Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/IIIIIIII/13 - 19 Mei 1978
   
Catatan Pinggir

Kesulitan bagi uni soviet & cina

Menurut seorang penulis marxis, indonesia merupakan "lautan borjuis kecil". kesulitan soviet & cina yaitu antara meningkatkan pertanian & mengurangi hak petani/borjuis dalam suatu kediktaturan proletariat.

ADEGAN terakhir dari film Tujuh Samurai karya sutradara
Kurosawa: 12 Pertempuran telah selesai. Pagi mekar. Tadi malam
seluruh pasukan bandit yang berbulan-bulan lamanya memeras
petani dipukul hancur oleh ketujuh samurai sewaan. Para petani
kini bisa menanam padi kembali dengan menyanyi.

Tapi di bukit-bukit sana, ada empat kuburan yang ditandai dengan
empat pedang yang dihunjamkan ke tanah: milik dari empat
kesatria yang gugur dalam pertempuran. "Yang menang adalah para
petani," begitu gurnam, samurai tertua yang masih hidup, seraya
berjalan meninggalkan dusun itu.

Ketika film ini dicoba diadaptasikan menjadi Magnificent Seven
dengan menampilkan jago-jago tembak gaya Western Amerika di
tengah dusun petani Meksiko, yang tersisa hanyalah kehebatan
perkelahian. Suatu segi yang sedih tapi tak terelakkan dari film
Kurosawa rasanya hanya bisa dituangkan lewat latar sejarah
sosial Jepang: pudarnya kasta samurai dari permukaan yang antik,
dan munculnya kelas baru yang pada mulanya adalah para petani.

Para samurai dalam film Kurosawa itu pun sisa-sisa yang tengah
merasakan hilangnya status mereka. Mereka tak lagi punya tempat
mengabdikan diri. Mereka hidup mengembara sebagai ronin, lapar,
terserak-serak, hingga akhirnya datang serombongan petani yang
meminta tolong pada mereka -- dengan menawarkan bayar -- untuk
melawan teror para bandit. Para petani itu, yang selama ini tak
ada harganya di mata klas samurai itu, ternyata memiliki
kelebihan yang kemudian berguna bagi zaman baru. Mereka tak bisa
bertempur. Mereka tak punya gaya. Tapi mereka tahu artinya
menabung bagi hari esok, dan tahu soal bayar membayar.

Mereka itulah kaum burjuis. Dalam penggunaan kita di Indonesia
lazimnya kata "burjuis" tidak biasa dikaitkan dengan bapak dan
ibu tani. Kita lebih sering mengkaitkan pengertian "burjuis"
dengan kekayaan yang menyolok di kota, dengan perut buncit dan
kepala penuh mesin hitung. Kita suka membayangkan petani kita --
yang bekerja begitu keras, dengan perhitungan ekonomi yang sudah
berakar di kepala dan di otot -- seakan-akan para pnyayi kota
yang melihat sawah hanya sebagai tempat istirahat. Atau, kalau
tidak, kita menyamaratakan petani kita dengan proletariat desa
yang tak punya alat produksi.

Kita lupa bahwa kaum Marxis pun menyebut petani itu sebagai
burjuasi. Melihat kenyataan mereka di Indonesia seorang penulis
Marxis bahkan pernah mengatakan bahwa Indonesia merupakan
"lautan burjuis kecil". Itulah sebabnya dalam teori revolusi
mereka, kaum Marxis dalam tahap pertama tidak memandang burjuasi
itu sebagai lawan. Justru sebagai kawan. Dan itu pulalah salah
satu kesulitan yang harus dihadapi pemerintahan komunis seperti
di Uni Soviet dan Cina: bagaimana menyelesaikan masalah
pertanian -- antara meningkatkan produksi dengan mengurangi hak
individuil petani, alias burjuasi, dalam suatu kediktaturan
proletariat.

Tak mengherankan bila di negeri kita pun ada dugaan, bahwa
produksi pangan tak cukup berarti naiknya lantaran kaum tani tak
cukup didengarkan kepentingannya. Bumi tak cukup luas diolah
atau digunakan secara ekonomi. Buat apa berhektar tanah untuk
peternakan kuda -- yang hanya dinikmati keindahannya bagaikan
akuarium? Bukankah itu bukti bahwa kita masih kepingin jadi
aristokrat, yang punya style, kemegahan, kenikmatan, keindahan
tapi sebenarnya tak acuh pada soal produktifitas? Bukankah itu
pertanda kita belum bersemangat petani yang burjuis?

Entahlah. Burjuasi, seperti setiap kelompok atau lapisan sosial,
punya batas. Tapi barangkali benar apa yang ditunjukkan oleh
sejarawan Charles Moraze dalam Les Bourgeois Conquerants, sebuah
buku yang ingin melukiskan epos kelas menengah, epos ilmu,
peruntungan baik dan juga keserakahan. Kata Moraze "Burjuasi
abad ke-sembilan belas Eropa menaklukkan dunia bukan karena
mereka kelas menengah atau karena mereka orang Eropa, melainkan
karena mereka lebih mampu ketimbang para pemimpin dari bagian
dunia yang lain .... "

Dalam film Kurosawa, para samurai dikubur atau tetap rombeng.
Tapi para petani menyanyi. Dan Jepang bangun dari sana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data