Kisah Muhammad Madigol Imam haji nurhasan al-ubaidah lubis amir, alias muhammad
madigol, 71, pemimpin islam jama'ah yang sangat menyukai
bid'ah, yaitu ilmu pedukunan. mengaku pernah tinggal 18 thn di
mekah. (ag) |
MADIGOL dilahirkan 1908 di Desa Bangi, Papar, Kediri, sebagai
anak H. Abdul Aziz. Sekolahnya hanya sampai klas 3 SD, kalau
disamakan dengan tingkat sekarang.
Skripsi yang lain oleh Khozin Arief dari IAIN Jakarta,
menyebutkan pesantren pertama yang dikunjungi Madigol adalah
Pondok Sewelo, Nganjuk. Ini pesantren kecil model sufi. Lalu
pindah ke Pondok Jamsaren, Sala--dan menurut pimpinan pondok, KH
Ali Darokah, dia di sana hanya sekitar 7 bulan. Menurut sang
kyai, tak ada keistimewaan apa-apa pada Si Madigol ini--kecuali
bahwa ia sangat "menyukai bid'ah".
Dan yang disebut "bid'ah" rupanya diterangkan dalam sebuah
tulisan Kyai Haris Haidaroh dari Yogya (tak ada dalam skripsi):
ia itu "super dukun"-lantaran senang dan menguasai beberapa ilmu
pedukunan.
Kemudian, menurut Khozin, ia belajar di Dresmo, Surabaya--di
pondok khusus yang mendalami pencak silat. Dari Dresmo, seperti
dituturkan Nurhasan sendiri kepada Khozin, ia belajar di Sampang
Madura, berguru pada Kyai Al Ubaidah dari Batuampar.
Kegiatannya, mengaji dan melakukan wirid di sebuah kuburan
keramat. Nama gurunya tersebut diakuinya ia pakai di belakang
namanya sekarang.
Menurut skripsi Mundzir, ia juga pernah mondok antara lain di
Lirboyo Kediri dan Tebuireng Jombang. Lalu berangkat haji
pertama 1929, dan waktu pulang---seperti biasa pada orang
Indonesia--namanya yang Madigol itu diganti menjadi Haji
Nurhasan. Jadi akhirnya ia bernama H. Nurhasan Al Ubaidah.
Adapun nama Lubis itu konon panggilan murid-muridnya --
singkatan dari 'luar biasa'. Untuk menyatakan kedudukannya, maka
di depan namanya ditambahkan kata 'Imam' dan di belakangnya kata
'Amir '.
Tahun 1933 ia berangkat lagi ke Mekah. Di sana belajar hadis
Bukhari dan Muslim kepada Syeikh Abu Umar Hamdan dari Maroko,
juga belajar di Madrasah Darul Hadits tidak jauh dari Masjidil
Haram. Nama 'Darul Hadits' itulah yang kemudian dipakainya untuk
pesantrennya kelak.
Tetapi menurut Khozin, keberangkatannya tersebut
sebenarnya"pelarian". Dan waktunya pun barangkali sekitar
1937/1938. Saat itu, tutur Khozin, ada keributan di Madura.
Entah peristiwa apa "sampai ada yang mati". Tapi yang jelas
Nurhasan "lari ke Surabaya--lalu kabur ke Mekh".
Dan di Mekah, menurut cerita Haji Khoiri yang mukim di sana
kepada Khozin, Nurhasan sebenarnya tak ketentuan kerjanya. Hanya
karena ia selalu nongol di Masjidil Haram, akhirnya diizinkan
tinggal di asrama yang dipimpin Khori. Tari terjadilah suatu
hari: seorang tetangga ribut-ribut kehilangan kambing. Polisi
mencari, dan akhirnya menemukan jejaknya sampai di asrama
Khoiri. Sang kambing diketemukan di kolong tempat tidur Nurhasan
(!) Sudah tentu Khoiri malu. Tapi karena ia punya hubungan baik
dengan polisi anehnya Nurhasan tidak dituntut. Hanya polisi
menyuruh Khoiri mengusir orang tersebut.
Mengaji apa Si Nurhasan, waktu di Mekah? Khoiri tak tahu.
Melihat "tingkah lakunya yang aneh", katanva, mungkin ia masuk
pondok pedukunan --yang mungkin waktu itu masih cukup banyak di
Saudi. Tapi kepada Khozin, Amir Islam Jama'ah itu mengaku --
seperti mereka siarkan secara resmi -- bahwa ia belajar di Darul
Hadits yang beraliran Wahabi. Kalau melihat mata pelajarannya di
pondoknya sekarang di Kediri, memang di sana "serba Qur'an
Hadis" seperti Wahabi. Lagi pula menurut H. Amiruddin Siregar,
Sekjen Majlis Ulama Indonesia, militansi gerakan itu juga mirip
Wahabi--walaupun juga memakai "mistik" dalam arti pedukunan
"yang merupakan musuh bebuyutan Wahabi".
Tapi untuk keperluan skripsinya, Khozin lantas mengirim surat ke
Mekah. Dan datanglah surat-surat dari Asy Syeikh Muhamrnad Umar
Abdul Hadi, Direktur Madrasah Darul Hadits di Mekah dan Asy
Syeikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid, Direktur Umum Inspeksi
Agama di Mesjid Al Haram. Isi surat pihak Darul Hadits (yang
belakangan juga ditemui Khozin sendiri): tak benar ada orang
yang bernama Nurhasan Al Ubaidah yang belajar di sana
tahun-tahun 1929-1941. Madrasah itu sendiri baru didirikan
tahun 1956 ........
Lagi pula, setelah diterangkan kepada imam di Masjidil Haram itu
tentang ciri-ciri Nurhasan dan ajaran yang dikembangkannya di
Indonesia, surat itu menjawab: di Masjidil Haram tak ada ang
mengajarkan seperti itu, dan kalau ada yang menyebarkan faham
macam itu dengan membawa-bawa. nama Masjidil Haram, maka dia
adalah Dajjal, katanya. Dajjal adalah personifikasi tokoh
syaitan besar yang dalam sementara hadis disebut akan muncul
menjelang kiamat. Jadi, mungkinkah ke-Wahabi-an Nurhasan yang
"mistik" itu hanya karena dengar-dengar di Arab Saudi, yang
memang negeri Wahabi?
Yang jelas, sepulang dari Mekah tahun 1941, menurut Nurhasan
sendiri, ia membulca pengajian di Kediri. Di situ ia mengaku
sudah mukim di Mekah 18 tahun. Tapi pondok itu pada mulanya
biasa-biasa saja. Baru tahun 1951 ia memproklamirkan nama Darul
Eladits itu. Tapi harap diingat
ini bukan Darul Hadits di Malang, yang memang sekelar
menitikberatkan pelajarannya pada spesialisasi hadis-dan tak ada
doktrin tentang jama'ah, amir, bai'at dan ta'at seperti Nurhasan
punya.
Pekerjaannya sepulang dari Mekah ialah berdagang gedek. Kawin
dengan orang Madura. Menurut skripsi Mundzir, isterinya itu
(yang mungkin orang Madura) berasal dari Jombang namanya Al
Suntikah. Di samping itu ia kawin dengan 3 wanita lain dua dari
Sala dan 1 dari Mojokerto. Tapi diduga, kata Mundzir, isterinya
sebenarnya lebih dari itu. Memang menarik, bahwa dalam satu
rekaman ceramah Nurhasan yang ada pada Khozin, bisa didengar
kata-kata santai misalnya: "Seperti saya ini. Sudah belajar
Qur'an, sudah belajar Hadis, dan sekarang .. isterinya renteeeng"
(renteng artinya berderet).
Sedang Kepergian Nurhasan yang terakhir ke Mekah, menurut Khozin
juga disebabkan oleh soal "renteng" itu. Suatu hari, setelah
pemilu 1971 terjadi keributan: Nurhasan, kata Khozin, membawa
kabur seorang muridnya perempuan. Paman si gadis, yang anggota
CPM dan bukan warga Islam Jama'ah, memburu Nurhasan -- dan
ketahuan ia menyembunyikan gadisnya di Garut Digrebeg di sana.
Nurhasan oleh CPM diseret ke Malang-diinterogasi. Khawatir kalah
perbawa, si CPM minta "bekal" pada seorang kyai. Katanya,
interogasi berjalan tanpa penylksaan. Tapi yang jelas itu
membuat Nurhasan jatuh sakit -berteriak-teriak alias ngromet.
Dan anehnya, isteri sang CPM di rumah juga mendadak ngromet
dengan katakata yang persis diucapkan Nyrhasan ........
Cerita ini masih ditambah penut-lran KH Achmad Thohir Widjaja,
yang sehari-harinya Ketua Umum Majlis Da'wah Islamiyah
(MDI--Golkar). Menurut kyai ini, yang dimaksud Nurhasan
sebenarnya ialah meminang gadis itu, namun tak disetujui
keluarganya. Dan Nurhasan sebenarnya terlanjur "dipermak" waktu
itu--tapi tidak mempan. Tapi adil yang menasehati kalau mau
melawan orang itu, gampang: telanjangi dia -- dan dia akan
lumpuh. Maka ditelanjangilah Nurhasan--dan ternyata, dari ikat
pinggang sebelah kanan tersimpan sebungkus kembang -- kembang
setaman, kata orang Jawa, "makanan jin". Maka Nurhasan benar
lumpuh. Keluar dari sana, ia sudah tidak bisa berbicara--hingga
kini. Lalu keluarga Nurhasan konon menasihatkan agar kakek ini
berobat ke Mekah, sebab "jin yang makan kembang itu dari Mekah".
Tapi di sana ia tidak sembuh juga. Sampai sekarang.
Tak jelaslah bagaimana kelanjutannya nanti. Tapi ia sekarang,
menurut Thohir Widjaja, ada di Kertosono, Jawa Timur--pulang
dari Mekah. Inilah tokoh yang memang di Ja-Tim sangat
populer--dan di sana dipanggil 'Baidah'. Orang menyebutnya 'kyai
mursal'. Tahun-tahun 50-60, bila ia lewat di satu lorong
tertentu, Konon orang akan masih menggunjingkannya sampai 3
hari. "Kemarin Baidah lewat sini. Berdiri di atas Harley (merek
sepeda molor waktu itu), mengalung ular. Di depannya ada anjing
besar. Dia juga mampir ke warung Si . . ."
|