Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/X/13 - 19 Desember 1980
   
Kota

Dari Gedung Batu Masuk Kampung

Ketika terjadi keributan anti Cina Nopember'80, tak tersentuh oleh kerusuhan sedikitpun karena telah terjadi pembauran antara pedagang pribumi dengan non pribumi di pasar tersebut.(kt)

PENGELOMPOKAN pertama warga keturunan Cina di Kota Semarang
terjadi di Simongan, sekitar Gedung Batu sekarang. Yaitu tak
lama setelah Sam Po Tao Lang alias Dampu Awang pada 1412 M
mendarat untuk pertama kalinya. Waktu itu daerah Gedung Batu
masih berupa pantai. Untuk memperingati pendaratan itu, kini di
sana dibangun kelenteng yang terkenal dengan Kelenteng Gedung
Batu.

Pengelompokan kedua terjadi di zaman VOC, di daerah yang
kini terkenal sebagai Gang Warung, tak jauh dari Pasar Johar.
VOC waktu itu merasa perlu membatasi orang-orang Cina, sebab
dianggap berbahaya bila tinggal tersebar. Seorang residen
Belanda kemudian memperjelas batas pemukiman itu, yaitu di Gang
Warung dan Kampung Melayu.

Setelah Indonesia merdeka, pengelompokan itu membuyar.
Jumlah warga keturunan Cina bertambah, sehingga Gang Warung dan
Kampung Melayu tak mampu lagi menampungnya. Sehingga setelah
1960 diketahui "pecinan" baru muncul di daerah Tlogorejo, terus
ke kawasan Gedung Olahraga (GOR) Ja-Teng, sampai seputar Simpang
Lima dan Masjid Baiturrahman sekarang. Tapi penyebaran juga
sampai ke Jalan Gajahmada, terus ke Jalan Pemuda, sehingga jika
ditarik garis ke arah timur, akan bersambung dengan Pasar Johar
dan Gang Warung.

Mulai 1970 arus baru menunjukkan semacam gerakan "Cina
masuk kampung". Tak berkelompok, tapi perseorangan. Sasarannya
masih di tengah kota. Orang-orang pribumi ada yang menyingkir,
tapi sebagian lagi tetap bertahan. Di Desa Miroto misalnya mulai
ditemukan rumah orang-orang keturunan Cina di sepanjang jalan
masuk desa (kampung) itu.

Karena harga tanah di tengah kota semakin mahal, sekitar
pertengahan 1970 orang-orang keturunan Cina mulai memasuki
daerah pinggiran sebelah selatan dan barat kota. Lebih-lebih di
daerah Krapyak (barat) yang kemudian dikenal sebagai kawasan
industri. Penyebaran ini belum sampai membentuk "pecinan" baru.

Dalam usia yang sudah 433 tahun, Kota Semarang sekarang
berpenduduk hampir 1 juta jiwa. Tak mudah mengetahui berapa
banyak dari jumlah itu penduduk "nonpri", Yang pasti penduduk
asing Cina berjumlah 17.000 orang lebih.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data