Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 40/IIIIIIII/02 - 8 Desember 1978
   
Daerah

Memupuk Rezeki Tambang

Produksi timah di kepulauan Riau meningkat terus, tapi IPEDA yang seharusnya masuk kas Kabupaten, berdasarkan keputusan gubernur masuk kas propinsi kepulauan Riau. (dh)

IURAN Pembangunan Daerah (Ipeda) yang dibayarkan PT Timah
dikabarkan meningkat 2-3 tahun terakhir ini. Sebab jika dulu
penetapan jumlah Ipeda berdasar luas areal pabrik belakangan
dikaitkan seberapa jauh produksi dicapai. Maka jika sampai 1975
rata-rata hanya sekitar Rp 200 juta setahun, pada 1976 mencapai
lebih dari Rp 700 juta dan tahun lalu malah Rp 1 milyar lebih.

Di Riau ada tiga dari pusat penambangan PT Timah. Semua ada di
Kabupaten Kepulauan Riau. Menurut SK Menteri Keuangan 1976, 80%
Ipeda penambangan ini masuk kas kabupaten, sisanya urusan
propinsi. Tapi Bupati Kepulauan Riau, Firman Eddy SH, masih
merengut. Sebab sejak Arifin Ahmad masih duduk sebagai Gubernur
Riau ada ketentuan lain semua Ipeda masuk kas propinsi -- dan
dikembalikan ke kabupaten dalam bentuk proyek.

Di Pekanbaru

Gubernur Subrantas pengganti Arifin tidak menyangkal adanya
ketentuan itu. Bahkan ia sendiri tampaknya mau melanjutkannya.
Sebab seperti dikatakannya kepada TEMPO, "maksudnya baik."
Menurut Subrantas, tidak semua kabupaten di Riau mempunyai
rezeki pertambangan. Jadi, "demi persatuan dan kesatuan,
dibagi-bagilah."

Namun soalnya belum selesai. Sebab justru pembagian dalam bentuk
proyek itu dirasakan oleh kabupaten-kabupaten tidak adil.
Lebih-lebih bagi Kabupaten Kepulauan Riau yang menghasilkan
timah itu. "Sejak awal Pelita II sampai sekarang hampir 90%
proyek propinsi menumpuk di Pekanbaru dan sekitarnya," kata
seorang anggota DPRD Riau di Pekanbaru. Malahan Kabupaten
Kepulauan Riau hanya kebagian 0,96% saja.

Bukan itu saja. Sesuai dengan namanya sebagai proyek propinsi,
penanganannya juga sepenuhnya dilakukan pihak propinsi. Terhadap
proyek-proyek yang mendesak Bupati Firman Eddy selalu memberi
catatan u.p. (untuk perhatian) pada proyek itu. Maksudnya agar
benar-benar menjadi perhatian pejabat-pejabat di propinsi. Dalam
kenyataannya hanya sebagian kecil saja proyek-proyek itu yang
terlaksana.

Subrantas menyadari kelemahan itu. Tapi, "itu kan dulu,"
katanya. "Nanti akan ditinjau kembali dan disalurkan lebih
baik," tambahnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data