Miskin Di Laut, Menderita Di Darat Semula penduduknya tinggal di rumah panggung di atas laut,
lalu mencoba hidup di darat (di tanah timbul), keadaan tetap
miskin. (ds) |
SEGARA Anakan, yang memisahkan pantai Cilacap dengan Pulau
Nusakambangan di Jawa Tengah, makin dangkal. Sebelum 1970,
kedalaman rata-rata di perairan itu pada waktu air surut sekitar
4 meter. Kini tinggal sekitar 2 meter lagi karena serbuan lumpur
dari sungai-sungai yang bermuara di sana Kali Donan, Citanduy,
Sapuregel, Kembangkuning, Dongol.
Pendangkalan itu mendorong orang-orang Kampung Laut mencoba
hidup di darat, di pulau yang lebih tepat disebut tanah timbul.
Dulu, mereka hidup di rumah-rumah panggung dari bambu atau kayu,
11/2 meter di atas perairan-Segara Anakan. Jumlah mereka sebelum
1970 sekitar 1.800 kk atau 9.000 jiwa. Kini kampung itu tinggal
terdiri atas 40 rumah panggung, dihuni 100 kk atau 700 jiwa.
Mereka berkelompok sekitar Kampung Bugel di Desa Penikel.
Sebagian besar di ntara mereka ternyata memilih hidup di
tanah timbul seperti Ujung Alang, Ujung Gagak dan Karanganyar
(Penikel), di Kecamatan Cilacap. Alasan utama perpindahan
besar-besaran ini nampaknya di samping karena pendangkalan tentu
saja sebab semakin habisnya ikar di perairan tersebut. Sebab
kalau air surut, Segara Anakan berubah menjadi daratan. Dengan
begitu nelayan-nelayan kecil itu pun lantas kehilangan mata
pencarian.
Sebelum terjadi pendangkalan di kawasan itu, seorang nelayan
bisa menghasilkan ikan seharga Rp 2.000 setiap hari. "Sekarang
paling-paling hanya Rp 500 itu pun kalau lagi musim ikan," kata
Soekardjo, 50 tahun, yang menjadi kepala desa sejak 1937. Para
nelayan kecil itu hanya bermodal jukung dan jala plastik atau
kail. Di Segara Anakan terdapat jenis ikan sungai.
Untuk mencapai tanah-tanah timbul itu tidak mudah. Satu-satunya
jalan hanyalah lewat perairan Segara Anakan. Ujung Alang
misalnya, dapat ditempuh 3 jam dengan perahu motor dari Cilacap.
Tak ada jalan darat yang menghubungkan kedua tempat yang
jaraknya 20 km itu. Luasnya sekitar 2 km persegi, Ujung Alang
dihuni 700 kk atau 3.600 jiwa, lebih separuhnya anak-anak. Rumah
mereka kebanyakan gubuk beratap rumbia berlantai tanah lembab.
Setelah beberapa tahun hidup di darat, keadaan mereka tak banyak
berubah. Tanah timbul itu tak beda dengan tanah rawa. Jika laut
pasang, desa ini digenang air setinggi 50 cm. "Pada bulan
(musim) ke satu sampai bulan ke tiga desa ini bebas dari air.
Tapi mulai bulan ke empat sampai ke dua belas, kami terus
berendam air, bergantian siang dan malam," tutur Soekardjo.
Seputar desa nyaris tiada lagi tanah kering. Yang ada cuma
kubangan-kubangan air bercampur lumpur. Baunya menyengat.
Penyakit kulit menyerang sebagian besar penduduk Wabah kolera
dan muntaber pun tak asing lagi bagi mereka.
Penjaga Pantai
Biar begitu mereka tetap ngotot hidup di darat. Malahan kini
mereka berusaha membuat jalan sendiri sepanjang 2 km. Mereka
mengangkut tanah liat dari pinggiran sungai untuk mengeraskan
jalan desa itu. Dan untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka
mendayung sampan selama 3 jam ke Nusakambangan.
Merasa makin terjepit, mereka lantas bertekad menjadi petani.
"Tahun ini juga kami akan mencoba menggarap kebun dan ladang di
Nusakambangan," kata Lurah Soekardjo. Mereka memang masih
mencari ikan, tapi setidaknya hasil kebun bisa menambah
penghasilan. "Sekarang kami menunggu pembagian tanah garapan,
bibit tanaman dan alat bertani," tambah Soekardjo.
Mereka rupanya masih enggan bertransmigrasi. "Karena kami ini
mendapat pesan dari sesepuh agar tidak meninggalkan tempat ini,"
ujar seorang tua di Ujung Alang. Penduduk Kampung Laut di Ujung
Alang, Ujung Gagak dan Pemkel merasa sebagai keturunan para
prajurit Panembahan Senopati, Raja Mataram abad ke-16.
Dahulu kala perairan itu merupakan pos penjagaan Kerajaan
Mataram, dijaga oleh para prajurit pilihan. Mereka lantas
menetap di sana dan beranak-pinak. Karena itulah anak turun
penjaga-penjaga laut itu merasa mendapat pesan untuk
tidakmeninggalkan pos penjagaan pantai itu.
Produksi anak di sini membengkak dari tahun ke tahun. Tahun lalu
misalnya, tak kurang dari 200 bayi dilahirkan, sedang angka
kematian cuma 30 orang. Setiap keluarga rata-rata dibebani 5
orang anak. Pemda Kabupaten Cilacap rupanya sudah memberi
perhatian pada keadaan penduduk di sana. "Bantuan sudah
diberikan secara bertahap, mungkin hasilnya belum bisa
dirasakan," kata Bupati Pudjono Pranjoto.
|