Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/X/09 - 15 Agustus 1980
   
Film

Serial akan pribumi

Tvri akan membuat film serial, produser film belum tertarik, karena dananya terlalu kecil. padahal peralatan dan kemampuan tersedia.

DAN kemudian diputarlah film The Planet of the Apes sebagai
pengganti film yang biasa diputar setiap Jumat malam. Di mana
digiambarkan bahwasanya manusia tunduk pada kekuasaan yang
dipegang para kera yang dapat bicara . . ."

Itu adalah surat pembaca yang dimuat Kompas, mengritik TVRI,
untuk kesekian kalinya. Beberapa ayat Al Qur'an bahkan dikutip
penulis surat itu. Tapi didengarkah suara semacam itu "Kini
pasti memperhatikannya cap R. M. Sunarto, kepada Sub
Direktorat Siaran TVRI.

Ia mengakui banyak kritik yang datang bernada emosional.
"Biasanya itu datang dari daerah-daerah yang kuat kehidupan
agama dan adat-istiadatnya," katanya. "Kalau' hal semacam itu
tidak diperhatikan tata kehidupan sosial masyarakat di sana bisa
guncang."

Banyak anjuran supaya TVRI membuat film serial sendiri. Memang
itu sudah menjadi program TVRI dalam Pelita III ini, ujar
Sunarto.

Film serial yang selama ini disewa TVRI, antara lain dari
Amerika Serikat dan Inggris, terlalu banyak menggambarkan
kekerasan. Pihak TVRI sendiri rupanya menyadari bahwa film
kekerasan bisa menimbulkan efek negatif. Kritik yang datang
padanya sudah bertubi-tubi. Misalnya film serial Combat dan
Mission Imposible pernah distopnya setengah jalan.

Tapi apakah film serial yang akan dibikin sendiri itu berisi
propaganda yang menjemukan? Sunarto menjawab: "Propaganda
sekarang bukan zamannya lagi. Akan dipilih cerita-cerita yang
temanya dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari."

Sekarang ia sedang berembuk dengan Dinas Kebudayaan tentang ke
nungkinan membuat film serial mengenali anthropologi sosial.
Misalnya tentang 3 mahasiswa jurusan anthropologi yang
mengadakan riset untuk pembuatan skripsi. Mereka melakukan
penyelidikan dari Sabang sampai Merauke. Tentu saja
suka-dukanya yang akan direkam dalam film itu. "Semacam
petualangan anak-anak muda yang tak akan ada habisnya," katanya.

Berapa dana yang tersedia, Sunarto enggan menyebut. Tapi Abbas
Wiranatakusumah dari Metro 77 yang mengaku diberi peluang oleh
TVRI untuk menggarap film serial bertema perjuangan dan
kepolisian, menyebut TVRI menyediakan Rp 3 juta untuk film.
Dengan peralatan dan krvawan dari TVRI.

Menurut perhitungan Abbas sendiri, untuk produksi film 60 menit
dengan 16 mili, dibutuhkan biaya Rp 6 juta. Ini jauh lebih
tinggi ketimbang harga sewa tilm impor -- berkisar US$ 200
sampai US$ 1000 (Rp 630 ribu) untuk sekali putar. Karena itu,
mengenai pembiayaan belum ada persesuaian. Jumlah Rp 3 juta
dianggap terlalu sedikit untuk produksi film lokal. Kalau teknis
pembuatannya menggunakan kamera video, mungkin bisa lebih hemat.

Belum Siap

Tapi Metro 77 konon akan membuat film percobaan--dengan biaya
sendiri--terlebih dahulu. "Modal kami cukup untuk itu," kata
produser yang barusan memroduksi film Janur Kuning itu. Pihak
TVRI mencari sponsor untuk produksi Metro 77 nanti. Dan uang
yang diperolehnya akan dibagi dua, ujar Abbas lagi.

Selain Metro 77, perusahaan film lain belum tertarik untuk
membuat film serial televisi. Hendrik Gozali, pemilik perusahaan
Gemini Film, misalnya, kepada TEMPO mengatakan bahwa di bidang
produksi film cerita biasa saja ia sudah sangat sibuk.

Untuk membikin film yang hanya bisa dijual pada televisi, ia
merasa belum siap, baik dari segi perhitungan untungrugi maupun
peralatannya. "Sebab untuk film 16 mili, alat-alatnya 'kan juga
harus khusus," kilahnya.

Metro 77 yang tak khawatir akan peralatan, sudah menghubungi
sutradara Chaerul Umam untuk menangani beberapa film yang akan
diproduksinya. Mengenai dananya yang kecil, Mamang--begitu sang
sutradara dipanggil--tidak mempersoalkannya benar. "Tentu saja
saya tidak bisa memakai bintangbintang film yang sudah
terkenal," katanya. "Harus pakai pemain-pemain baru--yang
honornya tidak mahal."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data