Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 51/X/14 - 20 Februari 1981
   
Catatan Pinggir

Kami Semua Bersalah

Kami tetap akan mencarimu, menemukanmu & melindungimu. itu hanyalah suara di radio. anak yang tenggelam di laut bersama Tampomas II, tetap tidak tertolong dan tidak dapat ditemukan. kami semua bersalah.

KAMI akan tetap mencarimu, anak yang kehilangan pelampung,
begitulah radio itu bersuara. Serak, gemeretak, pecah-pecah,
storing. Laut tidak lagi nampak laut. Hanya gemerlap, sampai
jauh, dan suara radio itu mendesak-desak ke sana. Matahari
membersihkan langit. Angin merapihkan awan.

Kami akan tetap mencarimu, anak yang kehilangan pelampung,
begitulah radio itu berkata.

Tapi siapakah engkau, radio yang tak jelas gelombangnya? Kami
adalah sebuah sumber. Kami yang akan tetap mencarimu, anak yang
hilang dari kapal yang terbakar. Kami adalah sebuah pihak. Kami
adalah sebuah regu SAR, yang tak beralamat, yang tak berpeta,
tak berpasukan. Kami adalah sebuah pertanyaan yang penasaran,
sebuah pencarian yang tak bisa terbatas.

Katakan lagi, apa yang kau ingin cari. Kami berbunyi seperti
puting beliung, kami tak nampak seperti garis lintang, kami
tertera pada astronomi, kami bagian dari alam dan manusia. Kami
adalah yang mencarimu akan menemukanmu, menghapus terik hari
pada ubun-ubunmu, mengucurkan air es pada hausmu, menyisihkan
asin dari tenggorokmu.

Kami adalah rindang yang melindungimu, anak yang ditinggalkan
pelampung. Saudara yang bicara pada radio tanpa sender,
sebutkan apa maumu! Kami akan tetap mencarimu. Kami meniti
titik-titik dari Masalembo, menyeberang laut, ke pelbagai
paragraf dokumen pelayaran. Kami ingin tahu, kematian yang
manakah untukmu, siapakah yang menjemputmu, dan adakah ia
terbaring dengan mata merah dan memimpikan api.

Kau tak akan mendapatkan apa-apa, saudara yang bicara pada
radio, kau tak akan mendapatkan apa-apa. Anak yang hanyut itu
telah hanyut. Ikan-ikan telah memungutnya.

Ganggang dan gelombang telah menampung kesepiannya sampai ke
dasar. Di sana gelap hanya sebentar, kau tahu, sebuah khayal
bagi penyelam, sebuah ilusi pada snorkel, sebuah jarak yang
tak bersahabat. Tapi kami akan tetap mencarimu, anak yang
kehilangan pelampung, Sampai ke dasar laut, melihat koyakan
tubuhmu. Sampai ke dasar kantung dan kenangan sendiri --
karena kami semua bersalah, hallo, bersalah.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data