Mengejar Kapasitas Per-detik Jaringan pipa air minum di cirebon belum mencukupi. Kebutuhan
akan air bersih hanya dari air warisan Belanda. Pd air minum
Komad Cirebon merencanakan perbaikan 2 reservoir dan perluasan
pipa. (kt) |
WARGA Kota Cirebon yang hampir berjumlah 200.000 itu masih
kekurangan air bersih. Bukan saja karena daya jangkau pipa-pipa
air masih amat terbatas, tapi juga lantaran sumber air yang
tersedia selama ini masih jauh dari mencukupi.
Menurut drs. Soepraptono, Direktur PD Air Minum Cirebon, sampai
saat ini jaringan pipa-pipa air minum baru mencapai 30% saja
dari areal kota. Sehingga, katanya, diperkirakan baru sekitar
45.000 jiwa saja penduduk kota yang menikmatinya.
Satu-satunya sumber air yang ada terletak di Desa Cipaniis
(wilayah Kabupaten Kuningan -- 22 km dari Kota Cirebon). Sumber
yang dibuat Pemerintah Belanda tahun 1930 ini sebenarnya
berkapasitas 1.500 liter per detik. "Tapi baru digunakan 100
liter per detik" ujar Soepraptono. Karena jaringan pipa yang ada
di kota itu belum mungkin menyedot air lebih dari itu. Padahal
menurut Soepraptono, warga kota setiap hari memerlukan tak
kurang dari 450 liter/detik.
Sebetulnya ada 2 buah reservoir air lagi yang hingga saat ini
belum berfungsi. Yaitu di sebelah barat batas Kotamadya Cirebon
dan di Parujakan. Yang pertama dibangun 1960 dengan kapasitas
900 M3 sedang satunya termasuk peninggalan Belanda berkapasitas
2.500 M3. Kedua reservoir ini sudah lama terbengkalai. Tapi
menurut Soepraptono, dalam rangka peningkatan kapastias air
minum untuk kota ini, diharapkan Agustus nanti keduanya sudah
dapat digunakan.
Lebih dari itu pihak PD Air Minum Kotamadya Cirebon rupanya
sudah siap dengan rencana perluasan air minum hingga tahun 2.000
kelak. Rencana ini sebenarnya sudah ada sejak 1970. Dengan biaya
sebesar Rp 6 milyar tahun 2.000 nanti kapasitas air minum kota
ini akan mencapai 900 liter per detik. Untuk itu menurut
Soepraptono, bukan saja jaringan pipa akan mencapai hampir tiap
rumah, tapi juga akan terdapat sumber-sumber air baru.
|