LSWR Indonesia: Mati Angin Ekspor LSWR (Low Sulphur Waxy Residue) ke Jepang dan AS
menurun. Pertamina akan mengatasi dengan meningkatkan ekspor
LNG dan mendirikan hydrocracker untuk mengurangi impor
minyak.(eb) |
PARHIMPUNAN Siregar, Kepala Sub Direktorat Pemasaran LN
Pertamina, merasa pusing juga mengurus penjualan bahan bakar
LSWR dari Indonesia. Tahun lalu, ketika musim dingin panjang
melanda AS, arus ekspor jenis minyak itu yang digunakan untuk
pembakaran langsung (direct burning) pabrik-pabrik di sana masih
lancar. Setiap hari ekspor LSWR (low sulphur waxy residue) ke
Jepang dan Pantai Barat AS rata-rata masih 114.000 barrel
sehari. Tapi tagihun ini sang musim rupanya tak menguntungkan
buat Indonesia. Bagi Amerika dan Jepang, udara panas yang
membuat banyak orang senang, juga sangat menguntungkan bagi
industri di sana, karena tak perlu terlalu tergantung pada LSWR
itu.
"Ekspor LSWR itu memang angin-anginan," kata Siregar. Dalam
suatu intepiu dengan TEMPO pekan lalu dia tak melihat mulai
mengalirnya minyak dari Alaska sebagai saingan. Selain kadar
belerangnya yang tinggi, menurut Siregar, hasil minyak dari
Alaska itu tak dengan sendirinya cocok untuk digunakan bagi
industri di sana. "Tapi musim itulah yang merupakan sebab
utama," katanya.
Permintaan akan LSWR itu memang tampak menurun sekali dalam
tahun ini. Pabrik-pabrik di Amerika -- terutama di California -
-mulai beralih kepada penggunaan tenaga air yang jauh lebih
murah, karena musim panas sekarang memungkinkan penggunaan
hydro. Tak kurang dari tiga konsumen besar di California telah
memutuskan untuk menggenjot penggunaan hydro dalam tahun ini.
Maskapai Southern California Edison dan Pacific Gas Electric di
California bahkan memperkirakan bisa menekan pemakaian gas alam
karena musim yang baik sekarang (lihat grafik).
Banyak Disukai
LSWR merupakan bagian dari hasil produksi kikang-kilang
Pertamina di Riau yang menyuling minyak mentah dari lapangan PT
Caltex Pacific Indonesia (CPI). Dikenal sebagai Minas crude
atau Sumatran Light crude, jenis minyak mentah yang berkwalitas
tinggi itu memang banyak disukai para pembeli di Jepang dan AS.
Sampai sekarang ekspor minyak mentah dari sumur-sumur Caltex
yang rata-rata memompa 833.000 barrel sehari itu memang
berjalan lancar. Tapi yang menjadi soal buat Pertamina adalah
bagian Minas yang harus dikilang di Indonesia. Setiap barrel
Minas menghasilkan tak kurang dari 550 LSWR.
Di tengah kesulitan menjual LSWR itu, Pertamina masih bisa
mengekspor bahan bakar itu rata-rata sebanyak 90.000 barrel
sehari, terutama ke Jepang. Sejumlah 20.000 barrel dari jumlah
itu malah diekspor ke Pantai Timur Amerika, karena ada
permintaan dari sana. Tapi menurut Siregar, spot sales yang ke
Pantai Timur itu diperkirakan menurun karena usainya pemogokan
buruh tambang batubara di AS.
Dengan demikian kilang-kilang minyak di Riau tentunya akan lebih
mengerem produksinya. Pabrik pengilangan Pertamina yang di Dumai
belakangan ini sudah mengurangi kapasitas produksinya. Sedang
kilang minyak di tepi Sungai Pakning, Riau, untuk sementara
ditutup.
Dir-Ut Pertamina Piet Haryono, dalam interpiu dengan TEMPO pekan
lalu, belum bisa menjawab kapan kiranya kilang di Pakning itu
bisa dibuka kembali. Tapi diakuinya masalah LSWR itu akan makan
waktu lama kalau tak dilakukan pemecahan secara sekaligus.
Bagaimana? Menurut Piet, jalan keluar yang kini sedang
dipikirkan adalah dengan mendirikan sebuah proyek hydrocracker:
sebuah proyek raksasa yang menelan US$ 680 juta (lihat
Wawancara).
Selain butuh banyak uang, rencana mendirikan proyek raksasa itu
akan meminta waktu beberapa tahun sebelum bisa digunakan untuk
mengolah (memecah) LSWR menjadi bahan bakar untuk digunakan
dalam pabrik-pabrik di Indonesia. Kalau pasaran di Pantai Barat
kini menurun, maka tinggal kebaikan dari Jepang saja yang
agaknya masih diharapkan.
Harapan itu kabarnya timbul ketika Menteri Industri dan
Perdagangan Internasional (MITI) Jepang, Toshio Komoto
berkunjung ke Jakarta awal Mei ini. Kepada para pejabat ekonomi
Indonesia, Knmoto sudah memberikan jaminan bahwa negerinya tak
akan mengurangi impor minyak dari Indonesia, baik sekarang
maupun untuk tahun-tahun mendatang.
Jepang: Ke LNG
Jepang sejak dulu merupakan pembeli utama minyak Indonesia. Dari
rata-rata 1,4 juta barrel ekspor minyak Indonesia sehari, porsi
Jepang tak kurang 60% dari jumlah itu selama 1977. Tapi Komoto
tak bicara soal LSWR. Dia rupanya lebih tertarik kepada produksi
LNG (gas alam cair) dari lapangan Bontang di Kalimantan yang
sudah diekspor ke Jepang. Komoto bahkan menyambut perluasan
proyek LNG yang dibiayai dengan bantuan swasta Jepang itu.
Sekembali di negerinya, utusan PM Fukuda itu tentunya akan
membujuk para pemakai LSWR di Jepang untuk menambah pembeliannya
dari Indonesia. Tapi sementara itu industri di Jepang tampaknya
makin suka memakai LNG, yang berkadar polusi paling rendah
hingga kurang menimbulkan protes masyarakat. Selama tahun 1977,
Jepang tercatat sebagai pembeli LNG terbesar di dunia. Sebanyak
75% pembeliannya datang dari Asia Tenggara, terutama Malaysia
dan Indonesia.
Kegemaran Jepang memakai LNG dalam waktu-waktu mendatang tidak
mustahil akan menyaingi penggunaan minyak mereka yang 90% masih
datang dari Timur Tengah. Tapi diam-diam ekspor LNG dari
Indonesia -- yang juga digunakan bagi pembakaran langsung di
sana -- telah menggeser kedudukan LSWR. Barangkali itu sebabnya
Indonesia ingin cepat punya pabrik hydrocracker.
|