Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/IX/22 - 28 September 1979
   
Agama

Haji baidah orang kaya itu

Ada 3 pusat kegiatan islam jamaah yang dipakai haji nurhasan ubaidah, yaitu: pondok burengan, kediri pondok gading, jombang pondok kertosono, dimana nurhasan beserta keluarga dan pengikutnya tinggal.(ag)

ADA tiga pusat kegiatan yang dipakai H. Nurhasan Al Ubaidah.
ondok Burengan Kediri--di samping sebagai pusat organisasi
formilnya (Lemkari), tampaknya juga tempat pendidikan tingkat
pertama dan menengah. Lalu pondoknya yang besar di Gading
(Perak, Jombang) yang dikenal cebagai tempat para mubaligh
pilihan. Dan pondok ketiga terletak di Kertosono, - beberapa
meter dari terminal kota. Itulah tiga tempat untuk mencetak
kader. Dan pencetakan itu singkat saja.

Di Kertosono inilah, H. Nurhasan tinggal -- sejak 1966. Komplek
pondok luasnya sekitar 1,5 ha. Di situ juga sedang diselesaikan
sebuah mesjid yang tidak begitu besar, tapi berlantai marmar -
dan menaranya yang hampir rampung nantinya akan tampak dari
segala penjuru kota.

Rumah H. Nurhasan sendiri berada di depan agak ke kanan dari
mesjid. Di kanan pintu gerbang, berjajar rumah anak-anaknya dari
isteri pertama. Orang sekitar pondok ini, lantaran bukan
masyarakat agama seperti diceritakan Solechan, seorang tetangga
di sebelah utaranya, tidak banyak dan tidak mau tahu apa
sebenarnya isi pondok itu. "Orang sekitar hanya mengenalnya
sebagai Haji Baidah orang kaya," ujar Solechan.

7 Fakta

Sebagaimana biasa, habis lebaran lalu Baidah pergi ke Mekkah.
Kali ini bersama isterinya pertama, Al Suntikah. Al Suntikah
sekarang sudah kelihatan lebih tua dari Baidah sendiri-maklum
sewaktu dikawin, statusnya sudah janda dengan satu anak dan
dikenal sebagai janda kaya. Tapi isterinya yang keempat
sekarang, yang juga tinggal di komplek Kertosono, masih
kelihatan sangat muda -- diduga baru 30-an tahun. Asal Semarang,
bernama Syariah, kini sudah punya satu anah berumur 4 tahun.

Sedang isteri ketiga dan kedua, dar Sala, tidak ada yang tahu
pasti di mana ditempatkan. Ada dugaan: yang san di Burengan
Kediri, satunya lagi d Gading Jombang. Baidah sendiri teta
mondar-mandir ke pondok Kediri itu setidak-tidaknya setiap habis
Idu Adha. Isteri ke-1, 2 dan 3, sejak dul tetap Hanya isteri
keempat yang beberapa kali ganti.

Anak Baidah dari isteri pertama semua sudah berumah tangga. Yang
bungsu, Abdullah, baru 4 bulan kawin dengan anak seorang kolonel
dari Bandung. "Waktu pesta perkawinan inilah, ramainya luar
biasa. Benyamin, Ida Royani, ikut datang," ujar keluarga ini.

Di samping Baidah dan isteri pertama, semua anaknya juga sudah
berangkat ke Mekkah. Baidah memang punya rumah di sana. Sebuah
di Mekkah, sebuah di Mina dan sebuah lagi di Ma'la. "Rumahnya
hebat-hebat. Seorang keluarga kami, meski tidak sefaham, sewaktu
haji dulu tinggal di rumahnya," katanya pula. Dan apa yang
dilakukan Ubaidah di Mekkah di musim haji?

Keterangan ini didapat dari seorang haji di Sidoarjo. Musim haji
kemarin, 7 hari sebelum wuquf di Arafah, jemaah mereka
dikumpulkan di Jafariyah. Diberi nasihat oleh anak-anak Baidah
Dhohir, Abdul Aziz, Abdul Salam dan Abdullah. Waktu wuquf mereka
dituntun oleh Baidah sendiri bersama Syeh Jamil. Di samping itu
mereka juga menyebarkan buku 7 Fakta Sabaya Keamiran Jama'ah di
Indonesia karangan mendiang Nurhasyim -- yang mengajarkan
kemutlakan jama'ah, amir, bai'at dan taat itu. Buku itu diberi
gambar menara-menara Masjidil Haram sebagai sampul muka.

Meski semangat "kembali ke Quran Hadits" terasa benar dalam
pelaksanaan ubudiah di pondok-pondoknya, tapi kehidupan keluarga
Baidah sebenarnya biasa saja. Kalau ada yang meninggal, juga
selamatan. Anaknya dari isteri keempat juga diulangtahuni. Juga
sewaktu baru lahir disepasari, dipitoni.

Pokoknya tidak sekaku seperti yang diajarkan kepada para
pengikut sampai sekarang. Tetangga sekitar sendiri senang
sekali kalau diundang selamatan di situ, karena uang kancingnya
(bingkisan tahlil pasti seribu rupiahan. Selamatan di kampung
biasanya pakai uang kancing hanya Rp 100-an.

Ida Royani

Bahkan ketika Baidah sakit keras lima tahunan lalu (TEMPO 15
September, juga diadakan selamatan untuk kesembuhannya.
Keluarga Ubaidah sendiri umumnya kagum terhadap kekayaannya.
"Mobilnya banyak sekali. Juga sawahnya," kata mereka.

Benarkah sekarang ia lumpuh, dan bisu? "Sekarang sudah sehat
benar. Malah gemuk dan kelihatan kuat," ujar seorang. "Tidak
lumpuh," ujar yang lain. "Malah sudah ke sawah melihat orang
kerja. Bahkan saya pernah melihat dia nyetir mobil." Benarkah
dia bisu? "Baidah memang tidak pernah bicara di depan orang
lain. Kalau memerintahkan sesuatu kepada para santrinya yang
bekerja, selalu pakai isyarat tangan."

Sejak peristiwa Malang itu, Baidah tidak pernah lagi memberi
ceramah. Juga tidak jadi imam sembahyang bahkan tidak ikut
berjama'ah di mesjid mereka. Sesekali ia keluar rumah memakai
jubah, atau hanya pakai celana panjang.

Berbeda dengan Burengan yang penuh gambar Golkar, di Kertosono
tidak satu pun gambar beringin tampak. Ini mengesankan komplek
Kertosono (tidak sampai 1 km dari rumah orangtua Amir Murtono
merupakan "pusat spirituil": tempat "Amirul Mu'minin," pusat
pengumpukan harta (zakat, sedekah, dan lain-lain dari berbagai
daerah. Seakan Baidah sudah melepaskan diri dari tanggungjawab
organisasi, dan tinggal isi. Santrinya sendiri tidak keli hatan
banyak. Yang ikut berjama'ah sekitar 150-an.

Benarkah soal keamiran dan bai'at sudah "tidak ada"? Orang
menuturkan bahwa sepulang haji kemarin ini 1978, Baidah
membai'at orang-orang yang mungkin sudah dibina. Antara lain H.
Ida Royani.

Hanya satu yang sudah tidak dipraktekkannya. Yakni menyerang
mesjid atau langgar yang tidak sefaham. "Karena itu--belakangan
ini--praktis tidak pernah terjadi kdnflik dengan mereka. Kalau
mereka ridak menyerbu, ya kita biarkan mereka," ujar Solechan,
sekretaris NU Kertosono. Lagipula karena mereka memang tidak
sendirian .


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data