Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/IIIIIIII/13 - 19 Mei 1978
   
Buku

Kartini, lewat soemandari

Jakarta: gunung agung, 1977 (bk)

KARTINI, SEBUAH BIOGRAFI
Oleh:. Sitisoemandari Soeroto
Penerbit: PT Gunung Agung, Jakarta
1977. 447 halaman.

TATAPAN mata Kartini langsung dan menawan. Matanya besar, hitam
dan penuh perasaan di dalamnya seolah-olah mengandung sesuatu
pertanyaan yang halus." Ini adalah kesaksian Ny. H. de Booy
Boissevain, isteri seorang pembesar Belanda -- seperti dimuat
dalam Kartini, Sebuah Biografi oleh Sitisoemandari Soeroto.

Seterusnya: "Aku sangat kagum padanya. Apalagi setelah ia
menceritakan bahwa puteri-puteri ningrat seperti mereka, tidak
diperbolehkan untuk keluar pada kesempatan umum, dan bahwa
mereka hanya boleh meninggalkan rumah di samping seorang suami
yang sangat mungkin baru saja mereka lihat. Tetapi ayah mereka
telah menyimpang dari adat kuno dan membawa serta mereka pergi
ke Batavia. "Apalagi saya ini sudah perawan tua," kata Kartini
yang umurnya 21 tahun itu. "Saya toh tidak akan kawin." (Hal.
2)

Ada lebih dari 15 judul buku telah terbit tentang Raden Ajeng
Kartini. Sebagian besar ditulis dalam bahasa Belanda, beberapa
dalam bahasa-bahasa Inggeris dan Perancis, sedang dalam bahasa
Indonesia beberapa buah saja. Yang terakhir itu bisa dicatat:
buku cilik Hoeroestiati Subandrio (almarhumah) dengan judul
sederhana: Kartini (Jambatan, Jakarta, 1950). Buku Armyn Pane
terjemahan kumpulan surat Kartini yang diterbitkan J.H.
Abendanon -- tokoh yang pada tahun 1900 diangkat jadi Direktur
Departemen Pendidikan, Kerajinan dan Agama dari Pemerintah
Kolonial.

Biarpun tidak semua surat Kartini diterbitkan dalam Door
Duisternis tot Licht itu, yang oleh Armyn diberi judul sama:
Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka 1962 (misalnya
Stella hanya menyerahkan 14 buah surat, itupun oleh Abendanon
tidak diterbitkan semua) usaha Abendanon dianggap pembuka jalan
ke arah pengenalan fikiran Kartini.

Pramudya Ananta Toer dalam pada itu menulis Panggil Aku Kartini
Sadja (NV Nusantara, Bukittinggi -- Jakarta 1962). Adapun buku
Soemandari, bekas wartawan harian Suluh Indonesia ini, memang
lebih lengkap. Ia mengerjakannya selama empat tahun, dengan
mengadakan wawancara misalnya dengan R.A. Kardinah Reksonagoro,
seorang yang masih hidup dari Tiga Serangkai (Kartini, Rukmini,
Kardinah) sebelum meninggal di tahun 1971.

Nota Kartini

Berdasar arsip-arsip dan buku yang dikirim teman-teman
Soemandari dari Negeri Belanda (terutama Rob Nieuwenhys), buku
Sitisoemandari memuat hal-hal yang sebelumnya tidak pernah
ditulis dalam bahasa Indonesia. Ada misalnya 'Nota Kartini'.
Nota yang berjudul 'Berilah Pendidikan kepada Bangsa Jawa' itu
dikatakan punya peranan penting dalam perobahan sejarah politik
Hindia-Belanda. Nota tersebut, cukup menggegerkan Parlemen
Belanda di tahun 1903, ditulis Kartini dalam usia 24 tahun.

Padahal Si 'Jaran Kore' (kuda liar) dari Jepara ini (Kartini
dipanggil demikian, karena semasa gadis cilik suka
melompat-lompat dan tertawa keras, hal yang tidak patut
dilakukan gadis priyayi tinggi), hanya mendapat pendidikan resmi
sampai ELS. Kemudian dipingit mulai usia 12,5 tahun. Tapi dia
suka buku-buku misalnya Max Havelaarnya Multatuli (yang sudah
diterjemahkan HB Jassin), buku-buku Couperus dan sajak-sajak de
Genestet.

Dari pihak penjajah sendiri, Kartini dianggap "contoh terbaik
hasil pendidikan Belanda kepada kaum inlander." Kartini sendiri
-- yang fasih bicara Belanda dan kurang faham Bahaya Melayu --
sering mengeluh karena orang Belanda begitu hina pandangannya
terhadap bangsa pribumi.

Keluarga Bupati Jepara Sosroningrat, yang hidup dalam pergaulan
dan tata cara Barat, rupanya banyak mendapat kecaman juga.
Seperti yang ditulis Kartini untuk sahabatnya, Stella: "Orang
sering mengatakan bahwa kami di dalam hati lebih Belanda
daripada Jawa. Tuduhan itu membuat kami prihatin! Mungkin kami
dibenami oleh pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan Barat, namun
darah kami, darah Jawa yang hidup dan mengalir hangat dalam
pembuluh darah kami, tak mungkin ditiadakan." (Hal. 110).

Akhirnya Pasrah

Buku Soemandari membagi-bagi jalan kehidupan Kartini. Pada
bagian konflik di Kabupaten Jepara ada ditulis waktu Kartini
dengan menyala-nyala dan mata bersinar-sinar menceritakan
gagasan yang berkaitan dengan emansipasi di Dunia Barat, Ayunda
Soelastri memotong dengan nada dingin "Masa bodoh! Aku sih orang
Jawa!" (Hal. 65).

Juga pembicaraan Abendanon dan Kartini di Pantai Jepara (yang
oleh Tiga Serangkai disebut Klein Scheveningen, dan ini nama
pantai di Negeri Belanda dekat Den Haag! red.) yang
menghasilkan batalnya niat Kartini untuk belajar ke Negeri
Belanda walaupun Pemerintah Kolonial sudah menyetujui.
Sehubungan dengan ini Kartini sendiri pernah menulis -- dengan
mata takjub seorang gadis yang ingin maju di awal abad 20, yang
untuk ukuran sekarang sudah tentu menimbulkan perasaan risi: "Di
sini orang meremehkan wanita yang tidak kawin! Kami ingin ke
Eropa, karena Eropa akan membebaskan kami. Eropa akan melindungi
kami dengan perisai baja sehingga kami menjadi kebal terhadap
serangan dan ejekan orang-orang yang pandangannya kerdil." (Hal.
178).

Tetapi Kartini akhirnya harus pasrah -- ketika menerima lamaran
dari Bupati Rembang Djojoadiningrat, duda dari dua garwa padmi
yang telah meninggal. Runtuhlah daya tahan jiwanya, wanita muda
yang bisa melukis dan juga membatik, yang kekuasaannya hanya
sampai di bidang moral. Apalah yang bisa diperbuat seorang gadis
yang di zaman itu sudah masuk usia 24 tahun, dan belum menikah!

Kartini diboyong, dan jadi raden ayu di Kabupaten Rembang. Dia
senang bisa mendidik enam orang anak tiri, tapi muak oleh
kunjungan audensi feodalistis dari para punggawa untuk mengambil
hati. Kabupaten Rembang tidak seramah Kabupaten Jepara. Semuanya
serba tidak cocok dengan jiwa wanita yang penuh cita-cita ini.
"Lingkungan itu sangat berlainan dari apa yang ia bayangkan,"
demikian keterangan Soetijoso Tjondronegoro XVII, masih
kemenakan Kartini, kepada si pengarang buku. Perkawinan itu
"sedikit banyak ada juga paksaan," kata Soetijoso. Ayah Kartini
sendiri sebenarnya tidak begitu rela melepaskan Kartini menikah
dengan duda yang umurnya berbeda jauh ini. Apalagi kemudian
diketahui bahwa di kabupaten tersebut, masih ada 3 orang isteri
selir Bupati .... Padahal Kartini dikenal anti poligami.

Dan bagaimana Kartini meninggal? Soemandari mencatat: tanggal 13
September 1904 bayinya lahir, laki-laki, kemudian diberi nama
Raden Mas Soesalit. Tanggal 17 September, dr. van Ravesteyn
datang lagi untuk memeriksa dan dia tidak mengkhawatirkan
keadaan Kartini. Bahkan bersama-sama mereka minum anggur untuk
keselamatan ibu dan bayi.

Tidak lama setelah Ravesteyn meninggalkan Kabupaten, Kartini
tiba-tiba mengeluh sakit dalam perutnya. Ravesteyn, yang sedang
berkunjung ke rumah lain, cepat-cepat datang kembali. Perobahan
kesehatan Kartini terjadi begitu mendadak, dengan rasa sakit
yang sangat di bagian perut. Setengah jam kemudian, dokter tidak
bisa menolong nyawa pemikir wanita Indonesia yang pertama ini.

Pembunuhan? Racun? Guna-guna? Tentang hal ini, Soetijoso
Tjondronegoro berpendapat: "Bahwa Ibu Kartini sesudah melahirkan
puteranya, wafatnya banyak didesas-desuskan, itu mungkin karena
intrik dalam Kabupaten. Tetapi desas-desus itu tidak dapat
dibuktikan. Dan kami dari pihak keluarga juga tidak mencari-cari
ke arah itu, melainkan menerima keadaan sebagaimana faktanva dan
sesudah dikehendaki oleh Yang Mahakuasa" (Hal. 393). Semuanya
akhirnya berkesimpulan, menurut bahasa elite waktu itu: Laat de
doden met rust (biarkan yang meninggal jangan diganggu).


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data