Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/X/19 - 25 Juli 1980
   
Catatan Pinggir

Negeri Islam Yang Kontradiksi

Film the death of a princess dikutuk pemerintah arab saudi karena dianggap menghina islam. arab saudi memang kadang-kadang dipuji sebagai negara islam yang ideal. tapi negeri itu dikecam oleh iran.

JULI 1977, Putri Mishaal dihukum mati. Dalam cadar hitam di
siang hari yang panas tubuhnya ditembak di sebuah lapangan
parkir kota Jeddah.

Di sebuah jamuan makan di l ondon seorang tokoh bisnis Arab
menceritakan peristiwa itu di depan tamu lainnya sedemikian
menarik, hingga seorang pembuat film bangsa Inggris tergerak. Ia
menyuSuri cerita itu.

Dan begitulah awal bertolak film The Death of A Princess, yang
menurut pemerintah Arab Saudi, merupakan penghinaan bagi umat
Islam.

Tapi siapa yang menyangka bahwa film ini menyajikan adegan cinta
terlarang yang bergelora, atau lukisan eksekusi berdarah yang
terperinci, pasti akan kecewa. Tbe Death of A Princess pada
dasarnya bukanlah sebuah film cerita. Ia sebuah film dokumenter,
atau bertindak sebagai sebuah film dokumenter: suatu pemfilman
kembali proses pencarian sang sutradara, ntony Thomas, ke latar
belakang Paffaire Mishaak.

Thomas berangkat dari London ke Lebanon yang suram oleh perang
saudara, dan kemudian ke Arab Saudi. Ia mengetuk banyak pintu
dari orang yang diduganya mengenal putri yang tragis itu. Ia
bertanya, dengan muka pasif seorang peneliti sejarah. Ia
terkesima kenapa putri remaja itu lebih baik memilih dihukum
mati dengan tiga kali mengaku berzina --padahal tak ada saksi
dan ia bisa diampuni. Semacam proteskah yang dilakukan gadis
itu? Atau cuma gairah hati yang muluk?

Tak ada jawab yang final. Adegan silih berganti. Sebagian
terdiri dari percakapan. Sebagian besar tanyajawab--dengan lebih
banyak tanya berkumandang. Putri Mishaal sendiri (dimainkan oleh
seorang aktris Mesir yang tak terkenal) dalam film ini hanya
ditampilkan beberapa detik, dalam flashback, lewat penceritaan
orang lain. Pacarnya--orang yang dituduh telah berbuat zina
dengannya-juga cuma nampak selintas seorang pemuda yang dengan
igal dan jelabah putih nampak hijau serta tolol.

Kita tidak tahu telah bersalahkah mereka, atau goblokkah mereka,
atau heroikkah mereka. Film ini dengan nada rendah, praktis
monoton, nampak berusaha mengambil gaya "obyektif" sebuah ilmu
jurnalistik untuk siaran berita.

Tapi pemerintah Arab Saudi menuluh film ini merupakan penghinaan
bagi umat Islam.

Memang tak bisa diingkari dalam kehendak menampilkan gaya
"obyektif"nya The Death of A Princess toh membiarkan beberapa
tanda seru. Di sebuah rumah di Jeddah, seorang guru wanita
dengan sengitnya mengecam pemerintahan dinasti Saud yang baginya
tidak identik dengan Islam.

Wanita muda ini, tak ayal lagi, adalah contoh seorang calon
pembangkang. Tiba-tiba kita bisa menarik semacam garis, betapa
pun tipis, antara dia dengan kaum revolusioner di Iran. Atau,
mungkin juga, dengan sejumlah pemuda yang menggegerkan dunia
ketika mereka menduduki Masjid Suci di Mekkah beberapa waktu
yang lalu, di hari pertama tahun Hijriyah yang sekarang. Dan
pertanyaan yang timbul ialah bila The Death of A Princess
nampak lebih bersimpati kepada mereka ketimbang kepada
pemerintah Arab Saudi, dapatkah ia dianggap "anti-Islam"?

Kita baca buku Militant Islam yang ditulis G.H. Jansen setahun
yang lalu. Ia mungkin bukan buku yang enak beberapa
kesimpulannya meleset dan beberapa pertanyaannya menggelisahkan.
Tapi apa yang ditulis Jansen tentang Arab Saudi agaknya layak
didengar: dalam hubungannya dengan Islam militan, Arab Saudi
adalah "kasus yang paling ganjil". Sebab di sana, di negeri
induk dari agama Islam ini, "Islam militan hadir, telah hadir
selama setengah abad atau lebih, akan tetapi, secara nyata dan
sebenar-benarnya, tidak hadir dan tidak pernah hadir".

Dengan kata lain, sebuah kontradiksi. Kontradiksi itulah yang
agaknya menyebabkan Arab Saudi di satu pihak dipuji sebagai
negeri yang mendekati ideal pemerintahan Islam (tokoh Islam
Indonesia Moh. Natsir termasuk yang menyatakan demikian).
Sementara itu, di pihak lain, negeri itu dikecam oleh kaum
revolusioner di Teheran.

Dalam kontradiksi itulah kita jadi bertanya lebih banyak, dan
berjalan lebih jauh. Lebih dari Antony Thomas. Sebab yang kita
dengar bukan sekedar ledakan bedil dan matinya seorang putri,
tapi mungkin gemuruhnya sebuah diskusi dan matinya sejumlah
ilusi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data