Apa Ruginya Tanpa Joko Radio australia dianggap menyiarkan berita menghasut (masalah
timor timur), sehingga wartawan joseph p. coman (joko) yang
ditugaskan menggantikan allan morris tidak bisa mendapatkan
visa indonesia. (md) |
BANYAK teman memanggilnya Joko. Nama itu melekat pada diri
Joseph P. Coman ketika ia pertama kali bertugas di Jakarta tahun
1972-74. Orang Australia itu ramah dalam pergaulan dan lancar
berbahasa Indonesia.
Kini berada di Melbourne, Coman ditugaskan lagi pergi ke Jakarta
oleh Radio Australia. Ia sudah mengajukan permohonan visa
Indonesia sejak Desember. Ternyata tidak gampang urusannya.
Semestinya ia sudah hadir di Jakarta ketika rekannya, Allan
Morris, ditarik kembali ke Melbourne Januari lalu. Tapi Coman
masih belum bisa mendapat visa dari Kedutaan-besar RI di
Canberra. Kenapa?
Biasanya Departemen Penerangan menangani soal permohonan
wartawan asing yang hendak memasuki Indonesia. Deppen telah
menolak permohonan Coman, tapi bukan karena pribadi Joko yang
dikenal simpatik itu. Adalah Radio Australia sesungguhnya yang
ditolak, karena pemberitaannya yang, menurut sebuah siaran pers
Deppen pekan lalu, "tidak benar tentang Indonesia."
Deppen juga menilai banyak pemberitaan Radio Australia, terutama
yang disiarkannya dalam bahasa Indonesia bersifat "menghasut dan
menjurus ke tindak subversi. " Ini ditanggapi serius di
Canberra, hingga parlemen bertanya pada pemerintahan Fraser.
Lantas Menlu Andrew Peacock menjawab pemerintahnya sangat
menyesali sikap Deppen itu.
"Radio Australia adalah suatu organisasi independen yang telah
memperoleh reputasi di seluruh dunia yang patut ditiru karena
ketepatan dan integritas pemberitaannya," demikian Peacock. Tapi
pihak Deppen punya sejumlah contoh pemberitaan Radio Australia,
kebanyakan soal Timor Timur, yang dianggapnya terlalu
sensasional dan berlebih-lebihan.
Pers Australia umumnya memang tidak begitu bersahabat dengan
Indonesia dalam soal Tim-Tim. Suka dan sengaja ditonjolkannya
segi negatif. Tim-Tim memang termasuk prioritas pemberitaan
Radio Australia, yang tampaknya terbawa oleh arus prasangka pers
Australia umumnya terhadap kebijaksanaan resmi Indonesia.
Radio Australia adalah media untuk siaran luar negeri dari
Australian Broadcasting Commission (ABC). Di dalam negerinya,
ABC itu yang dikenal masyarakat lewat pesawat radio maupun
televisi.
ABC hidup dari anggaran pemerintahlan tidak memperoleh
penghasilan dari iklan. Untuk tahun anggaran 1979-80, ABC
mendapat A$ 150,3 juta. Namun ia tetap bebas dalam segala hal.
Sifatnya sama dengan BBC London.
Redaksi ABC berpusat di Sydney. Wartawannya terpencar di banyak
penjuru dunia, tapi ABC juga memakai bahan laporan dari berbagai
kantor berita internasional. Berita yang ditampung dan diolah di
Sydney itu mengalir ke Melbourne untuk keperluan Radio
Australia. Tapi staf Radio Australia bebas memilih, bahkan boleh
langsung mengutip laporan kantor berita. Pokoknya, asalkan cepat
mengudara.
Sebelum tahun 1965, kantor ABC di Jakarta masih kecil dengan
staf dua orang saja. Mulai 1965, kantornya dilengkapi dengan
tenaga khusus untuk urusan Radio Australia yang fasih berbahasa
Indonesia. Mereka membina hubungan dengan para pendengar siaran
Indonesianya -- kini 9 jam sehari -- antara lain dengan mengolah
surat-surat lan melayani segala permintaan akan brosur, acara
siaran dan buku pelajaran bahasa Ingris.
"Lebih 20.000 surat tiap bulan kami terima dari para pendengar
Indonesia," kata Warwick Beutler, wartawan ABC di Jakarta.
Beutler tampak kewalahan bekerja di lantai 13, Wisma
Metropolitan, sementara menunggu kedatangan Coman.
Di kantornya yang lega dan nyaman itu (sewa US$ 20.000 setahun),
sang wartawan punya ruang khusus untuk merekam suaranya.
Melalui hubungan telepon, rekamannya itu bisa cepat tiba Sydney
atau Melbourne. Tersedia pula teleks di kantornya untuk
pengiriman berita.
Umumnya wartawan ABC yang bertugas di Jakarta tidak pandai
berbahasa Indonesia. Selama ini ia justru tertolong dengan
kehadiran pejabat Radio Australia untuk memahami perkembangan
lokal. Karena pejabat radio itu berbahasa Indonesia dan
sekaligus jadi penterjemah. "Dengan hadirnya orang Radio
Australia," kata Beutler, "negeri ini tentu akan lebih mudah
dipahami."
|