Agar Bukan Cuma Besarnya jumlah hutang MNA membuat pemerintah mengambil
keputusan untuk meleburkan perusahaan itu ke dalam Garuda.
Diharapkan prosesnya akan selesai akhir tahun ini. (eb) |
DEMAM merger yang terjadi di hampir semua perusahaan penerbangan
di AS, rupanya merembet juga di Indonesia. Bedanya, kalau di AS
merger itu terjadi gara-gara persaingan di pasaran, maka
leburnya penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) ke dalam
tubuh Garuda, perlu memakai suatu Peraturan Pemerintah (PP).
Maka sejak 26 Oktober lalu, sahlah semua kekayaan (assets) MNA,
dipindahkan ke dalam PT Garuda.
Mengapa harus pakai senjata PP, tentunya disebabkan karena
selain keduanya punya negara, MNA merasa masih bisa berdiri
sendiri. Tapi nyatanya, hutang-hutang MNA yang besar itu,
membuat pemerintah mengambil putusan merger tadi.
Berapa hutangnya, sulit untuk diketahui dengan pasti. Sebab,
seperti kata seorang pejabat Keuangan, neraca MNA sejak zaman
Dir-Ut Santoso di tahun 1974 sampai sekarang, belum lagi
diaudit. Dengan kata lain, belum pernah diperiksa oleh akuntan
negara. Dan setiap tahun, dengan mengambil patokan 1974,
"hutangnya milyaran rupiah," katanya.
Bahwa perusahaan punya negara ditimbun hutang, memang bukan
barang baru di Indonesia. Mulai contoh ekstrim krisis Pertamina,
sampai pada PT HII yang terpaksa dijual pada Sheraton, atau PT
Pelni, perusahaan negara rupanya hidup dengan "kenikmatan"
hutang. Tapi yang jadi pertanyaan adalah: Apakah besarnya hutang
itu karena risiko dagang, atau lebih disebabkan ketidak-beresan
manajemen alias boros? Beberapa pihak yang mengetahui,
berpendapat hal yang kedua itulah yang lebih menonjol.
Dir-Ut MNA Ramli Sumardi mengakui adanya kerugian itu, terutama
dalam penerbangan perintis. Tapi ia menghibur kita, bahwa
"kerugian materiil itu terimbangi dengan keuntungan secara
idiil." Maksud Ramli, selain "keuntungan politis, ideologi,
kesatuan bangsa, keamanan dan sebagainya, juga keberhasilan
membangkitkan potensi daerah", begitulah katanya setelah
diterima Presiden pekan lalu.
Penerbangan Aktentas
Barangkali, di luar Amerika, hanya Indonesialah yang memiliki
banyak perusahaan penerbangan, tak terhitung usaha khusus
seperti taksi udara dan helikopter. Di India misalnya, hanya ada
dua perusahaan penerbangan: Air India sebagai flag carrier dan
Indian Air yang khusus melayani lin dalam negeri. Di Inggeris
juga demikian. Bahkan di Jerman Barat dan Belanda, hanya dikenal
satu perusahaan: KLM. Jepang, di samping raksasa JAL yang milik
campuran pemerintah dan swasta, hanya mengenal All Nippon
Airlines (ANA), di samping satu perusahaan kecil lainnya (feeder
line). Malaysia dan Singapura juga cuma punya satu penerbangan.
Ada anggapan dilarangnya penerbangan bukan Garuda memakai
pesawat jet itulah yang membuat perusahaan sulit bersaing.
Pendapat demikian memang ada benarnya. Memakai pesawat jet DC9
dan Fokker-28 seperti dinikmati Garuda memang lebih ekonomis
daripada harus berpayah-payah pakai Fokker-27, Vickers Viscount
dan pesawat non jet lainnya. Keistimewaan yang didapat Garuda
memang ikut membikinnya sukses. Tapi tentu saja keistimewaan itu
bukan satu-satunya penyelamat. Seorang pejabat yang berurusan
dengan bidang Perhubungan, tidak yakin "kalaupun MNA dikasih
jet, bisa untung." Sebabnya karena faktor lemahnya manajemen
perusahaan itu.
Dalam hal ini rupanya Wiweko dari Garuda lebih dipercaya
Pemerintah. Terkenal pintar menghemat dan keras, hampir-hampir
otoriter, Dir-Ut Garuda yang gemar naik motor dan biasa memakai
mobil VW kodok itu, dianggap berhasil membebaskan perusahaan
penerbangan yang dipimpinnya dari sekedar glamour.
Dan ia yakin pendekatannya benar. Ketika ditanya tentang
perusahaan penerbangan lain, jawabnya: "Kalau pada tahun 1950-an
kita mengeritik pengusaha aktentas (pengusaha yang cuma jual
lisensi - Red.), mengapa sekarang tak kita lakukan terhadap
perusahaan penerbangan aktentas di Indonesia?".
Apakah Garuda bukan aktentas? Sebanyak 60% dari penghasilannya
memang berasal dari dalam negeri. Dalam jumlah uang, sebuah
sumber yang mengetahui, memperkirakan untungnya selama tahun
lalu sama dengan Singapore Airlines, saingannya, yakni US$ 30
juta.
Kini Wiweko harus membangun kembali MNA. Selepas menghadap
Presiden di Bina Graha akhir pekan lalu, ia memang belum
berjanji banyak. Tapi, katanya, di akhir tahun ini juga proses
masuknya MNA ke dalam Garuda sudah akan selesai.
|