Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 41/X/06 - 12 Desember 1980
   
Ilustrasi

Mengamankan Tabung Di apur

Kecelakaan-kecelakaan/bahayanya memakai tabung gas. elpiji dan gas makin banyak dipakai di dapur-dapur, meski punya risiko membahayakan.

LEDAKAN keras menyerupai letupan bom mengagetkan sebagian
penduduk Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sebuah tabung gas
melayang sejauh 200 meter, sebuah lagi terlempar 400 meter dan
menghancurkan bagian rumah yang dikenainya. Tapi berbarengan
dengan itu ledakan tadi juga menghancurkan satu tubuh manusia
yang sedang ada di dekat kejadian itu.

Itu terjadi 21 November lalu, di halaman PT Nila Alam,
sebuah perusahaan yang memproduksi gas asam di Jalan Letjen
Suprapto, Cempaka Putih. Ledakan itu berasal dari salah satu
tabung zat asam yang sudah tak terpakai namun masih menyimpan
gas. Diperkirakan tabung tua itu meledak karena bercampur dengan
ceceran oli dari beberapa mobil yang sedang diperbaiki di
dekatnya. "Zat asam akan berbahaya bila dekat dengan oli, solar
atau bahan bakar lainnya," tutur kepala bagian kendaraan PT Nila
Alam, Kasmir.

Tapi sehari setelah kejadian itu, di sebuah desa dekat
Ankara, Turki, 100 orang tewas karena ledakan tangki Elpiji di
dapur sebuah keluarga yang sedang melangsangkan pesta
pertunangan. selum diketahui sebab-sebab tangki itu meledak .

Yang pasti pemakaian Elpiji maupun gas (di Indo nesia
dihasilkan Perusahaan Gas Negara--PGN) selalu mengundang
kekhawatiran bila tak dikuasai seluk-beluknya. Kekhawatiran
ini juga dialami negara-negara lain, terutama di lingkungan
rumah tangga yang memakainya untuk bahan bakar di dapur.

Di Malaysia misalnya, sebuah majalah wanita yang terbit di
Kualalumpur belum lama ini mengingatkan bahaya pemakaian kompor
gas. Di negara ini pada 1979 seorang ibu rumah tangga tewas dan
seorang lainnya luka-luka. Dan tahun ini tercatat 16 buah rumah
terbakar habis, seorang mati. Semua karena ledakan tabung gas
yang dipakai di rumah-rumah tangga untuk kompor gas.

Penggunaan kompor gas di dapur-dapur memang praktis dan
bersih--selain juga tampak modern. Karena itu pemakaiannya, baik
Elpiji (buatan Pertamina maupun gas PGN), semakin banyak.
Tercatat misalnya tahun lalu, Elpiji digunakan oleh lebih dari
150.000 rumah tangga dan lebih dari 5.000 industri. Sedangkan
pemakai gas PGN di seluruh Indonesia tercatat 20.000 lebih,
rumah tangga maupun industri. Langganan terbanyak adalah di
Jakarta dan Bandung. Tapi bagaimana agar aman?

Menurut Kepala Divisi Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri
Pertamina, RF. Lucas, tabung-tabung Elpiji sudah cukup aman.
Tabung gas yang ada di rumah-rumah terbuat dari besi baja,
buatan Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara. "Kekuatan tabung
itu 6 kali tekanan uap Elpiji," tambah Lucas.

Selain itu, kata Lucas, setiap 5 tahun tabung yang dipakai
konsumen diuji ulang. Bahkan setiap pengisian ulang, tabung yang
berbobot 14,3 sampai 15,2 kg dan dapat diisi 13 kg gas, selalu
diuji secara visual. Artinya kalau catnya mengelupas, langsung
dicat lagi dan jika terlihat karatan diuji dengan tekanan air
untuk mengetahui bocor atau tidak.

Tapi bila regulator maupun saluran yang membawa gas ke
kompor bocor bahaya rak kurang pula. Regulator adalah alat untuk
mengatur tekanan gas yang keluar dari tabung. Kebocoran biasa
terjadi pada regulator buatan Taiwan y ang selama ini dikenal
telah memalsukan buatan Denmark yang dipakai Pertamina unruk
tabung Elpiji.

Ventilasi Dapur

Elpiji adalah nama dagang dari LPG (Liquefield Petroleum
Gas ). Gas ini terbuat dari campuran berbagai hidrokarbon,
sebagai hasil penyulingan minyak mentah. Gas yang berbentuk
cairan ini tidak beracun, meskipun berbau khusus. "Jika terjadi
kebocoran, akan timbul bunyi desis dan baunya menusuk hidung,
hingga cepat diketahui," tambah Lucas.

Elpiji dua kali lebih berat dari udara. "Jika terjadi
kebocoran, Elpiji akan mengendap ke bawah," Lucas bertutur lagi,
"karena itu, ventilasi dapur hendaknya dibuat rendah, agar gas
terbuang keluar." serbeda dengan itu, gas buatan PGN lebih
ringan dari udara. Artinya kalau bocor, gasnya akan mengambang
diudara. "Untuk pemakaian gas ini, ventilasi henciaknya dibuat
di bagian atas," nasihat Lucas.

Karena itu yang agak ruwet adalah pengamanan kebocoran di
rumah-rumah mewah, yang beralat pendingin. Sebab di rumah
seperti ini tentu saja gas akan terkurung karena tak ada jalan
keluar.

Stiker maupun folder yang selalu diberikan kepada setiap
pemakai Elpiji, rupanya tak banyak dimanfaatkan konsumen.
"Karena ibu-ibu rumah tangga umumnya malas membacanya," kata
seorang petugas dari Yayasan Lembaga Konsumen. Padahal dalam
folder itu misalnya dijelaskan, jika terjadi kebocoran, listrik
jangan dinyalakan atau dipadamkan. "Sebaliknya konsumen sering
salah sangka, dengan mematikan listrik dapat dicegah kebakaran,"
kata Lucas "padahal ketika mematikan atau menyalakan listrik,
justru timbul api yang dapat mengakibatkan kebakaran."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data