Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/IIIIIIII/16 - 22 Desember 1978
   
Kesehatan

Ada Yang Hilang

Harga obat belum stabil akibat kenop 15. Hampir semua pengusaha apotik menjual obatnya dengan harga eceran. Himbauan pemerintah untuk menekan biaya produksi dengan mengurangi iklan belum berpengaruh.(ksh)

MUDAH-mudahan anda tidak menderita sakit batuk sesudah 15
Nopember. Bahan baku obat batuk, Succus, sekarang hilang dari
pasaran. "Sebelumnya tak pernah terjadi seperti ini," kata
Siswanto dari Apotik Titi Murni di Jakarta.

Banyak yang beranggapan obat batuk tersebut sangat manjur. Maka
para pemilik apotik nampaknya tidak memperdulikan berapa harga
obat itu sekarang, asal barangnya ada.

Cairan infus seperti Amino Fusin memang tidak lenyap dari
peredaran cuma harganya tetap melangit Dari Rp 3.500 menjadi
hampir Rp 5000 dan sekarang mantap Rp 4550.

Kenaikan yang tak terhindarkan nampaknya terjadi pada obat
impor. Cairan infus dalam negeri buatan pabrik Onitsuka di
Lawang, Jawa Timur, tidak mengalami kenaikan. Pabrik ini sampai
sekarang masih bisa memberikan kredit 2 sampai 3 bulan untuk
pedagang farmasi. Keringanan ini sudah tak bisa diberikan oleh
perusahaan farmasi asing.

Pengusaha apotik mengakui, beberapa hari setelah 15 Nopember
mereka terpaksa menaikkan harga. Daftar tarif yang baru segera
dikeluarkan. Harga obat buatan dalam negeri naik 30%, dibanding
yang impor 50%. "Tapi waktu itu volume penjualan menurun sampai
30%. Dan banyak pembeli hanya menebus obatnya separuh, satu
kebiasaan yang sebenarnya tidak baik untuk kesehatan mereka,"
ujar Siswanto.

Boleh disebutkan hampir semua apotik menjual obat sampai pada
harga eceran tertinggi yang diperbolehkan dinas kesehatan.
Padahal sebelumnya di bawah HET mereka masih bisa untung. Dengan
sulitnya memperoleh obat, karena persediaan yang kosong dan
persyaratan bayar-kontan, apotik bermodal kecil kewalahan. Hanya
apotik besar, seperti Mahakam dan Melawai, untuk daerah Jakarta,
bisa membeli obat dalam jumlah besar ketika suasana harga belum
mantap setelah 15 Nopember.

Himbauan pemerintah supaya pengusaha farmasi menekan biaya
produksi dengan mengurangi iklan dan menyederhanakan kemasan
masih belum berpengaruh. Nopember, penghasilan TVRI dari iklan
obat-obatan masih tetap 27,7%, menurut Rosmaniar, kepala urusan
iklan TVRI.

Obat sakit kepala dan rupa-rupa rasa nyeri masih dibungkus
dengan kemasan blister. Bukan itu saja, pembungkus obat ini
dicetak sedemikian rupa pula, supaya tidak bisa dipalsukan, kata
seorang manajer pabrik Hoechst, produsen Novalgin. Sudah
berkali-kali ia melaporkan kepada Depkes tentang adanya
pemalsuan terhadap obat pusingnya itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Pengumuman Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan Dipercepat - 07 Sep 2008 | 10:54 WIB
Oemar Dahlan, Wartawan Senior Kalimantan Timur, Berpulang - 07 Sep 2008 | 10:41 WIB
Prancis Tetap Optimistis - 07 Sep 2008 | 10:32 WIB
Hasil Penyisihan Amerika Utara dan Oseania - 07 Sep 2008 | 10:23 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Afrika - 07 Sep 2008 | 10:16 WIB
Lippi Salahkan Kondisi Pemain - 07 Sep 2008 | 10:07 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Amerika Selatan - 07 Sep 2008 | 10:06 WIB
Hasil Penyisihan Piala Dunia Asia - 07 Sep 2008 | 10:00 WIB
AirAsia X Tidak Terganggu Harga Minyak - 07 Sep 2008 | 09:55 WIB
Podolski Membuktikan Diri - 07 Sep 2008 | 09:40 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data