Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/IIIIIIII/29 April - 05 Mei 1978
   
Lingkungan

Minyak Tumpah Di Mulut Selat Malaka

Kapal tanker Aegis Leader kandas di Selat Malaka dan minyak mentah tumpah ke laut. Deterjen yang biasa dipakai untuk membersihkan minyak lebih berbahaya karena dapat menutupi plankton sebagai makanan ikan.(ling)

ADA kesibukan tambahan di perairan Selat Singapura dan Selat
Malaka. Para ahli Jepang dan petugas Singapura sedang sibuk
memasang rambu laut dan alat elektronik, menggantikan peralatan
lama warisan sebelum PD II. Semua peralatan baru itu bertujuan
mengamankan Rencana Pemisahan Lalu-lintas (Traffic Separation
Scheme--TSS) vang telah disetujui ketiga negara pantai yang
berbatasan plus Jepang sebagai pemakai paling kerap. Semuanya
itu merupakan buntut pencemaran 5000 ton minyak mentah yang
bocor dari tanker raksasa Showa Maru yang kandas dekat pulau
Batam, setelah Tahun Baru 1975.

Pemilik Showa Maru sendiri telah membayar 1,2 juta dollar AS
sebagai ganti rugi pencemaran pantai Malaysia, Singapura dan
Riau. Kapten kapal tanki raksasa tersebut juga dinyatakan
bersalah--tak mengikuti kebiasaan navigasi --sehingga dihukum
skorsing tak boleh menakhodai kapal selama satu bulan.

Toh kecelakaan tanker masih tetap terjadi. 23 Maret lalu, Atase
Perhubungan RI di Singapura, Captain Rasjid sampai jam satu
malam masih berada di kantornya. Didampingi beberapa orang
stafnya, dia harus tetap siap karena diperoleh kabar sebuah
kapal tanki berbendera Yunani, Aegis leader dengan bobot mati 87
ribu ton kandas antara pulau londo dan pulau Weh di mulut
gerbang masuk Selat Malaka,hanya 16 mil timur-laut pelabuhan
bebas Sabang. Sebetulnya tempat itu hanya 20 km dari mercu suar
Willemstoren. Jadi nakhoda kapal semustinya masih dapat melihat
cahaya mercu suar tersebut.

Bahaya Deterjen

Yang dikhawatirkan Captain Rasjid, adalah pengotoran lingkungan.
Pada waktu berita diterima, sudah 550 ton minyak tumpah ke laut.
Rajid segera mengirim laporan kilat via teleks-sandi ke Jakarta,
a/n Duta Besar. Juga Belawan dan Sabang dihubungi, agar siap
sedia. Berikutnya sang Atase memberikan izin berlayar ke tempat
kecelakaan kepada perusahaan penolong Selco Salvage, atas dasar
wewenang waktu SAR.

Selain urusan pertolongan awak kapal, masih ada lagi urusan
pembersihan laut dari kotoran minyak. Dari malapetaka-malapetaka
sebelumnya -- seperti SowaMaru--diketahui bahwa deterjen yang
dipakai buat memberantas gumpalan minyak malah lebih berbahaya
dari pada minyak itu sendiri.

Deterjen tersebut bercampur dengan minyak yang tumpah,
mengikatnya, lalu tenggelam. Tapi residu yang tenggelam itu
malah menutupi plankton, hingga biota laut itu kekurangan zat
asam dan mati. Dengan matinya kehidupan plankton itu, ikan-ikan
turut mati karena kehabisan makanan -- kalau tak keburu
melarikan diri. Nelayan-nelayan Perancis misalnya, bukan main
ruginya karena penggunaan deterjen untuk mengikat ribuan ton
minyak yang bocor dari tanker Amoco'adiz yang patah dua dekat
pantai Bretaxne.

Pengalaman itu kini jadi bahan pelajaran. Orang mulai mencari
dan menggunakan bahan kimia lain seperti Osda N dan Corcxit 100
Bahan kimia tersebut dapat mengikat minyak, menyulapnya menjadi
busa yang tetap mengambang sehingga dapat diciduk. Bukannya
tenggelam ke dasar lautan. Cara ini telah disetujui di
mana-mana--tapi sayangnya bahannya sendiri belum tentu tersedia
stoknya.

Mengingat bahaya-bahaya nyata supertanker, pemerintah Indonesia
tak mau ambil risiko dalam pelaksanaan TSS di Selat Malaka.
Sebagai pemakai paling kerap, Jepang telah minta dispensasi agar
supertankernya yang mempunyai under keel clearance kurang dari 3
1/2 meter masih tetap diizinkan berlayar di Selat Malaka dan
Selat Singapura. Namun Indonesia tetap mempersilakan kapal-kapal
tersebut putar haluan ke Selat Lombok dan Selat Makassar
yang-lebih lebar dan dalam.

Kabarnya, jawaban para pemilik kapal Jepang masih menunggu
keputusan tingkat menteri di Tokyo. Sebab masalahnya bukan soal
teknis (dan ekonomis) saja, tapi juga politis.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data