Seorang Raja, Sebuah Cermin Di akhir hayatnya, dalam surat wasiat, Shah Iran tak
menyatakan telah bersalah. padahal banyak saksi hidup tahu
kekejamannya selama berkuasa. ia telah bersusah payah untuk
punya penampilan sebagai maharaja. |
TAPI ia tak menyesal. Bekas raja itu nampaknya tahu maut telah
menjemputnya, tapi tak ada pengakuannya tentang kesalahan apa
pun dalam hidupnya. Kalimat-kalimat surat wasiat itu seakan
monolog penghabisan seorang aktor tragedi sandiwara Yunani kuno
nadanya menimbulkan belas, tapi majestuoso. Kata-katanya
menyiratkan kesedihan, juga kepahitan, tapi sikapnya tegak.
Dengan kata lain Reza Pahlavi mengakui kalah di babak ini tapi
ia tak merasa bersalah. Dicatat dan disunting oleh Farah,
istrinya, dari pesan-pesann a menjelang ajal, dan diumumkan
Jumat pekan lalu di Kairo, surat wasiat itu nampak tetap ingin
menyatakan, bahwa almarhum menuliskannya "sebagai Raja Iran."
Dan ia bicara kepada rakyatnya.
Di Iran, di mana kabar kematiannya disambut dengan pernyataan
gembira oleh rakyat -- tapi dengan sikap diam yang misterius
oleh Imam Khomeini-kata-kata bekas Syah itu mungkin hanya akan
dianggap sebagai prosa yang menjengkelkan. Tapi jelas bahwa raja
yang dimakzulkan itu masih mencoba berharap: suatu saat nanti
Iran akan "dibebaskan", dan jasad sang raja akan dimakamkan
kembali di tanah airnya yang indah.
Ia ingin dikubur bersama para perwira Iran, yang dihukum mati
oleh pemerintahan revolusioner baru-baru ini. Sebagai pahlawan,
tentu.
Raja kedua dalam dinasti Pahlavi ini memang selalu yakin, bahwa
kerajaan akan langgeng di Iran. Dalam sebuah wawancara di tahun
1973, misalnya, ia mengatakan monarki di negerinya akan lebih
bertahan ketimbang pemerintahan-pemerintahan di Barat.
Ternyata tidak. Negeri-negeri Barat dalam keadaan terburuk masih
dapat memperbaiki dirinya dengan damai. Tapi di Iran, seorang
raja harus ditumbangkan untuk memberi peluang bagi pemerintahan
yang baru. Syah Iran di tahun 1973 itu salah duga. Di tahun 1979
ia terusir. Di tahun 1980 ia meninggal, di negeri asing.
Dan kronologi kemerosotan itu akhirnya berakhir awal pekan
lalu. Di upacara pemakamannya di Kairo, atas kebaikan Presiden
Mesir Anwar Sadat, jenazah sang bekas Syah hanya diiringkan dua
tamu penting seorang bekas raja lain (Konstantin dari Yunani,
yang juga terusir dari negerinya), dan seorang bekas presiden
(Nixon dari AS, yang copot sebelum masa jabatannya selesai).
Demikianlah dalam urr.ur 60 Reza Pahlavi jadi milik masa
lalu--seperti halnya setiap bekas.
Tapi kenapa kejatuhan itu terjadi demikian gampang? Inilah
pertanyaan yang selalu timbul, sejak Syah jatuh dan para
pengikut Ayatullah Khomeini menang--hampir-hampir tanpa senjata.
Memang banyak yang belum terjawab. Ketika revolusi Khomeini itu
terjadi, Syah punya 400.000 tentara dengan anggaran pertahanan
yang fantastis: Rp 6 trilyun untuk tahun 1977 saja. Tentara itu
adalah tentara yang telah disumpah, dan dikontrol, untuk
menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan, Syah dan Tanahair--Khoda,
Shah, Nihan.
Para perwira tingginya hidup di bawah pengawasan sang raja,
langsung. Tak seorang jenderal pun dari daerah boleh mengunjungi
ibu kota untuk menemui jenderal lain tanpa izin khusus dari
Istana. Karir mereka bisa habis begitu saja, jika Syah
menghendaki.
Di tahun 1961, misalnya, Syah memperlihatkan bagaimana ia
berkuasa: dengan sekali babat ia memecat kepala SAVAK, juga
kepala staf panglima tertinggi dan kepala intelijen militer.
Mereka tak berkutik. Ketika bekas kepala SAVAK itu, Jenderal
Bakhtiar, mencoba mengadakan oposisi dari Irak, tempat
pembuangannya, ia kemudian kedapatan terbunuh.
SAVAK sendiri merupakan tangan kekuasaan yang mencengkeram ke
mana-mana. Dengan nama panjang Saman-i Etelaatva Amjniat-i
Keshvar, atau Organisasi Informasi dan Keamanan Nasional, badan
ini ditakuti banyak orang. Mungkin kini, setelah Syah jatuh,
besar kecenderungan untuk melebih-lebihkan kekejamannya. Tapi
tetap banyak sekali saksi hidup tentang kesewenang-wenangan
SAVAK semasa jayanya, sebelum 1977.
Lembaga polisi rahasia ini memang bergerak untuk melumpuhkan
oposisi apa pun. Tiap saat mereka bisa membinasakan, atau
menangkapi para pembangkang, dan menyiksa. Menurut beberapa
kesaksian yang umumnya dipercaya, ada tahanan yang dipanggang
sampai hampir hangus di atas sebuah meja khusus. Yang lain
diperkosa, distrom, atau -- dalam teknik yang lebih
sederhana--dicampur sekamar dengan ular-ular hidup.
Syah sendiri tak mengakui lukisan yang mengerikan itu. Atau ia
memberi kesan tak tahu menahu. Tapi sejumlah saksi -- antara
lain penulis Iran Reza Maraheni--bisa bercerita tentang penjara
SAVAK yang disebut "gedung Komite" di Teheran pusat. Di sana
tiap malam terdengar jeritan panjang para tahanan. Dari sana
orang pulang, kalau pun bisa pulang, dengan cacat.
Ada kemungkinan, bahwa banyak kesaksian tentang itu tak bisa
dipercaya. Tapi tak ada cara untuk membuktikan. Tak ada lembaga
bebas yang boleh menyelidiki. Dan di bawah Syah, lembaga bebas
apa pun nampaknya mustahil. Aparat pemerintah, baik yang sipil
maupun yang militer, mengatur hampir semua kegiatan rakyat.
Diatas semua itu Syah.
Ini terutama berlaku untuk kehidupan politik. Sejak 1957,
misalnya, Syah membiarkan dua partai hidup di Iran. Yang pertama
Melliyun -- kemudian Partai Iran Novin--yang bertindak sebagai
"partai pemerintah'. Yang kedua Partai Mardom, yang bertindak
sebagai "oposisi". Tidak berarti telah berlaku sebuah demokrasi:
calon-calon kedua partai untuk bisa duduk di Majlis (Parlemen)
harus disetujui SAVAK lebih dulu. Kritik dibatas. Ketika
pemimpin Partai Mardom, Nqi Kani, di tahun 1972 mencoba
menyuarakan kritik yang lebih keras, ia dicopot. Di tahun 1974,
hal yang sama terjadi kepada penggantinya, Nasser Ameri.
"Seandainya saya seorang diktatur," kata Syah di tahun 1961,
"saa mungkin akan tergoda ulntuk mensponsori satu partai
tunggal yang dominan seperti yang dilakukan Hitler." Tapi raja
yang menganggap diri bukan diktatur ini di tahun 1975 tiba-tiba
mengumumkan: di Iran hanya akan ada satu partai, Partai
Rastakhiz (Kebangkitan Nasional). Sistem dua partai yang
merupakan demokrasi semu itu pun dibubarkan. "Kita harus
meluruskan barisan bangsa," kata Syah.
Dengan memandang bangsa Iran sebagai barisan yang tunggal, Syah
mengharuskan setiap orang Iran untuk memilih. Ia boleh selamat,
dengan percaya kepada monarki, konstitusi dan kepada program
landreform serta modernisasi yang dibanggakan sebagai "Revolusi
Putih". Atau bila tidak, ia bisa dianggap pengkhianat.
Dan pengkhianat, kata Syah dalam sebuah pidato resmi, "tempatnya
ialah dalam penjara." Pilihan lain selain penjara ialah
pengusiran. "Dia boleh meninggalkan negeri ini besok juga, tanpa
bayar ongkos eksit," kata Syah dengan sarkasme yang tak
tersembunyi lagi.
Partai Rastakhiz dengan demikian bukan lembaga untuk
mendengarkan suara dari bawah. Ia lebih berperan sebagai
penggerak dukungan bagi pemerintah. Sekaligus, ia jadi alat
untuk mendesak orang agar patuh kepada kekuasaan yang ada,
karena tiap orang harus menyatakan loyalitasnya.
Sampai sejauh mana ia efektif sebadi tcmpat para pendukung,
bisa diketahuikemudian. Di tahun 1977 Rastakhiz mengklaim
mempunyai 5 juta anggota--suatu jumlah besar bagi ukuran Iran
yang berpenduduk 33 juta. Tapi ketika revolusi Khomeini mulai
bergerak di tahun 1979, partai yang dipaksakan ini tak bisa
berbuat apa-apa untuk mencegahnya--lenyap bak gelembung sabun.
DARI sejak mula sebenarnya sudah narnpak, setidaknya bagi para
pengritiknya, bahwa basis dukungan kepada Syah memang tidak
luas. Juga meragukan. Syah tentu saja tak hendak mengakui ini.
Ia tak merasa bahwa rakyatnya lebih takut kepadanya daripada
sungguh-sungguh menyukainya. "Ketika saya kembali dari Amerika,"
katanya dalam wawancaranya yang terkenal dengan wartawan Italia
Oriana Fallaci, "Saya mengendarai sebuah mobil terbuka lewat
kota . . . dan saya disambut tepuk tangan gemuruh oleh
setidaknya satu juta orang."
Betapa pun, langkah-langkah represifnya yang makin keras kepada
tiap sumber kritik tetap menunjukkan, bahwa sang raja sendiri
tak yakin akan kekuatannya di tengah rakyat. Ada yang menduga
bahwa sebabnya berada di latarbelakang hidupnya pribadi.
Reza Pahlavi dibesarkan dengan rasa rendah diri. Bahkan sampai
ketika ia berada di puncak kekuasaannya, perasaan itu tetap
membekas. "Ia seorang yang tidak keras, malah sedikit takuttakut
dan pemalu," kata William Sullivan, Dutabesar AS terakhir
menjelang Syah jatuh. Wajah orang yang menggelari dirinya
sendiri "Cahaya Bangsa Arya" ini memang sayu. Tapi seorang
diplomat Inggris, yang sering menemuinya di masa terakhir
tahtanya, menilai lebih jauh. Dalam hidup pribadinya, Reza
Pahlavi memang pendiam dan peragu. Tapi sebagai pemimpin, dia
bisa lalim.
"Ia seakan bersusah payah untuk punya penampilan sebagai
maharaja," kata diplomat itu. Dan para sejarawan pun teringat
akan Reza kecil, yang dilahirkan di sebuah rumah buruk di daerah
rombeng. Tanggalnya tak begitu pasti, tapi diduga 26 Oktober
1919. Ayahnya, seorang serdadu pasukan Kossak yang setengah
butahuruf, kemudian ditakdirkan berhasil naik pangkat--dan
merebut kekuasaan. Reza kecil sudah berumur 6 tahun ketika
ayahnya menobatkan diri jadi raja, seraya memaklumkan bahwa
dinasti baru telah datan, "dinasti Pahlavi".
Maka anak tangsi itu pun sejak itu harus menyesuaikan diri
dengan tuntutan untuk jadi calon Syah. Dan sang bapak adalah
seorang yang keras bukan main dalam menuntut. Asyraf, saudara
kembar Reza, dalam memoarnya yang baru terbit, Faces in a
Mirror, mengenangkan bapak yang jangkungnya 1.98 cm itu dengan
seram "Tak kuingat, kapan aku pernah tidak takut kepadanya."
Betapa pun, si upik Asyraf lebih punya nyali dibandingkan dengan
Reza. Seperti yang terbukti kemudian, setelah dinasti Pahlavi
berkuasa, gadis tangsi yang kemudian disebut Putri Asyraf ini
lebih bernafsu dengan kedudukannya-dan menjadikan dia wanita
yang paling dibenci di Iran. Kawan-kawan keluarga Pahlavi suka
bercerita, bahwa sang ayah, Syah Reza yang tua, konon mengeluh:
"Si Asyraf mendapatkan semua bakat saya dalam menggunakan
kekuasaan, hingga si buyung Reza kehabisan."
Didera oleh tuntutan ayahnya almarhum, dan selalu dituding
sebagai anak yang lebih lemah, tak heran bila Reza muda kemudian
menjadi Syah yang ingin membuktikan kekuatannya.
Di tahun 1946 ia memimpin sendiri tentara Iran menghadapi
pasukan Uni Soviet yang menduduki provinsi Azerbaijan. Kemudian,
setelah beberapa kali percobaan pembunuhan atas dirinya, ia pun
menghantam balik dengan tangan besi. Dan akhirnya, dengan
petrodollar yang menderas, ia melakukan pembelian persenjataan
besar-besaran dari AS-hingga kalangan CIA sendiri mulai
menyebutnya sebagai orang yang "gila kekuasaan".
Tapi bukan psikologi Reza Pahlavi saja yang menyebabkan sang
raja bertindak begitu. Paa akhirnya dinasti Pahlavi memang
cenderung menjadi kediktaturan ia tak cukup didukung oleh
lapisan sosial yang luas dan kuat. Tidak para petani, tidak kaum
buruh, dan tidak juga kaum bazari yang berdagang di kota-kota
merasa bahwa monarki itu milik mereka.
Landreform yang digerakkan Syah sejak awal 1962 -- dengan
dorongan pemerintahan Presiden Kennedy di Washington -- memang
suatu ketika menimbulkan harapan dan sambutan rakyat, terutama
di pedesaan. Tapi di akhir tahap ketiga dari landreform itu,
setelah 1968, ternyata hanya 1,6 juta keluarga yang memperoleh
tanah. Artinya, di bawah 50% dari seluruh keluarga pedesaan
Iran.
Sementara itu masalah baru timbul. Produksi pertanian ternyata
tak naik oleh "Revolusi Putih". Hal ini sebenarnya lumrah
--setidaknya untuk sementara waktu. Tapi pemerintah Iran, demi.
menjaga kepuasan kelas menengah di kota-kota, segera memutuskan
untuk mengimpor pangan. Jumlahnya makin meningkat, dan
petrodollar membantu hal ini. Tapi dengan demikian pertanian
Iran dibiarkan tak cukup siap untuk swasembada.
Lemahnya produktivitas pertanian itu juga yang menyebabkan Syah
sejak pertengahan 60-an mengambil langkah lain. Di satu pihak
para pemilik tanah baru didorong untuk bergabung dalam
perusahaan pertanian yang diurus negara. Di lain pihak,
perusahaan swasta -juga dari luar negeri--diundang bekerja
dengan teknik mutakhir agribisnis yang tak menghendaki banyak
tenaga buruh.
Yang pertama akhirnya tak memberi kesempatan kepada petani untuk
menjadi tuan di wilayahnya sendiri. Majikannya yang dulu, tuan
tanah, kini diganti dengan majikan baru: negara. Hadirnya aparat
pemerintahan Syah sampai ke kehidupan ekonomi desa bukan saja
mempercepat rontoknya hubungan sosial yang ada di pedalaman. Hal
itu juga memungkinkan berjangkitnya korupsi dan ketidakpuasan.
Masuknya agribisnis sementara itu telah menghalau tenaga buruh
yang berlebih ke pelbagai shahrak, kota-kota baru yang kumuh dan
nestapa . . .
"Sosialisme dari Revolusi Putih saya," kata Syah suatu hari,
"adalah suatu rangsangan untuk kerja." Dalam prakteknya,
"Revolusi" dari atas itu hanyalah rangsangan baru
ketidak-puasan, karena harapan-harapan yang tak terpenuhi.
SYAH, dan para pendukungnya, memang kemudian menyadari
ketidak-puasaan itu. Tapi umumnya mereka menganggap, hahwa
sumbernya-ialah para ulama yang konservatif--para mullah yang
menguasai tanah wakaf yang terkena oleh landreform. Mungkin
benar, sebagian. Tapi statistik menunjukkan, bahwa tanah yang
dikelola oleh lembaga keagamaan hanya 1-2% dari seluruh tanah
yang ada. Sementara itu 56%-nya dimiliki para tuan tanah besar.
Mereka ini, yang kekuasaannya meliputi lebih dari 100 hektar,
setelah landreforrn masih bisa terus mengalihkan kekayaannya
dalam usaha lain. Dan semua ini tak mengurangi perbedaan sosial
yang menyolok, yang tak pernah hilang dari Iran.
Itu tak berarti, bahwa Reza Pahlavi, sebagai Syah, tidak ada
harganya sama sekali dalam sejarah. Musuh-musuhnya menuduh dia
"boneka Amerika", tapi orang bisa juga melihatnya sebagai
seorang patriot. Peran pemerintah dan kalangan bisnis AS memang
sangat besar dalam menegakkan pemerintahannya. Tapi seperti
terlihat dalam kasus kenaikan harga minyak, Syah bisa menolak
untuk didikte.
Dalam kerumitan hubungan internasional memang sebenarnya tak
pernah ada hubungan dalang-dan-boneka. Yang ada ialah pertemuan
dan persekongkolan kepentingan. Maka adalah ironis bahwa
beberapa hari sebelum mati, Reza Pahlavi sempat menuduh Mehdi
Bazargan, perdana menteri Iran pertama di bawah Khomeini,
sebagai "boneka Inggris-Amerika". Dan mungkin ia tulus ketika
dalam surat wasiatnya ia mengenangkan keindahan ladang di pantai
Kaspia dan "puncak Zagros yang meng hijau di Kurdistan."
|