Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 10/X/03 - 9 Mei 1980
   
Ekonomi dan Bisnis

Menyulut Inflasi April

Melonjaknya harga gula & terigu di beberapa daerah akan mempengaruhi inflasi April ini, karena kedua komoditi tersebut merupakan komponen utama makanan pada indeks 150 bahan.

MAIN-main spekulasi belakangan ini memang seperti epidemi.
Buktinya, yang pasang kuda-kuda untuk menghadapi kenaikan harga
BBM yang diperkirakan jatuh April ini ternyata bukan pedagang
semen saja. Harga gula pasir ikut latah naik rata-rata 15 %
menjadi Rp 300 sekilo dibandingkan harga awal Maret.

Di Tarakan, Kal-Tim, gula pasir selain memang sulit ditemukan,
baru bisa diperoleh jika berani membayar Rp 500-Rp 600 per kg.
Ini lebih dua kali lipat dari harga rata-rata Maret lalu. Bahkan
di pedalaman provinsi itu si Putih naik gengsinya mencapai Rp
1.000 satu kg.

Di Surabaya, yang sampai pekan lalu berhasil mengerem harga
semen, juga terjadi kenaikan. Menurut H. Ishadi, Ketua Asosiasi
Penyalur Gula dan Terigu (Apegti) Ja-Tim, kenaikan gula
disebabkan berkurangnya persediaan. Dan A.A. Fauzi, Waka Dolog
Ja-Tim manggut-manggut membenarkan. "Jatah gula untuk bulan
April habis dalan- aktu 2 minggu saja," kata Fauzi. Januari
sampai dengan April memang masa paceklik. Dan pabrik-pabrik gula
baru akan menggiling lagi bulan Mei.

Di Jakarta untuk melawan kenaikan gula yang sampai Rp 350 per
kg, Bulog mendrop gula impor ke pasaran, antara lain dari India,
Filipina, Kuba, Taiwan dan Argentina. Harganya memang murah,
cuma Rp 210 per kilo. Tapi diakui oleh Waka Bulog Sukriya
Atmaja, "kurang disukai konsumen, karena kurang manis."

Tapi yang nampaknya tak punya hubungan dengan soal musim adalah
menghilangnya tepung terigu. Harga grosir sekarang terigu berisi
22,4 kg cap Segitiga Biru keluaran pabrik Bogasari, dari Rp
3.800 sudah merayap menjadi Rp 4.250. Resminya cuma Rp 3.322
sekarung. Menurut H.T. Zaglul, Ketua Apegti Jaya, kenaikan itu
disebabkan konsumsi masyarakat yang meningkat. "Akibatnya banyak
terigu dari Jakarta yang disedot ke daerah," katanya.

Kenapa terigu yang mendapat subsidi cukup besar dari pemerintah
jadi sulit diperoleh. Beberapa pihak menuding pabrik PT
Bogasari, baik yang di Tanjungpriok maupun yang di Pelabuhan
Tanjungperak, Surabaya. "Untuk mengambil jatah saja orang sampai
perlu antri dua hari," tukas seorang penyalur terigu di Pasar
Pagi, Jakarta. Maksudnya, termasuk truk-truk yang dari luar kota
itu.

Sebenarnya pabrik Bogasari yang di Tanjungpriok sudah tiga kali
ditambah kapasitas produksinya. Semula 200 ribu ton, lalu 400
ribu ton, dan kini menjadi 750 ribu ton setahun. Sedang Bogasari
yang di Tanjungperak produksinya 600 ribu ton setahun.

Kalau kedua pabrik terigu yang antara lain dimiliki pengusaha
besar Liem Sioe Liong itu ditambah dengan pabrik tepung terigu
Prima (PMA Singapura) maka orang tak perlu khawatir kekurangan.
Sebab konsumsi setahun di Indonesia adalah sekitar 1 juta ton.
Apalagi Bulog selama ini juga mengimpor terigu dari AS, Kanada
dan Australia.

Melonjaknya harga terigu dan gula itu bisa berpengaruh cukup
besar dalam inflasi April ini. Sebab kedua komoditi tersebut
termasuk komponen utama bahan makanan pada indeks 150 bahan. Di
samping itu harga beberapa bahan lain seperti susu kaleng, bubuk
detergen dan barang kelontong lain sudah mulai bergerak ke atas
dengan sekitar 15%.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data