Kebangkitan ukiran dan datuk Ukiran minang dikembangkan lagi sejak gubernur sum-bar harun
zain melemparkan ide memugar istana paga ruyung 10 thn yang
lalu. keahlian dari desa padang magek, menyebar ke iv angkat
dan pandai sikat.(kbd) |
UKIRAN Minang tidak mengenal bentuk benda kecuali bunga," ujar
Abizar Angku Mudo, seorang pengukir muda (35 tahun) dari IV
Angkat Candung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ini menjelaskan
selisih antara gaya Minang, khususnya dalam ukiran rumah adat,
dengan gaya daerah lain. Sekaligus memaparkan juga bahwa seni
ukir tidaklah hanya dimonopoli Jepara dan Bali.
Memang adakalanya kita menemukan bentuk-bentuk spiral yang
memberi asosiasi seperti pucuk bambu, kucing tidur, daun paku
atau benda-benda lain. Tetapi menurut Abizar, itu tidak
disengaja. Mengarah-arah memang ada. Benda-benda itu sendiri
memang ada kalanya menjadi sumber, tetapi kemudian dikembangkan
secara bebas dengan fantasi. "Makin kawakan pengukirnya, makin
tinggi imajinasinya," kata Pakiah Batuah, pengukir dari Pariaman
Tanah Datar yang sudah berusia 65 tahun.
Falsafah hidup orang Minang tersimpul dalam ungkapan 'Alam
terkembang jadikan guru'. Manifestasi sikap ini tidak hanya
tampak pada kegiatan sehari-hari, tetapi juga pada nafas
ukiran. Pendekatan pada alam jelas terlihat pada motif ukiran
seperti jala terserak, kelelawar bergayut, sayik gelamai alias
potongan dodol. Tetapi semuanya menolak bentuk asli.
Tidak diketahui kapan tradisi mengukir itu menyembul. Pada
mulanya adalah Padang Magek, sebuah desa 13 km di sebelah
tenggara kota kecil Batusangkar, ibukota Kabupaten Tanah Datar.
Itu daerah yang jadi pusat kebudayaan Minang. Di zaman lampau
hampir semua rumah gadang para bangsawan Minang memiliki ukiran.
Dinding, tiang, atap yang berbentuk tanduk kerbau, disentuh oleh
para dedengkot dari Padang Magek.
Kini di Padang Magek sendiri pengukir sulit didapatkan. Tapi
para seniman dari IV Angkat dan Pandai Sikat menyebut daerah itu
sebagai guru mereka. Adapun kemunduran seni ukir, juga di sini,
terutama disebabkan oleh amukan atap seng yang menggantikan
ijuk. Apalagi rumah gadang makin tidak disukai, karena orang
merasa lebih nyaman dengan rumah gedung. Keahlian pun menjadi
susut karena kurang keriaan. Sayang ya.
Tetapi 10 tahun terakhir ini, dunia ukir di situ beringas lagi.
Ini gara-gara Gubernur Harun Zain -- sekarang Menteri Nakertrans
-- geregetan. Ia melemparkan ide untuk menegakkan kembali Istana
Pagarruyung. Bangunan istana yang mencontoh istana asli yang
terbakar kira-kira 50 tahun silam itu akan diselimuti ukiran.
Sementara ini, gedung Museum Sumatera Barat di lapangan Tugu
Padang, sudah merupakan contoh permulaan kebangkitan seni ukir.
Maka tukang-tukang ukir itu mulai dapat pasaran lagi. Terutama
waktu sebuah rumah gadang didirikan di Taman Mini Jakarta --
dan para pengukir dari Candung beruntung dipaketkan ke Ibukota.
Cobalah sekarang jalan-jalan ke Padang ukiran sudah ditempelkan
kembali di beberapa buah kantor dan rumah pribadi. Ini juga
terlihat di daerah Solok misalnya. Abizar menyebutkan bahwa
dalam berbagai ukiran tersebut meruap bau lain yang disebut
motif "minang baru". Ini merubah gaya tradisionil: kelok paku
pengukir suka menempelkan bunga-bunga dengan bentuk yang jelas.
"Itu tidak pernah dikenal dalam ukiran Minang asli," kata
Abizar. Sementara ini dapat dikabarkan bahwa para pengikut
aliran Candung menolak gaya tersebut, meskipun untuk pesanan.
Tanah Kewi
Umumnya kayu yang dipakai jenis surian, yang sedikitnya mampu
bertahan 50 tahun. Harganya membubung sekarang -- dan karena itu
amat menguntungkan rakyat pedesaan. Sudah sejak dahulu surian
merupakan penghuni kebun-kebun rakyat. Ia memerlukan sinar
matahari selama 3 bulan sebelum siap diukir. Para pengukir sudah
terbiasa membuat ukiran yang pas dengan rumah -- sehingga tidak
diperlukan pemotongan dalam pemasangan. Untuk itu sedikitnya
diperlukan 3 bulan untuk mempersiapkan.
Ukiran Minang mengenal warna-warni lokal. Tidak mempergunakan
cat biasa. Ada semacam tanah liat yang disebut kewi, yang amat
langka dan sulit didapat. "Tanah kewi tersimpan dalam bongkah
batu," kata seorang pengukir. Mencarinya sungguh merupakan
kerjaan -- apalagi tidak dikenal tradisi jual-beli kewi. "Kami
harus mencari sendiri. Tidak mengenal pinjam dan meminta sesama
pemahat," kata Abizar. Apalagi kewi itu masih harus diramu,
diproses lagi sebelum melahirkan warna. Jadi sama sekali tidak
dipergunakan bahan-bahan kimiawi model toko.
Juga, tidak ada tarif resmi untuk ukiran. Yang ada adalah:
"siapa yang mengukir?" Nah, di situ sudah terbayang harganya.
Tapi sebagai gambaran kasar, harga ukiran per meter bujur
sangkar sebenarnya bisa ditaksir antara Rp 10 ribu sampai Rp 20
ribu. Termasuk ongkos pasang. Ada juga yang dijual per pintu. Di
Candung, sebuah ukiran untuk pintu bisa mencapai Rp 68 ribu. Di
Pantai Sikat bisa lebih murah.
Yang tidak boleh dilupakan, para pengukir Minang -- sebagaimana
juga tukang ukir Bali umumnya -- kebanyakan petani. Mereka tidak
suka memforsir tenaga hanya untuk mengukir. Cinta mereka pada
tanah boleh mengharukan -- sehingga meski pendapatan sebagai
petani tidak lebih besar dari pendapatan seorang tukang ukir,
mereka tidak mau melepaskan tanah. Dengan mudah mereka mengupah
seseorang untuk mengerjakan tanah selama mereka mengukir. Tapi
hal tersebut tidak dilakukan. Kenapa? "Untuk menghindari
kejenuhan dan pula untuk mendapat inspirasi," kata Angku Mudo.
Bisa saja.
Identitas Kaum
Mereka juga tidak begitu memusingkan apakah mereka tergolong
seniman atau tukang. "Terserah saja," kata yang muda seperti
Abizar maupun yang tua seperti Pakiah Batu. Yang jelas ada pola
tertentu dalarn kehidupan ukiran yang memungkinkan setiap orang
dapat mempelajarinya asal berbakat. Pola tersebut, hampir sama
kuatnya dengan adat Minang, tak suka dikhinati. Mereka
menganggapnya sebagai warisan guru, sehingga mereka tidak setuju
untuk dirubah.
Malin Kuning, seorang tukang ukir yang kini berusia 75 tahun
(ayah Abizar) pernah dikagumi di Paris. Pemerintah Belanda
mengirimkan ukirannya untuk menghias paviliun Hindia Belanda di
Pekan Raya Paris tahun 1926. "Paviliun yang diukir ayah saya itu
ditentukan sebagai juara umum," kata Abizar. Tetapi Malin tidak
dapat apa-apa, karena hadiah diberikan kepada Pemerintah
Belanda. Ia hanya mendapat piagam penghargaan dari gubernemen
yang tak ada hubungannya dengan Pekan Raya tersebut.
Malin sekarang masih mampu melukis, walau kesibukannya yang
utama adalah memberi petunjuk. Ia seorang jagoan ukir yang tetap
dihormati karena kehalusan tangannya -- satu hal yang tampaknya
ngebet hendak diwarisi Abizar. Ini menunjukkan betapa nama
manusia di belakang ukiran itu amat diperhitungkan -- walau tak
dicantumkan di situ. Dan itu juga terjadi pada diri Pakiah
Batuah -- yang dalam usianya yang ke-65 tahun juga selalu
diburu-buru kerjaan sekarang. Setiap pesanan biasanya diberi
catatan: Pakiah Batuah yang harus mengerjakan dengan tangan
sendiri.
Perhatian orang pada ukiran sudah tentu karena setiap orang kini
sedang suka menggali identitas kaum. Bukan sekedar membangun
rumah gadang, tapi membangkitkan kembali pusaka leluhur. Di
beberapa daerah di Sumatera Barat, akan kurang terpandang satu
kaum yang punya gelar datuk tanpa memiliki rumah gadang. Dan
rumah gadang yang lebih menarik adalah rumah gadang yang penuh
ukiran bagus, anda tahu.
|