Yesus yang tidak misterius Sutradara: franco zeffirelli skenario: anthony burgess, suso
cecchi d'amico resensi oleh: salim said. (fl) |
JESUS OF NAZARETH
Skenario: Anthony Burgess, Suso Cecchi D'Amico & Franco
Zeffirelli
Sutradara: Franco Zeffirelli.
FRANCO Zeffirelli mula-mula menarik perhatian ketika ia membuat
Romeo & Juliet. Kisah cinta ciptaan pujangga Inggeris
Shakespeare itu sebelumnya sudah berkali-kali difilmkan. Tapi
berbeda dengan para pendahulunya, Zeffirelli tampil dengan
sebuah tafsiran baru -- dan menghasilkan film yang remaja,
ringan, manis.
Sekarang filmnya yang baru saja memasuki pasaran Indonesia
Jesus of Nazareth. Adakah yang baru? Pertanyaan ini nampaknya
juga menggoda sang sutradara ketika ia bersiap-siap. Entah
karena kurang yakin dengan kekuatan tafsirannya, atau barangkali
memang ingin menarik lebih banyak perhatian, film yang satu ini
dipenuhi taburan bintang.
Olivia Hussy, bintangnya dalam Roneo Juliet, tetap muncul.
Bersama dengan itu tampil pula Anne Bancroft (Mary Magdalena),
Ernest Borgnine (The Centurion), James Mason (Joseph Arimathea),
Laurence Olivier (Nicodemus), Anthony Quinn (Caiaphas), Rod
Steiger (Pontius Pilatus), Peter Ustinov (Herod yang Agung),
Fernando Rey (Gaspar) dan Michael York (John Pembaptis).
Bukan cuma bintang bintangnya yang bertaburan. Buatan Zeffirelli
yang satu ini pun menggunakan banyak seluloid. Bahkan setelah
mengalami proses pemendekan di Indonesia, tontonan ini masih
memerlukan masa putar tiga setengah jam. Bisa ditebak
panjangnya film ini bersumber pada hasrat pembuatnya untuk
berkisah selengkap mungkin mengenai kehidupan Kristus yang hanya
diketahui secara singkat itu. Itulah agaknya mengapa tontonan
terasa kurang dramatis, kalau tidak malah tunggal nada.
Lebih Manusiawi
Yang jelas tetap menarik adalah permainan para bintang. Kendati
mereka tidak sempat muncul banyak, penampilan yang sesaat
ternyata dimanfaatkan cukup baik. Paling menonjol adalah Rod
Steiger. Sebagai Pontius Pilatus, ia betul berhasil meyakinkan
tentang bagaimana ketidak-acuhan penjajah Romawi terhadap urusan
keagamaan orang Yahudi yang terjajah. Cara ia menghadapi Yesus
-- ketika baru dihadapkan dan setelah dicambuk -- memang
memperlihatkan ketak-acuhan itu.
Tapi inilah yang menonjol dari film itu: Yesus sebagai anak muda
yang sayu, namun berkemauan keras. Yesus yang tampil lewat kabut
misteri dalam film-film sejenis sebelumnya, di tangan Zeffirelli
muncul sebagai manusia biasa yang membawa misi. Juga tokoh-tokoh
lainnya muncul lebih manusiawi. Ketika Yesus di tiang salib,
tatkala turun dari tiang kematian itu -- juga raung ibunya serta
perempuan lain adalah raung orang biasa yang kematian.
Film yang berlokasi di Tunisia dan Maroko ini barangkali juga
harus dipuji lantaran usahanya yang berhasil menampilkan
lingkungan hidup yang lebih mendekati sebenarnya di seputar
Jerusalem. Tatkala Yesus disalib, benteng kota Jerusalem
terlihat jelas di belakangnya. Golgota memang berada di sekitar
dinding benteng, hal yang selama ini dibuat lain oleh sutradara
sebelumnya.
Kontroversial
Bisa diperkirakan kesulitan berat yang dihadapi Zeffirelli dalam
membuat film ini. Ia berhadapan dengan kisah yang dikenal luas,
yang kontroversial, dan berhubungan dengan kepercayaan yang
berusia tua. Meskipun tidak seberat yang dialami Mustafa Aqqad
dalam pembuatan The Message, namun pertimbangan seperti itu
tentulah tak kedapatan dalam pembuatan Romeo & Juliet misalnya.
Dan itulah sebabnya, meskipun menonton Jesus of Nazareth
tidaklah seasyik menyaksikan kedua film yang lain itu, namun
sikap sutradara sendiri terhadap kehidupan Yesus menjadi
penting.
Salim Said
|