Peluk cium buat yang pergi Willy lasut dirumah ketika upacara serah-terima jabatan
gubernur sulawesi utara. moenafri juga melakukan serah-terima
jabatan gubernur sulawesi tengah. kedua upacara dipimpin
mendagri amirmachmud. (nas) |
SUASANA di rumah kediaman Gubcrnur Sulawesi Utara, di Bumi
Beringin, Manado, kabarnya tegang pada 20 Oktober pagi. Willy
Lasut, Gubernur Sul-Ut itu, berkeras tak mau menghadiri upacara
serah terima jabatan. "Sebaiknya tidak, karena saya toh tak akan
menandatangani naskah serah terima itu," katanya kemudian kepada
pembantu TEMPO di Manado.
Mendagri Amirmachmud yang sudah bersiap memimpin upacara itu dan
melantik Pj. Gubernur Sul-Ut Brigjen Erman Harirustaman, mencoba
membujuk Lasut, tapi gagal. Untung suasana tegang itu mereda
ketika Panglima/Laksusda Rudini menghampiri Willy Lasut,
memeluknya dan menurut cerita Lasut "menangis". Begitu juga
Pangkowilhan III Letjen Leo Lopulisa.
Maka berlangsunglah upacara serah terima jabatan itu tanpa
Lasut. Amirmachmud berkata kepada hadirin ketidak-hadiran Willy
Lasut itu karena sakit. "Memang benar Willy Lasut saya lihat
sakit. Saya izinkan untuk tidak hadir dan naskah timbang terima
saya lihat sendiri sudah ditandatangani," katanya. Ruangan
sidang utama DPRD Sul-Ut terasa henin. sekalitun hanya lari
40 kursi anggota DPRD yang kosong. Penjagaan tampak ketat di
luar gedung. Bahkan 3 hari sebelum upacara itu di Manado dan
luar kota nampak keadaan siaga. Selain petugas Brimob dan
pasukan ABRI, juga Mahasamra (Resimen Mahasiswa Universitas Sam
Ratulangi) berjaga-jaga. Langsung dipimpin Edu Posumah, komandan
Mahasamra, mobil-mobil penumpang umum yang memasuki Manado dari
Minahasa digele. Apa yang mereka cari, entahlah. Tapi dua hari
Sebelum Erman diangkat. beredar pamflet "Ganyang Korupsi, Hidup
Lasut."
Willy Gaius Alexander Lasut memang kabarnya masih penasaran
kenapa dia sampai diberhentikan menolak untuk membuat surat
permohonan berhenti, seperti dilakukan Brigjen Moenafri, Lasut
mengatakan "ingin melihat sendiri tanda tangan Presiden dalam
surat keputusan yang asli."
Jika ini yang dikehendakinya, ia keliru. Seorang pejabat tinggi
Sekneg, yang mengetahul, menjelaskan setiap Keppres memang ada
aslinya. "Tapi itu disimpan dalam lemari besi," katanya. Dan
yang bersangkutan hanya mendapat "petikan" yang oleh Sekneg
disalin sesuai aslinya, sedang "salinan" disampaikan kepada
pihak-pihak yang dianggap perlu. Itu juga berlaku buat Willy
Lasut, yang berdasarkan Keppres No. 176/M Tahun 1979,
diberhentikan dengan hormat sebagai Gubernur Sul-Ut.
Begitulah palu sudah diketukkan, dan Willy Lasut sudah
diberhentikan. Sementara ini dia masih diizinkan tinggal di Bumi
Beringin, rumah instansi bagi gubernur dan pejabat penting
lainnya di Manado. Ia juga diberi fasilitas menggunakan dua
mobil, telepon dan keperluan lainnya. "Tapi saya jua tahu diri,
dong. Saya akan segera mencari rumah di Manado karena anak-anak
sekolah di sini," katanya. Duda dengan 5 anak dan kakek dari 2
cucu itu juga lagi mencari pekerjaan sekarang.
Kembali ke Hankam? Presiden dalam keputusan 176/M itu, antara
lain menyebutkan "mengembalikan PATI tersebut ke Departemen
Hankam". Tapi kepada TEMPO Lasut yang berusia 53 tahun itu,
berkata: "Saya sudah purnawirawan sejak 1 Oktober 1978. Mana
hisa kembali ke Hankam?" Kini dia merasa "lega" sudah. Tapi,
katanya, "sehagai seorang yang mempunyai rasa tanggungjawab
sosial, saya masih mempunyai kemampuan untuk mencurahkan daya
tenaga dan pikiran untuk kepentingan umum."
Akan halnya Brigjen Moenafri, Gubernur Sulawesi Tengah yang
siang itu juga melakukan serah-terima jabatan dengan Kol. Eddy
Djadjang Djajaatmadja, disaksikan Mendagri Amirmachmud, berjalan
lancar dan tenang. Penjagaan memang ada, oleh sepasukan Polri
dan Hansip. Dan Moenafri, mengenakan stelan jas warna coklat,
selesai upacara itu, membalik ke arah hadirin, memberi hormat.
Kontan pecah keplok di gedung DPRD Sul-Teng di Palu. Mendagri
Amirmachmud sendiri, seusai upacara, memeluk dan mencium
Moenafri Tak kelihatan Ny. Moenafri, yang kabarnya lagi sakit di
Jakarta.
Dibandingkan dengan Willy Lasut, nasib Moenafri agaknya lebih
kelihatan dalam waktu dekat ini. "Kemungkinan penugasan lain di
bidang non-Hankam buat bekas gubernur Sul-Teng itu nampaknya
masih terbuka," kata seorang pejabat tinggi Hankam.
|