Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/X/24 - 30 Januari 1981
   
Daerah

Busiri, setelah soetran busiri, setelah soetran

Soetran mengakhiri masa jabatannya sebagai gubernur irian jaya. digantikan oleh busiri suryowinoto, (bekas dubes ri di png). (dh)

DI mana-mana di Irian Jaya memang terlihat pohon cengkih. Tapi
apakah jenis tanaman itu sesuai dengan kultur penduduk daerah
itu, masih harus dipertanyakan. Sebab, yang penting adalah
makanan pokok penduduk, ubi, ketela dan umbi-umbian lainnya.

Itu ucapan Busiri Suryowinoto, yang menerima jabatan sebagai
Gubernur Ir-Ja dari Soetran 20 Januari lalu. Karena itu, sebagai
gubernur, tambah Busiri, ia akan cenderung mempertahankan
makanan pokok itu. "Tidak usah berpaling ke beras, meskipun saya
tak akan melarang warga Irian makan beras," katanya beberapa
hari sebelum pelantikannya.

Bekas Dubes RI di Papua Nugini itu melihat dari segi pertanian
tanaman yang cocok bagi penduduk Ir-Ja adalah yang tidak
membutuhkan tenaga banyak untuk mengurusnya. "Sebab penduduk
Irian Jaya masih sedikit," tambah Busiri yang lahir di Madura 54
tahun yang lalu. Sehubungan dengan itu Busiri merasa perlu tetap
melancarkan pelaksanaan transmigrasi ke daerah itu. "Tapi agar
transmigrasi berhasil, penduduk penerima transmigran harus
diikutsertakan," saran Busiri.

Sebagai gubernur yang baru dilantik Busiri belum banyak melihat
masalah di daerahnya. Tapi tugasnya yang utama, menurut dia,
adalah menanamkan rasa kesatuan dan persatuan di kalangan
penduduk Ir-Ja. Apabila hal itu sudah dipahami benar, tambahnya,
program apa pun yang hendak dilaksanakan di daerah ini akan
mudah mencapai hasil.

Ia tak melihat Ir-Ja sebagai daerah rawan. "Daerah ini potensial
dan masyarakatnya memiliki ciri-ciri yang produktif," kata
Busiri, yang berpangkat Mayjen dan pernah (1960-1966) menjadi
Panglima Kodam Pattimura.

Busiri tampaknya tak mempunyai rencana yang muluk-muluk bagi
daerahnya. "Misalnya, tak perlu dibuat jalan yang hebat-hebat di
Ir-Ja," ucapnya. Sebab baginya yang penting, "jalan yang
benar-benar dibutuhkan untuk menembus keterpencilan."

Karena pernah bertugas sebagai Dubes di PNG, Busiri tampaknya
melihat perpindahan penduduk Ir-Ja ke negara tetangga itu dengan
kacamata yang lebih luas. Meskipun akhir-akhir ini jumlah
pelarian itu sangat kecil, "harus dilihat apa yang
menyebabkannya." Yang dia lihat di sana sekarang pada dasarnya
bukan penyeberangan atau pelarian. "Mereka hanya melewati
perbatasan untuk menjenguk keluarganya di daerah PNG,"
tambahnya, "jadi tak sepantasnya kalau serta merta dituduh yang
bukan-bukan."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data