Air Cukup Yang Kurang Simposium di cisarua, membahas masalah air, faktor-faktor yang
menyebabkan kekurangan air, pemakaian air oleh sektor industri
ternyata melebihi kebutuhan penduduk & pencemaran oleh
industri lebih besar. |
TANPA disadari rupanya air tawar di Indonesia makin langka.
Selain jumlah penduduk yang makin meningkat, jumlah industri
yang kian bertambah juga menyebabkan persediaan air berkurang.
Suatu simposium membahas masalah air ini pekan lalu di Cisarua,
Bogor. Lebih 100 sarjana hadir dalam pertemuan itu yang
diselenggarakan bersama oleh Pusat Studi Pengelolaan Sumberdaya
Lingkungan dari IPB (Institut Pertanian Bogor), Kantor Menteri
Negara PPLH (Pengawas Pembangunan dan Lingkungan Hidup), suatu
instansi DKI Jakarta (PPPPL) dan suatu instansi di Bandung
(DPMA-DPU) yang menyangkut air. Hasilnya akan diajukan dalam
forum The Second Asian-American Conference on Environmental
Protection akhir September di Jakarta.
Banyak makalah masuk. Tapi tidak tampak penyelesaian masalah air
itu, yang sebetulnya sudah dikunyah ulang dalam berbagai forum
nasional maupun internasional. "Simposium ini memang tidak
bermaksud mengambil suatu kesimpulan," bela R.T.M. Sutamihardja.
"Sekarang hanya menghimpun berbagai pikiran," ujar ketua umum
panitia penyelenggara simposium itu.
Persediaan air tawar di bumi tidak pula banyak. Hampir 97,2%
atau 1,3 milyar km3 terdapat di samudra dan laut -- terlalu asin
untuk konsumsi manusia. Lebih 2% air tawar lainnya terbelenggu
sebagai es di kutub dan berbagai sunai es. Kurang dari 1% atau 8
juta km tersedia bagi konsumsi manusia dalam bentuk air tanah,
sungai, danau dandi atmosfera.
Di Indonesia konsumsi air dalam, tahun 2000 diperkirakan 0,45
km3 sehari. Ini kecil sekali dibanding pemakaian di Amerika
Serikat yang tahun 1960 sudah mencapai 1,2 km sehari. Secara
keseluruhan persediaan air di Indonesia masih cukup. Namun
lokasi geografis sumber air itu membuat perhitungan itu pincang.
Bila diterapkan pada keadaan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur
dan Barat, persediaan air sangat kritis pada tahun 2000 itu.
Karena masih ada waktu dua dasawarsa lagi, menurut Menteri Emil
Salim, masih terbuka kesempatan mengatasinya.
Ada anggapan bahwa penguapan air samudra dengan sendirinya
mengisi kembali kekurangan akan air tawar. Tapi soalnya ialah
pemakaian melebihi pengisian kembali. Sedikitnya dua faktor yang
menyebabkan kekurangan air: -- Daur hidrologi normal rusak
disebabkan penebangan hutan secara serakah. Air hujan tidak lagi
tertahan, tapi hanyut bahkan membawa serta lapisan tanah subur,
terbuang percuma ke laut.
Penambahan penduduk. Sumber air yang berkurang itu dibebani lagi
oleh pertumbuhan penduduk yang di tahun 2000 diduga mencapai 210
juta, termasuk di Jawa saja 145 juta.
Kini merupakan kenyataan pula di Jakarta bahwa air asin merembes
ke wilayah yang tadinya ditempati air tawar. Hal ini umumnya
terjadi di wilayah berpenduduk padat. Pusat industri, bisnis
perhotelan dan kompleks pemukiman di kota besar --seperti
Jakarta, Surabaya dan Medan -- mengandalkan kebutuhan air pada
sumur artetis. Tidak adanya pengaturan yang ketat dalam
pembuatannya diduga menjadi sebab perembesan air asin itu. Di
Jakarta kini diperkirakan air asin sudah merembes 13 km ke
pedalaman.
Banyak sumur artetis di Jakarta tidak tercatat resmi Noval
Nadjib, sarjana muda di jurusan Geografi, FIPIA-UI menulis bahwa
60% pemakainya sampai tahun 1977 adalah sektor industri/
perusahan.
Sampai tahun 1980 persentase ini tidak banyak berubah. Hanya
wilayah dengan sumur artetis terbanyak beralih dari Jakarta
Utara ke Jakarta Timur, karena perkembangan Pulogadung sebagai
kawasan industri. Dengan ini menonjol pula fakta bahwa sebagian
besar penduduk Jakarta mengandalkan sumur dangkal dan pompa
tangan sebagai sumber air mereka.
Pemakaian air oleh sektor industri tidak tanggung-tanggung. Ir.
Badruddin Mahbub dari Bandung menggambarkan, misalnya, industri
tekstil per 1 ton produksi membutuhkan 800 kali lebih banyak air
daripada kebutuhan seorang penduduk. Industri kertas sampai 3040
kali dan industri Mono Sodium Glutamate (MSG-bumbu masak) bahkan
8.000 kali!
Ajinomoto
Selain besarnya beban industri terhadap persediaan air tawar,
polusi yang ditimbulkannya cukup hebat. Tentang ini Mahbub
mengemukakan contoh sebuah pabrik tekstil dengan kapasitas 5 ton
sehari. Beban pencemaran oleh pabrik itu sebanyak 40.000 kali
pencemaran oleh seorang penduduk. Untuk parameter pencemaran
Mahbub menggunakan ukuran BOD (Biological Oxigen Demand), yang
mengungkapkan kebutuhan sesuatu badan air akan oksigen untuk
memproses zat pencemar. Makin tinggi nilai kebutuhan itu, makin
besar pencemaran, terlepas zat apa yang menjadi sebabnya.
Beban pencemaran oleh industri kertas lebih besar lagi. Dengan
produksi sehari sampai 10 ton, beban pencemarannya 100.000 kali
yang dibuat seorang penduduk. Rekor dipegang oleh industri MSG
(bumbu masak) seperti Miwon, Sasa atau Ajinomoto. Dengan
produksi 10 ton sehari, ditimbulkannya 576.000 kali pencemaran
oleh seseorang. Tulis Mahbub "Limbah satu industri saja dapat
mencapai ekivalen dengan puluhan ribu bahkan ratusan ribu
penduduk."
Ini rupanya pernah tidak terlihat oleh Ir. Bianpoen, pimpinan
PPPPL (Pusat Penelitian, Pengembangan Perkotaan dan
Lingkungan),DKI Jakarta. "Secara keseluruhan andil penduduk
dalam macalah pencemaran lebih tinggi dibandingkan air buangan
industri," tuturnya dalam suatu interpiu TEMPO.
|