Hadiah Paskah Bagi Prancis Kapal tangki Amoco-Cadiz yang bermuatan minyak mentah menabrak
karang di perairan barat laut Prancis. Menggenangi laut dan
membunuh burung dan ikan. Pemerintah prancis tak mampu
mengatasinya. (ling) |
PERTENGAHAN Maret yang lalu, dunia maritim dikejutkan lagi oleh
kecelakaan kapal tangki minyak di pesisir Perancis. Koresponden
TEMPO di Paris, Noorca M. Massardi sempat mengirimkan laporan
tentang musibah itu, walaupun agak terlambat sampai di Jakarta.
Hanya seminggu setelah kandasnya supertanker Amoco-Cadiz di
pantai Bretagne, Perancis Utara itu, terjadi kecelakaan tanker
dalam skala lebih kecil di perairan Sabang di mulut utara Selat
Malaka. Dari Singapura, korespomlen TEMPO Khoe Hak Liep segera
mengikuti kesibukan Atase Perhubungan RI di sana menghadapi
kecelakaan tanker Aegis Leader itu. Berikut ini, berturut-turut
laporan dari Paris dan Singapura:
TIBA-TIBA rakyat Bretagne di pesisir barat-laut Perancis jadi
gempar. Kesibukan nelayan terhenti. Penduduk Portsall, pelabuhan
kecil yang kaya akan hasil kerangnya, gemetar. Kebangkrutan dan
musnahnya penghasilan utama mereka sudah tampak menghantu. Di
Kamis 16 Maret itu sebuah supertanker Amoco'adiz bermuatan 233
ribu ton minyak mentah retak di atas pulau karang, sejajar
dengan muka laut. Minyak hitam, kental dan bau, tampak meronta
dan tumpah ke laut lepas.
Padahal tanker milik Amoco Transport Company dari Chicago yang
berbendera Liberia itu hanya beberapa ratus meter saja jauhnya
dari pantai. Sehingga minyak yang dengan sigap merambat sejauh
puluhan kilometer sempat membunuh burung camar, ikan dan kerang,
serta menyeret bangkai dan jasad setengah modar berlepotan
minyak ke pinggir pantai.
Itulah bencana serupa keempat kalinya bagi kota pantai itu
selama 11 tahun ini. Hampir di tempat yang sama, tanker Torrey
Canyon, lalu Olympic,Bravery dan Bohlen kandas menumpahkan
minyaknva ke pantai Bretagne. Di sela-sela kesibukan pemilihan
anggota badan legislatif Perdana Menteri Raynlond Barre dan
Presiden Giscard d'F staing sempat berkunjung ke tempat itu.
Giscard, yang segera menyatakan malapetaka di pantai utara
Perancis itu sebagai "bencana nasional," menjanjikan ganti rugi
secukupnya bagi penduduk. Tapi penduduk Bretagne tak lantas
merasa lega. Mengingat pengalaman sebelumnya, sumbangan itu jauh
lebih kecil nilainya dari pendapatan mereka sehari-hari -- yang
terenggut oleh minyak Itu.
"Setiap kali terjadi malapetaka, setiap kali itu pula kita
menggunakan ember dan sekop lagi," ujar seorang penduduk kota
pantai itu. Dia merasa pemerintahnya nyaris tak melakukan
apa-apa selama 11 tahun terakhir, semenjak pengalaman mereka
diperkaya dengan tiga insiden tanker sebelumnya.
Jalan Raya yang Terlalu Dekat
Dari penyelidikan pertama diketahui bahwa tanker yang celaka
berada di dalam batas laut teritorial Perancis. Sepanjang laut
Manche dan laut Utara itu memang terentang sebuah "jalan raya
khayal" sepanjang 18 km yang khusus digunakan kapal dari selatan
menuju pelabuhan-pclabuhan di perairan Mance.
Kini."jalan raya" itu dirasa terlampau dekat dengan pantai.
Sehingga konsekwensi kecelakaan sulit dihindari. Makanya
Perancis tahun lalu telah mengusulkan kepada IMCO, Org-anisasi
Maritim Internasional yang bernaung di bawah PBB, agar
"menggeser" jalan raya itu sedikit lebih jauh dari pantai. IMCO
setuju, tapi realisasinya belum ada.
Pada hari libur Paskah di minggu terakhir Maret itu para polisi
segera berjaga-jaga sepanjang pantai. Sebab nyatanya, daya tarik
pemandangan super tanker yang terkapar itu memang luar biasa
Disorot sinar lembayung matahari senja, pasir pantai dan karang
laut tampk berkilauan dan hitam penuh minyak yang ditaburi
bangkai-bangkai burung sebagai korban pertama. Para lelaki,
wanita bahkan anak-anak dengan sepatu bot tahan air dan badan
berbungkus jas hujan lusuh sibuk mengayunkan sekop membersihkan
pantai pasir sumber hidup mereka.
Tiap kali, ombak datang lagi membawa kotoran minyak baru. Tapi
mereka tetap tak jera. Di sanalah mereka berdiri, di atas lumpur
minyak, memandang bangkai tanker raksasa dengan pandangan mata
tak percaya. Padahal bau air laut tercemar minyak mentah itu
sudah dapat tercium sampai puluhan kilometer ke pedalaman.
Maklumlah, hari itu luas genangan minyak sudah mencapi 35 km di
utara pelabuhan Portsall di mana kapal itu kandas.
Tiba-tiba, cuaca berubah dengan cepat. Ombak tak henti-hentinya
menggempur bangkai kapal, merobek-robek perut kapal yang semakin
menganga. Didorong angin dan arus laut, minyak itu
berlomba-lomba berpacu ke timur ke arah Morlaix. Hari Minggu
minyak sudah mencapai Plouescat. Selasa sampai Roscoff, dan
Kamis minyak sudah mencapai Perros-Guirec, juga sepanjang pantai
Granit Rose. Tak satu kekuatan pun sangup menaklukkan genangan
minyak. Kecuali teluk sepanjang Cotentin.
Kalah Tiga Perempat
Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Kepala pelabuhan Portsall
sebelumnya telah berfikir untuk membakar saja kapal beserta
muatannya. Fikiran itu mendapat sokongan dari seluruh penduduk
Portsall yang lebih suka bertindak keras dari pada menderita
lama-lama. "Bakar! !" teriak seorang nelayan tua sembari menatap
tanker di kejauhan dengan mata nanar.
Untung tindakan itu tak sampai terjadi. Sebab kontan saja para
ahli pencemaran laut berhamburan ke Portsall sebelum penduduk
jadi nekad. Mereka menjelaskan: bagaimana kalau tanker raksasa
itu meledak? Tentu akan lebih ngeri akibatnya. Tahun 1967
Inggeris telah mencoba membombardir bangkai tanker Torrey Canyon
dengan fosfor. Akibatnya: hanya sebagian minyak terbakar
beberapa jam saja, sedang selebihnya sebanyak 30 ribu ton
justeru menyerbu pantai Bretagne. Dan gara-gara pembakaran
timbul awan panas hitam yang gelembung-gelembungnya jatuh
sebagai hujan arang di pasir pesisir.
Dalam perang melawan polusi laut itu Perancis telah kalah tiga
perempat bagian. Pompa-pompa penyedot yang rak dimiliki Perancis
harus didatangkan dari AS, tapi truk pengangkutnya mengalami
kecelakaan dulu dalam perjalanan dari lapangan terbang. Pompa
itu pun baru bisa dipasang setelah angin reda dan ombak jinak.
Tentu saa dengan menggunakan helikopter.
Hari Rabu hampir seminggu setelah kandasnya supertanker itu,
satuan Polmar (Pollution Maritime) nyaris patah semangat. Mereka
hanya bisa menunggu kapan minyak sebanyak 230 ribu ton
betul-betul tandas dari perut kapal. Tak sampai di akhir pekan,
kapal raksasa itu benar-benar patah dua digenjot ombak dan
pasang. Bendungan karet apung di Morlaix yang menjaga jangan
sampai taman kerang di sana dicemari pula, nyaris tak ada
gunanya sama sekali.
Sebelas tahun sejak bencana Torrev Canyon, Perancis belum bisa
berbuat apa-apa. Teknik hanya sedikit berkembang. Dan ketika
alat-alat yang menjanjikan cara pembersihan yang revolusioner
datang, jumlahnya terlalu sedikit hingga tak mampu berlomba
melawan waktu. Musibah Amoco{adiz itu telah menunjukkan sekali
lagi, bahwa bilamana sebuah kapal tanki minyak menjadi korban
kecelakaan, sejak saat itu kontrol sudah mustahil. Maka
satu-satunya cara mengatasi pencemaran laut model begini, adalah
mencegah kecelakaan tanker. Berarti, harus ada peraturan maritim
yang lebih menjamin keselamatan pelayaran--dan betul-betul
dihormati, tentunya.
|