Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 12/IX/19 - 25 Mei 1979
   
Daerah

Di Sini Beras Tak Laku

Curah hujan yang tinggi di kecamatan kapetahan menyebabkan tertundanya masa penanaman padi. Bibit pun sudah ditumbuhi hama wereng. Petani mengalami masa paceklik, daya beli turun menir dijadikan bubur. (dh)

SEJAK dua bulan terakhir beras tak laku di berbagai desa di
Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Sebab "harga beras Rp 140 sampai
Rp 160 se-kilogram tidak terjangkau oleh penduduk," ujar Kepala
Sub Direktorat Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Cirebon drs
Suparman Olereja.

Kapetakan terletak 12 Km sebelah utara Kota Cirebon. Sejak
Nopember tahun lalu sampai awal Pebruari tahun ini curah hujan
cukup tinggi di kecamatan itu. Akibatnya penanaman padi yang
biasanya sudah dimulai Desember atau paling lambat Januari
berikutnya tertunda sampai Pebruari. Baru menjelang akhir bulan
terakhir itu sebagian sawah di Kapetakan surut dari genangan
air.

Keterlambatan masa penanaman padi itu membuat petani menggunakan
bibit yang sudah berumur sebulan. Tak disadari bibit semacam itu
sudah ditumbuhi hama wereng. "Dalam waktu singkat hama itu
menyerang seluruh areal pertanian di Kapetakan," kata Camat
Sujati.

Luas sawah di Kapetakan meliputi 6000 hektar. Di antaranya 3000
Ha musnah diserang wereng Pebruari lalu. Sedang 1000 Ha masih
digenangi air, karenanya belum bisa ditanami. Akan hal 2000
hektar yang masih mulus diharap bisa dipanen Juni atau Juli
nanti, "kalau berhasil dan tidak diserang hama" seperti
dikatakan Sujati lagi.

Walhasil petani Kapetakan paceklik sekarang ini. Hampir 25% dari
35 ribu penduduknya merubah makanan pokok dari beras ke menir
(bubuk beras) yang harganya separo bahan pokok semula. Itupun
tak sedikit di antaranya yang mampu membeli menir hanya sekedar
untuk dibubur. Bukan ditanak seperti biasa.

Lebih Parah

Sebagian besar (75%) dari penduduk Kapetakan memang hanya buruh
tani. Karena sawah-sawah tidak bisa ditanami dengan baik,
akibatnya mereka rata-rata menganggur. Beberapa orang ada yang
mencoba misalnya mengumpulkan kroco, sebangsa kerang air tawar.
Usaha semacam itu paling banter hanya menghasilkan rezeki Rp 75
sampai Rp 100 sehari bagi rata-rata pengumpulnya.

Penduduk 4 dari 12 desa di Kecamatan Kapetakan ini (Kertasura,
Surakarta, Suranenggala Kidul dan Suranenggala Lor) sudah
tergolong sangat prihatin. Untuk itu bantuan sudah diterima dari
berbagai pihak, juga pemda kabupaten Juga ada pinjaman dari
lumbung pangan sebanyak 13 ton dengan catatan harus dibayar
petani manakala panen tiba dengan harga Rp 126 per kg.

Paceklik semacam ini berlangsung setiap tahun. Buat tahun ini
Pemerintah Propinsi Jawa Barat menyediakan bantuan beras untuk
Kapetakan sebanyak 15 ton. Caranya disalurkan lewat proyek padat
karya. Tiap hari 250 penduduk akan dikerahkan untuk itu dengan
imbalan 2 Kg beras.

Menurut Suparman lagi, paceklik tahun ini lebih parah. Akhir
Juni atau Juli petani bakal panen. "Tapi itu apabila wereng
tidak mengganggu lagi," katanya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data