Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/IIIIIIII/13 - 19 Mei 1978
   
Ilmu dan Teknologi

Ac dari matahari

Instalasi penyejuk udara bertenaga matahari sedang dikembangkan di singapura. panas matahari akan menguapkan cairan pendingin yang akan mendinginkan udara. itb pernah mencoba untuk membuat es. (ilt)

30% listrik yang dibangkitkan PLN habis dimakan instalasi
penyejuk udara (air conditioning). Itu di Singapura. Bagaimana
dengan Jakarta, yang tumbuh pesat juga mulai keranjingan AC?

Mungkin saja tingkat 30% itu belum tercapai. Tapi melihat
konstruksi gedung dan rumah tinggal yang bertingkat agak miskin
angin dewasa ini, bisa diduga penggunaan listrik untuk AC
semakin melonjak. Maka apa yang diikhtiarkan di Singapura,
mungkin ada hikmahnya juga bagi Indonesia. Yakni: bagaimana
mendinginkan ruang tertutup kita dengan sinar matahari.

Kedengarannya antara sinar matahari dan udara sejuk seperti
bertolak-belakang. Namun memang itulah yang dikerjakan Dr Chiam
Joon Toong, seorang inshlyur kimia yang bergerak di bidang
instalasi pendingin dan pemanas. Dia bcrpendapat, bahwa
menjelang 1981 AC bertenaga matahari akan dikembangkan secara
besar-besaran di Singapura.

Prinsipnya hampir serupa dengan a-c lisrik Panas sinar
matahari, diserap oleh cairan pendingin (refrigerant) --
misalnya amoniak -- yang kontan menguap. Uap amoniak itu
selanjutnya dialirkan melalui air pendingin hingga mencair lagi.
Seterusnya cairan pendingin yang sudah betul-betul dingin itu
mendinginkan udara yang disedot ke dalam AC tersebut. Setelah
dipompa kembali ke konsentrator yang disinari matahari, siklus
itu berulang kembali.

Pakai Listrik Juga

"Makin panas matahari di luar, makin sejuk udara di dalam
ruangan dibuatnya," kata Dr Chiam, yang juga memasarkan alat
pemanas air bertenaga matahari. Tak berarti, alat itu sama
sekali tak menggunakan listrik. Sebab pemompaan cairan pendingin
kembali ke bak penadah sinar matahari, tetap juga memerlukan
pompa listrik. Hanya saja, kalau AC biasa menggunakan kompresor
bertenaga listrik, maka alat ini mengandalkan tenaga matahari
sebagai pelatuk untuk 'menggenjot' amoniak itu ke dalam
kondensor.

Alat ini hampir mirip prosesnya dengan lemari es yang
'digerakkan' dengan lampu minyak tanah buatan maskapai
Electrolux di Swedia. Cuma saja, dalam AC yang mau dipasarkan
maskapai Selectra di Singapura itu, fungsi lampu sentir
digantikan oleh sinar matahari. Juga, lebih mutakhir dari pada
AC dengan tabir basah dan kipas angin gagasan seorang bekas
pelaut Filipina, meniru hembusan angin laut.

"Dewasa ini, ongkos pemasangan dan harga alatnya sendiri mungkin
masih terlalu mahal. Tapi kalau harga listrik terus membubung,
AC bertenaga matahari ini akan menjadi lebih ekonomis," begitu
keyakinan Chiam.

Di Indonesia, pemikiran untuk membuat penyejuk udara bertenaga
matahari seperti itu mungkin belum ada. Tapi riset ke arah itu,
sudah dirintis Pusat Teknologi Pembangunan ITB dengan pembuatan
alat pembuat es bertenaga matahari. Alat itu juga menggunakan
cairan pendingin seperti amoniak, yang digenjot melalui
pipa-pipa sempit -- sehingga suhunya anjlok sampai di bawah 0øC
--oleh sinar matahari yang difokuskan dengan cermin parabola.
Jadi kalau mau, anak buah Dr Filino Harahap di ITB itu bisa saja
merancang penyejuk udara bertenaga matahari seperti bikinan
Singapura itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data