Tanah di sana paling jelek Rumah-rumah perumnas di cirebon mengalami kerusakan, akibat
kondisi tanahnya jelek. sementara lokasi lain mengalami
kesulitan air. (kt) |
TANDA-TANDA kurang enak memang sudah terlihat sejak Februari
yang lalu. Waktu itu bagian selatan kompleks perumahan Perumnas
Cirebon beberapa hari sebelum diresmikan, disapu angin puyuh.
Lebih 100 rumah ambruk, sementara tak sedikit yang tanpa atap
lagi karena diterbangkan angin.
Tapi sejak pertengahan bulan lalu diketahui beberapa rumah
sederhana di kompleks itu rusak berat. Kalau bukan sebagian
tubuhnya anjlok ke dalam tanah, dinding-dinding retak. Ini
diakui Ir Ondihon Gultom, Pimpinan Proyek Perumnas Cirebon.
"Ada 19 unit rumah type F di selatan dan 3 unit type D-70 di
utara retak pada dinding dan lantainya amblas," kata Gultom. Itu
belum cukup. Sebab, kata Gultom lagi, "masih ada 34 unit type F
di selatan yang rusak dindingnya." Di Cirebon telah berdiri
hampir 4.000 buah rumah dari berbagai type. Lebih separo telah
ditinggali. Gultom mengakui semua kerusakan menjadi
tanggungjawab Perumnas untuk memperbaikinya.
Menurut Ir Suyono, Direktur Perencanaan Perumnas, kerusakan itu
disebabkan "lapisan tanah di tempat itu mengkerut di musim
kemarau, sehingga retak di bagian dalam tanah." Lebih dari itu
memang "kondisi tanah di proyek itu paling jelek dibanding
proyek-proyek Perumnas di tempat-tempat lain " -- seperti diakui
Kahumas Perumnas Pusat, drs. Wihara Gumelar. Tetapi mengapa
masih didirikan di situ?
Sebelum proyek perumahan itu mulai digarap, konsultan dari
Belanda memang mengajukan 3 kemungkinan untuk merubah tanah
bekas sawah seluas 150 ha itu menjadi tanah perumahan. Yaitu
membuang bagian tanah sampai kedalaman tertentu lalu
menggantinya dengan semen atau batu-pasir memberi campuran bahan
kimia agar tanah menjadi kuat. Tapi karena kedua cara ini
memerlukan biaya besar, dipilih kemungkinan ke-3. Yaitu
memperdalam fondasi sampai 110 cm. Padahal di tanah biasa,
fondasi rata-rata hanya 40 sampai 60 cm saja.
Air bersih
Meskipun demikian, rupanya kemarau yang cukup panjang
akhir-akhir ini masih mempengaruhi keadaan tanah di sana.
Disamping itu kemungkinan juga karena kenakalan pemborong
diakui. Sebab, kata Wihara Gumelar, "tenaga pengawas lapangan di
Cirebon sangat terbatas." Menurut petugas ini juga, penentuan
lokasi itu sebagai tempat perumahan bukan oleh pihak Perumnas.
"Itu hasil tunjukan Pemda Kodya Cirebon, Perumnas hanya
menyampaikan kriteria lokasi, yaitu fasilitas air dan listrik,"
kata Wihara.
Selain keadaan tanah yang buruk, menurut Gultom, musim hujan
menjadi ancaman juga bagi kompleks perumahan di Cirebon itu.
Sebab katanya, tanah yang selama ini kering, tak akan mampu
menghisap curah hujan yang terus menerus. Air akan menggenangi
rumah-rumah di sana. Lalu tanah juga akan mengembang dan
permukaannya akan naik. Akibatnya akan sama seperti terjadi
sekarang. Karena itu menghadapi musim hujan sekarang ini,
Perumnas Cirebon mulai mengeruk Kali Cikalong dan membuat kanal
sepanjang 7 km di bagian selatan kompleks itu. "Apabila musim
hujan, air akan dibuang ke Kali Cikalong," tambah Gultom.
Di rumah-rumah buatan Perumnas di tempat-tempat lain rupanya
lebih baik. Tak sampai terjadi kerusakan parah seperti di
Cirebon. Tapi kesulitan air bersih, rupanya menjadi masalah di
beberapa tempat. Seperti di perumahan Perumnas Cirebon sendiri
serta di Depok II Timur (Bogor). "Karena ada tempat rendah, di
samping juga ada tempat yang lebih tinggi," tutur drs. Triyono,
Kepala Pengelolaan Depok II Timur. Sementara di Perumnas
Cirebon, menurut Direktur PAM Kodya Cirebon, drs. Supraptono,
karena "konsultan Perumnas salah memasang jaringan pipa
distribusi." Akibatnya, karena keadaan tanah tidak rata, air tak
mampu mencapai tempat yang lebih tinggi.
|