Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/X/13 - 19 Desember 1980
   
Nasional

"Revolusi Dari Jawa Tengah"

Penjelasan pangkopkamtib Sudomo tentang peristiwa pengrusakan dalam kerusuhan rasial anti Cina di Ja-teng. (nas)

SUDAH siap?" "Siap pak," sahut juru kamera TVRI. Dan
Pangkopkamtib Sudomo, yang sebelumnya sempat meminjam sisir dari
wartawan yang duduk di sampingnya, segera mulai membaca. Yang
dibaca lima halaman penjelasan Pangkopkamtib tentang peristiwa
pengrusakan di Sala, Semarang dan beberapa kota lainnya di Jawa
Tengah. Itu dilakukan Sudomo seusai menemui Presiden Soeharto di
Bina Graha Senin siang lalu.

Keterangan pers itu adalah yang pertama dikeluarkan secara
terbuka oleh Kopkamtib, sekalipun diawali dengan kata "seperti
diketahui". Sebelumnya Pangkopkamtib dan beberapa pejabat lain
telah memberikan keterangan secara tertutup, antara lain pada
Komisi I DPR, para pemimpin redaksi media massa serta para alim
ulama.

Intisari penjelasan Sudomo ada'lah: gangguan keamanan dan
ketertiban di Sala, Semarang dan beberapa kota lainnya telah
dapat diatasi dan kini keadaan sudah pulih dan. berjalan normal
kembali. Para penggerak dan pelaksananya telah ditangkap dan
proses untuk menuntut yang bersangkutan di muka pengadilan
sedang berjalan.

Dalang

Pangkopkamtib membagi kerusuhan itu menjadi tiga bagian.
Aksi yang terjadi pada 20 November di Sala dianggap tindakan
balasan dari Pipit Supriyadi dan kawan-kawannya siswa SGO yang
melempari toko-toko di Jalan Urip Sumoharjo. Pipit, sehari
sebelumnya dipukul oleh Kicak yang kemudian lari dan bersembunyi
sebentar di toko Orlane di jalan yang sama (TEMPO, 6 Desember).

Yang kedua, aksi pengrusakan dan pembakaran yang dilakukan
pelajar SL TA dan mahasiswa pada 21 November dianggap merupakan
hasil hasutan pihak ketiga dan merupakan awal usaha pemanfaatan
insiden Pipit dan Kicak untuk tujuan politis.

Yang ketiga adalah aksi yang terjadi antara 22 sampai 25
November. Menurut Sudomo, ini merupakan aksi yang terorganisir,
sebagai bagian yang menyeluruh dari suatu rencana gerakanpolitik
yang telah dipersiapkan. Tujuannya: mencetuskan revolusi yang
dimulai dari Jawa Tengah dengan mengobarkan sentimen anti-Cina
atau rasialisme dan mempergunakan pelajar dan mahasiswa sebagai
kekuatan inti pelaksana.

Pengrusakan dan pembakaran di Semarang yang dimulai pada 24
November dan merembet ke beberapa kota lainnya termasuk dalam
rencana tersebut dan digerakkan melalui penyelinapan masuk kota
dengan mempergunakan sepeda motor. Organisasi gali (Gabungan
Anak liar di Sala dan Semarang telah memanfaatkan situasi dengan
melakukan perampokan.

Pengkopkamtib mengakhiri penjelasannya dengan menghimbau
masyarakat untuk tidak terpancing dan termakan isu-isu vang
tidak bertanggungjawab yang sengaja dilancarkan untuk mengacau
dan merusak. Siapa yang kedapatan melakukan perusakan dan
pembakaran diancam akan ditembak di tempat. Kepada WNI keturunan
Cina diperingatkannya untuk mawas diri, menunjukkan solidaritas
sosial, bersikap wajar dan senantiasa menyesuaikan diri dengan
masyarakat lingkungan.

Keterangan Pangkopkamtib Sudomo, walau belum menielaskan
benar tentang kerusuhan di ja-Teng bulan lalu itu cukup
mengagetkan. Terutama yang mengungkapkan bahwa tujuan
politis pihak ketiga itu adalah untuk mencetuskan revolusi.
Revolusi apa?

Dalang atau konseptor gerakan itu memang belum diungkapkan
Sudomo. Juga jumlah mereka yang ditahan atau diperiksa. "Nanti
kalau diumumkan bisa mengganggu pemeriksaan dan pengusutan,"
ujar seorang pejabat.

Di Yogyakarta, setelah aksi di Sala memang sempat muncul
pamflet yang antara lain bertuliskan "Revolusi Sosial". Apakah
ini ada kaitannya dengan gerakan itu?

Banyak pertanyaan memang belum terjawab. Kalau benar
kerusuhan di Ja-Teng merupakan bagian dari suatu rencana
revolusi, yang mau menunggangi aksi massa, bisa diduga
pemerintah di masa mendatang akan lebih keras mengawasi dan
menjaga kemungkinan serupa. Apakah gerakan serupa muncul akibat
tertutupnya saluran komunikasi dan perbedaan pendapat?

Perbedaan pendapat dengan pemerintah, menurut Sudomo,
adalah wajar. "Tapi jangan dipaksakan dengan kekuatan dan
kekerasan, tapi salurkan melalui lembaga-lembaga demokrasi dan
lakukan dengan semangat kekeluargaan, gotong-royong, musyawarah
dan mufakat," ujar Sudomo dalam penjelasannya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data