Garuda Mas. Pangkat Ismail waktu itu
Peltu.
Beberapa lembaran uang yang berlaku waktu itu juga dicetak di
percetakan Mandar. Uang itu terdiri dari lembaran satu rupiah,
lima rupiah, sepuluh rupiah, dua puluh rupiah, dua puluh lima
rupiah, empat puluh rupiah, lima puluh rupiah dan dua lembar
uang khas, yaitu khusus untuk "Daerah Militer Istimewa Sumatera
Selatan". Jenis 25 rupiah ditandatangani oleh A.K. Gani sebagai
Gubernur Militer. Yang satunya lagi ialah uang "Mandat PMR"
seharga F. 1.000 ditandatangani Mr. Hazairin, Residen Bengkulu
waktu itu. Uang itu dikenal juga dengan nama ORI (Oeang
Repoeblik Indonesia) sebagai pengganti alat pembayaran buatan
Jepang.
Saat itu, karena sulitnya komunikasi, juga karena negara ini
masih berbentuk federal, setiap provinsi (yang mampu)
mengeluarkan mata uangnya sendiri. Ada mata uang yang tertulis
Republik Indonesia Provinsi Sumatera yang ditandatangani di
Bukittinggi oleh Teuku Hasan sebagai gubernur. Atau Provinsi
Sumatera Selatan yang ditandatangani oleh Mr. Hazairin di
Bengkulu.
Kini, mesin cetak (handpress) Tiong Soon, berikut pemotong
kertas, alat pelubang dan kumpulan huruf-huruf, masih disimpan
pemiliknya di Pare-pare. Pada tahun 1954 seluruh keluarga Ismail
hijrah dan memilih Pare-pare (Sul-Sel) sebagai tempat menetap
terakhir. Pada 1964, anak Ismail yang sulung, Syamsir Alam,
meneruskan usaha percetakan itu dengan tetap memakai nama
Mandar. Sisa-sisa alat percetakan yang diboyong dari Bengkulu,
masih bisa digunakan. Walau napas usaha ini senen-kemis.
Ismail sendiri -- yang sejak KMB mencopot segala pangkat
militernya -- tidak banyak kegiatan lagi. Usianya kini 67 tahun.
Rumah tidak punya, telinganya sudah sulit mendengar dan sepasang
kaki sudah setengah lumpuh. Harta yang tetap dimilikinya ialah
mesin cetak dan kumpulan uang yang pernah dicetaknya dulu --
sambil terus menunggu pengakuan resmi sebagai veteran.
|