Dimana Hasan Tiro Tokoh Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro, diduga masih berada
sekitar kecamatan Tiro Tursef, Kab. Aceh Pidie. Sementara
rekan-rekan anggota kabinetnya yang tertangkap setuju tuduhan
mengganggu keamanan. (nas) |
LAMA didesas-desuskan, tokoh Gerakan Aceh Merdeka ini lari ke
luar negeri setelah petualangannya gagal sama sekali. Betulkah
itu? Suatu sumber TEMPO mengungkapkan: Hasan Tiro diduga keras
masih ada di kecamatan Tiro Tursef, suatu daerah pegunungan di
kabupaten Aceh Pidie. Pengakuan seorang yang ditangkap di Sabang
September lalu mengungkapkan pertemuannya dengan Hasan seminggu
sebelum Lebaran. Kini pihak keamanan sudah menutup jalur-jalur
yang mungkin akan digunakan Hasan untuk lari.
Kendati kekuatan gerakan Hasan Tiro dinilai sudah berantakan,
pihak keamanan masih melakukan penangkapan. Misalnya, belum
lama ini 6 orang di Peureula ditahan setelah nama mereka
tercantum dalam suatu dokumen yang ditemukan. Juga disita
beberapa senjata tua yang tidak bisa mereka pergunakan. Kini
mereka ditahan Kodim Aceh Timur di Langsa.
Bekas 3 "menteri" gerakan Hasan Tiro yang menyerah (TEMPO, 11
Nopember 1978) kini masih dalam proses pemeriksaan di Kodam I
Iskandar Muda di Banda Aceh. Asnawi Ali dan Amir Ishak ditahan
di suatu ruangan 4 x 4 meter di sayap kanan markas Kodam sedang
Muhammad Usman di tempat lain. Mereka kabarnya mendapat
perlakuan lunak, termasuk boleh nonton film dengan dikawal
petugas berpakaian preman.
Tapi Asnawi sehari-hari lebih asyik membaca, selain menerima
"wejangan" dari tim pemeriksa. Sifatnya pendiam, masih seperti
waktu kuliah di Fakultas Tehnik Universitas Sumatera Utara,
Medan. Sarjana tehnik sipil ini sebelum disumpah Hasan Tiro
sebagai "Menteri PUTL" bekerja di suatu perusahaan asing di
Medan sebagai konsultan, dengan gaji di atas Rp 200 ribu dan
memiliki mobil VW. Bekas "menteri" yang gondrong dan tingginya
170 cm ini selalu berpesan pada petugas "jika ada wartawan yang
ingin menjumpai saya, mohon ditolak saja."
Lain dengan Amir Ishak. Ia dikenal sebagai orang yang senang
bergaul dan tidak pelit senyum. Rambutnya nyaris botak, tapi
kumisnya tebal dan rapi. Sebelum masuk hutan akhir Mei 1977,
Amir masih kuliah di Fakultas Hukum USU tingkat II. Tapi waktu
Hasan Tiro mengumumkan susunan "kabinet"nya, tahu-tahu tercantum
gelar sarjana hukum di depan nama Amir. Agaknya ini taktik Hasan
Tiro untuk memberi kesan gerakannya didukung kalangan
cendekiawan.
Belum pasti kapan mereka ini akan dibawa ke pengadilan, walau
kabarnya mereka telah setuju pengajuannya kalau karena
"mengganggu keamanan". Satu berkas perkara yang hampir rampung
adalah yang menyangkut Harun, mahasiswa Universitas Syah Kuala
Banda Aceh. Harun dinyatakan terlibat gerakan Hasan Tiro karena
mengibarkan bendera gerakan itu di suatu tempat.
Beberapa tokoh gerakan Hasan Tiro diketahui tinggal di luar
negeri. Antara lain Amir Rasyid, bekas anggota Dl/TII yang
menjabat "Menteri Perdagangan" dan tinggal di Geilang Road,
Singapura. Satu lagi yang tinggal di Singapura: Mr. Malik
Mahmud. Jabatannya: "Kepala Perwakilan di PBB." Pemerintah
Indonesia kabarnya sudah meminta pemerintah Singapura untuk
menyerahkan mereka pada Indonesia.
|