Sebutan Kaya Dianggap Tidak Sopan Dunia membenci orang kaya. Di Mesir, Nasser membatasi
penghasilan orang, kelebihannya untuk negara. Di Inggris,
orang kaya dipajak besar-besaran. Menurut William Benton,
sebutan kaya tidak sopan. |
SUDAHLAH, jangan kepingin kaya. Buat apa? Jangan tegang, biar
rupiahmu kena kebijaksanaan 15 Nopember -- yang cuma kau
cemaskan ribut-ributnya, tapi sebenarnya tak kau pahami betul.
Tenang. Pakailah filsafat sedikit. Viva brevis, rupiah lebih
brevis lagi.
Begitulah nasehat deras seorang kawan kepada seorang kawannya.
Yang diberi nasehat diam saja.
Kau pasti pernah dengar ucapan Ki Hadjar Dewantara ini, eh
salah, Ki Ageng Suryomentaram barangkali, bahwa "Rengeng-rengeng
adol dhawet . . . "
Yang diberi nasihat, tak faham bahasa Jawa, diam saja.
Artinya si penjual cendol di tepi jalan ternyata bisa
berbahagia, sementara yang naik mobil itu menangis tertahan.
Kekayaan, dengan kata lain, belum tentu menyebabkan . . . apa
namanya itu . . bahagia.
Yang diberi nasihat, capek dengan kalimat klise, diam saja.
Kalau begitu aku teruskan. Yaitu bahwa kodrat manusia bukanlah
buat mencari uang, juga bukan buat jadi kaya. Manusia sebagai
homo economicus hanya abstraksi dari pemikir kapitalis, atau
mereka yang sinis, yang yakin bahwa manusia diciptakan haus
harta. Tidak. Bukan. Aristoteles benar. Manusia bukan makhluk
ekonomi, melainkan makhluk sosial.
Yang diberi nasihat kini melotot. Kau mau khotbahi aku dengan
Mao Tsetung! Kau mau bilang bahwa "rangsangan materiil" untuk
bekerja buat masyarakat adalah dasar masyarakat kapitalis --
yakni keserakahan! Kau inginkan manusia seperti robot pengabdi!
Utopis!
Yang memberi nasihat diam sejenak. Lalu ia melanjutkan. Aku cuma
mengutip Karl Polanyi. Siapa itu Polanyi aku tak tahu, tapi ia
mengatakan bahwa ekonomi pasar telah menciptakan kesalahfahaman,
bahwa determinisme ekonomi adalah hukum umum masyarakat manusia.
Padahal motif kita, dorongan niat manusia, tak pernah per se
bersifat ekonomis.
Sayangnya itulah yang kini terjadi kawan. Juga di RRC. Kau mau
apa?
Aku terus-terang tak kepingin jadi orang kaya. Dunia tetap
membenci orang kaya Di Mesir, Nasser katanya pernah membatasi
penghasilan orang. Kalau lebih dari batas tertentu, harus
diambil buat negara, yang katanya mewakili masyarakat banyak.
Apalagi di RRC di bawah Mao. Bahkan di Inggeris orang kaya
dipajak hebat-hebatan, sampai penyanyi laris dan bintang film
dan milyuner lain lebih baik tinggal di luar negeri. Di Perancis
mereka bisa tetap berduit lebih, tapi siapa tahu. Di Itali sudah
ada Brigade Merah. Semua benci orang kaya. Bahkan juga William
Benton.
Siapa itu Benton?
Ia seorang kaya yang mengatakan bahwa ia tidak kaya, ketika di
tahun 1968 majalah Fortune menyatakannya termasuk orang terkaya
di Amerika Serikat. Ia memang pemilik perusahaan yang membiayai
dan menerbitkan Encyclopaedia Britannica, dan itu berarti bisnis
besar. Tapi Benton rupanya tidak suka kaya. Ia menyatakan jadi
kaya di luar kehendaknya. Sejak mula ia, anak seorang profesor,
sudah bertekad: akan meninggalkan dunia bisnis begitu hidupnya
sudah lumayan enak. Dan betul. Ia mengundurkan diri dari usaha
waktu umur 35 tahun.
Tapi ia kaya.
Tapi ia tambah kaya. Sehabis berhenti dari bisnis, ia ketemu
seorang kawan yang kepepet. Perusahaan kecilnya, yang membikin
sepatu, perlu tambahan modal sedikit. Benton cuma mau menolong,
dan mengasih $5000. Eh, dalam waktu sepuluh tahun, bagian Benton
dari perusahaan itu jadi $125.000. Dan waktu ia menyelamatkan
Encyclopaedia Britannica dari kebangkrutan dan kemacetan, ia
juga mungkin tak menyangka akan sukses. Siapa akan bisa bikin
duit dari mengongkosi penerbitan ensiklopedi? Ternyata duit
datang ke Benton, terus. Akhirnya ia hidup sederhana, dan
menyatakan bahwa hampir seluruh penghasilannya ia peruntukkan
buat Britannica. Maka memasukkan dirinya ke dalam kelas orang
kaya raya, menurut penilaiannya, bukan saja keliru, tapi tak
sopan.
Mengapa sebutan kaya dianggapnya tak sopan?
Entahlah. Barangkali ia seorang Pancasilais.
|