Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/IIIIIIII/22 - 28 April 1978
   
Ilustrasi

Kisah Wiraswasta Dari Sanjai

Goreng singkong diiris tipis-tipis dijual di bukittinggi dinamai krupuk sanjai. Yang berdagang umumnya amai-amai, wanita setengah baya, biasa juga jual nasi kapau, dimana yang makan, memilih sendiri lauknya. (ils)

BIARPUN umurnya sudah setengah abad, tapi nama panggilannya
mengingatkan orang akan nama seorang gadis kecil: Upik.
Selendang yang melilit di kepalanya dengan tangan yang cekatan
melayani pembeli, Upik bisa digolongkan sebagai wiraswasta kecil
yang berhasil. Di bawah payung lebarnya Upik menaruh sebuah meja
yang sarat dipenuhi tumpukan krupuk Sanjai yang menggunung.

Krupuk Sanjai di Pasar Atas Bukittinggi cukup terkenal. Rasanya
gurih, digigit gempi dan yang pasti, siapa yang mencomotnya,
mulut tak akan berhenti mengunyah, sebelum krupuk itu punah.
Bahan dari krupuk yang selalu ada di sepanjang musim ini,
sederhana dan murah. Dari ubi kayu, kalau orang Sumatera Barat
menyebutnya. Orang Jakarta menyebutnya singkong.

Amai-Amai

Singkong yang telah dikupas ini kemudian diiris tipis-tipis. Di
seputar Bukittinggi, pengirisannya belum masinal seperti di
Jakarta sini. Biarpun begitu, mutu irisan tidak kalah dengan
mesin. Bagi tangan yang telah terbiasa mengiris singkong jadi
lempengan-lempengan tipis ini bukan pekerjaan berat. Direndam
dan diberi garam, irisan ubi kayu ini kemudian digoreng. Yang
menggorengpun harus seorang ahli. Krupuk atau keripik singkong
ini matang dan minyak tak boleh melekat di lempengannya.

Di Pasar Atas Bukittinggi puluhan wanita tua dan muda usia
menjual makanan kecil macam ini. Begitu tersohornya keripik
singkong ini bagi orang Sumatera Barat, merekapun kemudian
menamakannya krupuk Sanjai dari nama kota kecil 3 km dari
Bukittinggi. Sanjai memiliki wanita-wanita yang beken bisa
mengolah krupuk dari ubi kayu ini jadi keripik yang gurih dan
nyaman dimakan. Sehingga Bukittinggi bukan saja terkenal sebagai
kota Jam Gadang, tapi banyak pula yang menyebutnya sebagai kota
krupuk Sanjai.

Pedagang makanan kecil seperti keripik ubi kayu, emping (dari
padi ketan yang ditumbuk bersama kulitnya sampai tipis), kerupuk
kerak-keling (bentuknya seperti angka 8) dan makanan kecil
lainnya, banyak dijual di sepanjang los Pasar Atas. Tapi yang
paling menonjol ya keripik ubi kayu inilah. Biasanya orang sana
menyebut berdagang macam ini dilakukan oleh amai-amai. Amai
adalah panggilan umum untuk seorang wanita yang setengah baya.
Sebab umumnya hanya wanita yang menjual makanan kecil ini.

"Lumayan enaknya," kata Upik, "tapi tak semua orang bisa bikin
kerupuk seenak kerupuk Sanjai." Karena orang Sanjai biasa
memilih ubi kayu yang baik. "Ubinya mesti gurih, lembut dan
halus waktu digoreng," tambah Upik lagi. Dan mereka selalu
mengambil ubi kayu dari Gadut, sebuah kampung kecil 5 km dari
Bukittinggi. Di Gadut ada tanah seluas 50 ha lebih penuh oleh
tanaman ubi kayu ini. Juga pada sebidang tanah rata yang dulunya
adalah lapangan terbang kecil. Harga singkong satu pedati penuh
antara Rp 25 sampai Rp 30 ribu. Dan produksi singkong dari Gadut
ini tak pernah mubazir, karena pembelinya selalu ada, sementara
penjual krupuk Sanjai juga tak pernah kecewa karena selalu ada
pembeli yang ketagihan. Walhasil, dagangan selalu lestari
sepanjang masa.

Upik misalnya, telah melakukan pekerjaan ini selama 35 tahun.
Anaknya kini telah 8 orang. Dimulai ketika dia berumur 15 tahun,
di saat dia tamat sekolah rendah di kampungnya itu. Ibu Upik
telah membawa anaknya ini duduk berjualan di bawah payung besar.
Setelah Upik bisa mandiri dalam berjualan dia memegang seluruh
roda perdagangan.Kalau ditanya dari siapa ibunya mendapat
pelajaran berdagang makanan kecil ini, Upik akan menjawab dari
neneknya. Siapa yang mengajar neneknya berdagang kerupuk Sanjai
ini, pasti akan dijawab dari ibu neneknya. Begitulah seluruh
keluarga dari pihak wanita berjualan kerupuk Sanjai. Dan jadilah
mata pencaharian ini semacam mata pencaharian turunan. Upik
sendiri kini telah membawa seorang anaknya perempuan untuk
membiasakan diri membantu ibunya berjualan .

"Galeh ko sudah warisan," kata Zubaidah yang kini jadi ibu dari
enam orang anak, yang sejak berusia belasan tahun juga sudah
duduk di bawah payung gede di Pasar Atas. Nini yang masih
berusia 20 tahun mengaku hal yang sama. Kepandaiannya berdagang
ia dapat dari ibunya. Nini waktu itu masih berumur 10 tahun.
Setiap pulang sekolah, Nini selalu mampir di tempat ibuhya
berjualan. Tadinya membantu sedikit-sedikit. Rupanya dia
keenakan bergelimang duit dan sekolahnya di Sanjai
ditinggalkannya karena dia lebih sering nongkrong di Pasar Atas
Bukittinggi. Menjelang usia 18 tahun, baru dua tahun yang silam,
kemudi perdagangan telah bisa diopernya. Nini jadi orang
pertama. Ibunya kini tinggal duduk-duduk mengawasi dari
belakang.

Menggoreng kerupuk singkong ini biasanya dilakukan senja hari.
Tidak jarang, penggorengan berakhir di waktu subuh. Upik,
Zubaidah atau pedagang lain biasanya cuma mengawasi
pekerja-pekerja mereka yang mengiris dan menggoreng singkong
tersebut. Kwalitas tetap harus dijaga. "Artinya jangan terlalu
putih dan juga jangan terlalu jingga," tutur Zubaidah. Satu
pedati ubi kayu biasanya berbobot 300 kg. Ini menyedot minyak
kelapa sekitar 4 blek dengan harganya sekitar Rp 8.000. Dari
Sanjai, keripik diangkut ke Bukittinggi dengan bendi atau oplet.
"Kami membawanya tidak dengan karung, tapi ketiding," kata Nini.
Ketiding, arti lain dari bakul.

Biasanya, si tauke sebagai manajer tidak mengiris dan menggoreng
sendiri. Rata-rata mereka memiliki dua orang pegawai dengan gaji
rata-rata Rp 500 sehari tiap orang. Keuntungan bisa diraih untuk
pedagang kecil jenis ini. Ini bisa dilihat dari Nuryani
misalnya, salah seorang pedagang yang telah memiliki kompor gas.
"Sebab kalau dengan kayu bakar, habis Rp 2.500," ujar Nuryani.
Sedangkan kalau dengan kompor gas, cukup mengeluarkan uang Rp
1000 saja untuk sepedati ubi kayu.

Kalau hari baik--terutama pada hari pasar, Rabu dan Sabtu --
mereka bisa menjual dua ketiding besar kerupuk Sanjai tiap hari.
Ini berarti sekitar 40 kg. Harga tiap kilogram Rp 300, selain
boleh membeli eceran, ada pula bungkusan setengah dan sekilo.
"Biasanya pembeli datang dari luar kota atau kota lain," kata
Nini.

Ternyata, dari bawah payung para amai ini mengalir uang puluhan
ribu. Bagi yang dagangannya bermodal besar, tinggi pula
penghasilannya. "Penghasilan mereka lebih besar ketimbang
kami,"kata seorang pemilik toko di Pasar Bertingkat Bukittinggi.
Kewajiban mereka sebagai pedagang tidak seberat seperti mereka
yang memiliki toko permanen. Sewa payung cuma Rp 100 sehari,
bayar uang kebersihan juga tidak begitu memberatkan. Bahkan
banyak yang berpendapat, penghasilan mereka lebih besar
ketimbang bapak-bapak yang jadi pegawai negeri di kantoran.

Mereka semua tinggal di rumah permanen dibuat dari tembok. Sutan
Rangkayo Basa yang jadi pedagang tekstil di Bukittinggi
menimpali: "Lihat saja di Sanjai, rumah-rumah gedung yang baik
itu, amai-amai keripik Sanjai yang punya." Bahkan seorang amai
yang juga berjualan nasi kapau baru saja membeli rumah baru
dengan harga Rp 4 juta, dekat bioskop Gloria.

Ringgit Kesuksesan

"Ya, artinya hidup kami cukuplah," sela Upik si penjual keripik.
Tapi inipun harus dibayar dengan bangun pagi-pagi, tidur jauh
malam dan di pasar harus bersaing dengan pedagang lain. Pulang
ke rumah nyaris malam hari.

Selain membeli, rumah baru atau mendandani rumah ada lagi
ciri-ciri lain untuk bisa menangkap bagaimana seorang wiraswasta
dari Sanjai berhasil. Di tubuh amai yang tua itu, biasa
bergantungan segala macam perhiasan dari emas Di kebaya
bergantungan beberapa buah ringgit emas. Kuping tampak mencorong
karena ada sinar batu permata yang mirip berlian. Belum di jari
tangan, di lengan, dan emas dalam berbagai bentuk perhiasan.
"Nyaris seperti toko berjalan," ujar seorang bapak yang
nongkrong di warung nasi kapau.

Bagi mereka yang mempunyai uang sisa setelah dipotong oleh rumah
gedung dan perhiasan, biasanya membeli sawah. Tidak ada
seorangpun yang memikirkan bahwa sebaiknya uang itu
didepositokan. "Saya tak tahu apa artinya itu,"kata seorang aman
Lantas, di mana dan apa kerja para suami mereka? "Tinggal tenang
di rumah," jawab seorang pejabat Balaikota Bukittinggi,
"paling-paling membantu sedikit-sedikit." Nyonya rumah dalam
rumahtangga Minangkabau memang memegang peranan pentmg, di mana
garis keibuan adalah pusat dari segala adat.

Mana Suka

Dari bawah payung atau tenda para amai yang puluhan itu,
terpancar cermin keuletan dan keberhasilan. Orang Sumatera Barat
memang terkenal sebagai pedagang yang tangguh, ketimbang
pedagang-pedagang dari suku lain. Selain keripik singkong,
emping yang dibuat dari beras pulut (ketan) juga banyak digemari
orang. Untuk soal emping ini, ada spesialisnya yang berasal dari
Pasanehan Lasi. Penduduk dari kampung ini berjualan emping
sampai ke Payakumbuhatau Padang, kalau sedang tidak musim
bertanam di sawah.

Satu takar kecil emping cukup murah. Cuma Rp 60. Rata-rata bisa
menjual 200 takar seharinya. Di sana itu ada pula emping
beginian ini yang dicampur dengan cendol. Makanan kecil yang
namanya emping ini cukup banyak jasanya. Ketika zaman
dar-der-dor dulu, banyak pemuda (juga beberapa pemudi) yang
selain menyandang bedil, ada pula membawa bungkusan kecil.
Isinya emping. Kalau tidak ketemu nasi, emping ini tahan untuk
ganjal perut dan dimakan dengan gula aren. Mereka yang akan
berjalan jauh, juga membawa emping. Tak terkecuali para jemaah
haji yang bertolak ke Mekah. Ada pula jenis emping lain yang
disebut emping dadih. Ini dibuat dari susu sapi yang diendapkan
selama beberapa hari.

Makanan lain yang populer ialah nasi Kapau. Nyaris sama dengan
makanan Sumatera Barat lainnya, "nasi Kapau ini mempunyai ciri
yaitu dimakan bersama sayur yang aneka ragam," kata Medinar yang
sudah puluhan tahun berdagang nasi kapau. Lauk pauknya biasanya
dijajar bagai digelar saja di bawah payung tempat mereka
berjualan. Bagi yang akan makan, silahkan memilih mana lauk yang
diingininya.

Upik yang berdagang nasi kapau ini memang berasal dari Kapau
sekitar 20 km dari Bukittinggi. Dulunya, mereka tidak menjual
secara nongkrong begini. Tapi berjaja sebagai pedagang keliling.
Dengan ketiding ibu Upik (yang kini telah almarhumah) membawa
nasi kapaunya keliling jalan. Yang membeli biasanya orang-orang
di pasar, di toko atau mereka yang tak sempat makan di rumah.
Setelah dagangannya semakin dicari orang, ibu Upik yang bernama
Malan itu membuka kedai kecil di bawah pohon beringin. Upik
sendiri waktu mulai turut ibunya berjualan nasi kapau baru
berumur 13 tahun. Kini dia telah 51 tahun dan setiap hari mampu
menghabiskan empat bakul nasi dengan imbalan puluhan ribu
rupiah.

Pernah di zaman Jepan,,, Upik berjualan secara berjaja lagi,
tapi kini dengan tenangnya dia berdagang di tempat khusus nasi
kapau yang telah ditentukan pemerintah daerah. Nasi kapau si
Upik ini memang banyak dicari orang. Pembantunya saja silih
berganti dan ini bukan berarti berhenti secara tak terhormat.
"Mereka itu datang ketika gadis, dan berhenti setelah kawin,"
kau Upik.

Biasanya, para pembantu Upik yang menikah "sayalah yang membayar
hutang," kata Upik. Artinya "Sayalah sebagai ganti ibu bapak si
gadis, termasuk biaya kenduri dan keperluan peralatan calon
pengantin." Rupanya, jodoh para pembantu Upik bertemu juga
ketika pemuda-pemuda itu makan di warung nasi Kapau si Upik.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data