All the imam's men Kabinet baru iran yang menggantikan kabinet bazargan
dikabarkan sudah terbentuk. bani-sadr, 46, wakil menteri
perekonomian & keuangan sejak juli'79 diperkirakan akan tampil
memimpin kabinet yang baru.(ln) |
IA berumur 46. Wajahnya oval, rambutnya terjurai sedikit di
dahinya yang lebar. Pakaiannya potongan Prancis. Ia pelan dalam
bergerak, cara bicaranya kadang monoton. Tapi jangan salah duga:
setelah Mehdi Bazargan mundur dari pemerintahan Iran, Bani-Sadr
inilah orang yang harus diperhitungkan.
Meskipun baru kali ini ia muncul sebagai pejabat, bagi para
pengamat masalah Iran ia bukan wajah baru. Tokoh ini sudah
dikenal di Paris, dan termasuk orang dkat Ayatulah Khomeini
sewaktu orang tua itu tinggal di desa Neauphle-le-Chateau.
Bani-Sadr inilah misalnya yang memeriksa pertanyaan TEMPO lebih
dulu sebelum izin berwawancara dengan sang ayatullah diberikan
(TEMPO 27 Januari 1979).
Waktu itu kedudukan Bani-Sadr ialah Ketua Seksi Mahasiswa dari
Front Nasional di luar negeri. Pers Barat menyebutnya kini
dengan gelar "Doktor". Tapi sebenarnya ia mahasiswa abadi.
Kepada wartawan Eric Rouleau dari Le Monde ia mengakui ia tak
berani mengajukan thesis doktornya, karena ia takut dikeluarkan
dari Prancis jika ia lulus. Satu-satunya alasan bagi dia untuk
tetap dapat tinggal di negeri itu ialah sebagai mahasiswa.
Ia masuk ke Paris 1963, setelah lari dari Teheran. Ia kabarnya
pernah ditahan oleh pemerintahan Syah, dan pernah terluka dalam
satu kerusuhan menentang rezim yang berkuasa. Di Prancis ia
belajar ekonomi dan sosiologi. Ketika Khomeini terbuang ke
negeri Barat itu, Bani-Sadr bergabung memperkuat barisan
perlawanan. Scjak awal 1979 ia sudah diketahui sebagai salah
seorang dari sedikit anggota Dewan Revolusi yang bukan-ulama.
Anggota bukan-ulama yang lain misalnya Mehdi Bazargan, Ibrahim
Yazdi, Sadegh Ghotbzadeh. dan Laksamana Madani.
Alternatif
Ketika revolusi menang, Bani-Sadr menolak berkali-kali untuk
duduk dalam kabinet Bazargan. Ia lebih suka berkuasa dari
belakang layar. Sebagai wakil menteri perekonomian dan keuangan
sejak Juli 1979, ia memang lebih berpengaruh ketimbang Menteri
Ali Ardalan sendiri. Ia bertindak sebagai semacam teoritikus
revolusi, dan menamakan idenya "Ekonomi Keseimbangan Ilahi".
Di balik namanya yang gede itu, pikiran Bani-Sadr agaknya
relevan dengan masalah Iran kini. Setidaknya sebagai alternatif
bagi gaya pembangunan ala Syah.
Ia membatalkan kontrak yang dibikin Syah dengan perusahaan
Prancis untuk membangun stasiun tenaga nuklir. Juga proyek yah
untuk membangun jalan kereta-api bawah tanah. "Teheran adalah
kota yang mirip monster dan benalu, " katanya. Ia menginginkan
sistem transpor yang sederhana praktis dan tak terlampau mahal
buat ibukota itu. Apalagi Teheran ia rencanakan akan dikurangi
penduduknya, dengan cara membangun unit pertanian dan industri
di daerah-daerah.
Agak mengherankan bahwa orang yang sejak November mengontrol
delapan kementerian yang berurusan dengan ekonomi (di samping
kementerian luar negeri) ini beberapa waktu sebelumnya tak
sering disebut sebagai orang paling dekat dengan Khomeini.
Biasanya di Teheran dibisik-bisikkan adanya "Gerombolan Empat",
grup paling berpengaruh di sekitar sang Imam, yang terdiri dari
Ibrahim Yazdi (semula Menteri Luar Negeri), Sadeq Ghotbzadeh
(kepala Radio & TV), Mustafa Chamran (kemudian jadi Menteri
Pertahanan) dan Sdeq Tabatabai (Jurubicara Pemerintah).
Tapi rupanya pergeseran di kalangan dalam Khomeini telah
terjadi. Dewan Revolusi yang dulu sangat berkuasa dan nama
anggotanya dirahasiakan kini dikabarkan tak banyak berperan.
Jatuhnya Bazargan sebagai perdana menteri dan tergesernya
Ibrahim Yazdi sebagai menteri luar negeri -- padahal keduanya
anggota dewan --mungkin membuktikan itu. Mustafa Chamran sendiri
tak disebut-sebut sebagai anggota Dewan, tapi ia diangkat jadi
menteri pertahanan dan berkuasa atas SAVAMA (dinas rahasia baru,
yang menggantikan SAVAK).
Chamran adalah orang sipil pertama yang memegang jabatan itu
sejak bertahun-tahun. Yang menarik ialah bahwa satu-satunya
anggota Dewan Revolusi yang militer, Laksamana Madani, kini
nampaknya lebih banyak main sendiri. Sayid Ahmad Madani, 50
tahun, adalah sekaligus panglima Angkatan Laut Iran dan gubernur
jenderal Propinsi Khuzestan yang kaya minyak. Tiba-tiba kini
dikabarkan poster yang berbunyi "Hidup Madani" dan "Madani,
Harapan Masa Depan Iran" bermunculan baik di Khuzestan maupun di
ibukota. Ada apa? Madani, yang dikenal ambisius, kabarnya
berusaha jadi presiden Iran.
Ada kemungkinan orang seperti dia akan jadi lebih berkuasa dan
mengatasi semuanya -- mengingat ia punya organisasi yang terbaik
dalam kesimpang-siuran sekarang. Tapi mungkin orang luar terlalu
memperhatikan tokoh-tokoh bukan-ulama. Akibatnya kekuasaan kaum
ulama yang berada di sekeliling Khomeini kurang nampak, karena
mereka jarang berhubungan dengan pers Barat. Padahal kekuasaan
itu bukan main-main.
Ini terutama terbukti dalam kasus dipecatnya Hassan Nazih, dari
kedudukan Direktur Perusahaan Minyak Nasional Iran. Menjelang
akhir September, orang yang ditunjuk Bazargan ini sudah
mengancam akan mengundurkan diri. "Saya tak akan bisa terus
kecuali kalau saya mendapat jaminan ukungan yang jelas,"
katanya. Waktu itu ia mendengar siaran radio bahwa menantu
Khomeini, Hojjatul-islam Shahabuddin Eshraqi, mengatakan
Ayatullah Khomeini tak percaya kepada Nazih. Adapun sang
menantu, seorang ulama, memang diberi tugas membereskan
perusahaan minyak negara itu.
Bazargan mencoba membela Nazih. Tapi ternyata Nazih benar harus
dicopot. Sarjana hukum didikan Prancis yang semasa Syah giat
untuk gerakan hak-hak asasi ini bahkan dikutuk sebagai "setan
kebarat-baratan". Sejak itu ia menghilang. Rumahnya dikepung
selusin pengawal revolusi Islam, dan istrinya tak boleh
meninggalkan rumah. Bazargan terpaksa mengadakan reshuffle
kabinet -- dan para peninjau menyebutkan ini hasil desakan kaum
ulama.
|